Perbedaan Puasa Arafah dan Tarwiyah: Waktu, Bacaan Niat, dan Pahalanya

AKURAT.CO Menjelang hari-hari istimewa dalam bulan Dzulhijjah, umat Islam di berbagai penjuru dunia mulai mempersiapkan diri untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk melaksanakan puasa sunnah. Di antara puasa yang sangat dianjurkan adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.
Meskipun keduanya sering dikerjakan secara berurutan menjelang Idul Adha, ada perbedaan mendasar dari segi waktu pelaksanaan, lafal niat, hingga keutamaan yang terkandung di dalamnya.
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum wukuf di Arafah. Kata "Tarwiyah" sendiri berasal dari kata "rawa–yurawwi", yang berarti merenung atau mengambil bekal air.
Pada masa lalu, para jamaah haji mengisi hari ini dengan mempersiapkan segala perlengkapan menuju Arafah, termasuk mengambil air dalam jumlah cukup untuk perjalanan spiritual yang panjang.
Sementara itu, puasa Arafah dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan hari wukuf di Padang Arafah bagi jamaah haji.
Baca Juga: Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah 2025: Lengkap dengan Jadwal dan Keutamaannya
Keduanya memiliki keutamaan masing-masing, namun puasa Arafah lebih populer karena disebutkan secara khusus dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw.
Dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sebuah imbalan pahala yang luar biasa, apalagi bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Sementara itu, puasa Tarwiyah meskipun tidak memiliki dalil sahih sekuat puasa Arafah, tetap dilakukan oleh banyak umat Islam sebagai bentuk semangat dalam menyambut hari besar keagamaan, dan sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa ini memiliki keutamaan menghapus dosa setahun sebelumnya.
Dari sisi niat, kedua puasa ini memiliki bacaan niat yang berbeda sesuai dengan hari pelaksanaannya. Untuk puasa Tarwiyah, niatnya adalah:
"Nawaitu shauma yaumi at-tarwiyah sunnatan lillahi ta'ala."
Artinya: Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta'ala.
Sedangkan niat puasa Arafah berbunyi:
"Nawaitu shauma yaumi ‘arafah sunnatan lillahi ta'ala."
Artinya: Aku niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala.
Kedua niat ini dianjurkan dibaca sejak malam hari atau sebelum terbit fajar, namun jika seseorang lupa dan belum makan apa pun sejak subuh, maka masih diperbolehkan niat hingga sebelum waktu zuhur, sesuai dengan kebolehan berniat puasa sunnah dalam Islam.
Secara spiritual, puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi sarana untuk menyucikan diri sebelum menyambut hari raya kurban. Ibadah ini seakan menjadi pendakian ruhani menuju puncak keikhlasan, sebagaimana para jamaah haji yang sedang menapaki puncak ibadahnya di Arafah.
Bagi umat yang tidak berhaji, dua hari ini menjadi momentum penting untuk merenung, mengisi hari dengan amal saleh, dan memperbaiki hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
Baca Juga: Kenapa Ada Puasa Sunah Tarwihah dan Arafah? Ternyata Begini Sejarahnya yang Akurat!
Dengan melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah, seorang Muslim tidak hanya mengejar pahala yang dijanjikan, tetapi juga meneladani semangat dan keikhlasan para pendahulu dalam menunaikan ibadah.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, ibadah semacam ini menjadi oase untuk kembali kepada esensi spiritualitas yang murni.
Maka, ketika dua hari mulia ini tiba, sudah sepantasnya setiap Muslim menyambutnya dengan antusias. Bukan sekadar rutinitas, tetapi sebagai kesempatan berharga untuk membersihkan diri dari dosa, mendekat kepada Tuhan, dan mempersiapkan jiwa untuk menyambut hari raya dengan hati yang lapang dan penuh syukur.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










