Trending Anak Gajah Tertabrak Truk, Ini Peran Penting Gajah dalam Sejarah Peradaban Islam

AKURAT.CO Peristiwa memilukan datang dari Perak, Malaysia, ketika seekor anak gajah mati tertabrak truk saat menyeberang jalan bersama induknya.
Video yang merekam detik-detik setelah kecelakaan itu viral di media sosial, menunjukkan sang induk yang setia berdiri di samping tubuh anaknya yang tak lagi bernyawa. Tragedi ini menyentuh sisi kemanusiaan dan mengundang empati lintas batas negara.
Namun lebih dari itu, kejadian ini memantik refleksi: sejauh mana kita memahami dan menghargai peran gajah dalam sejarah peradaban Islam?
Gajah, dalam lanskap Islam klasik, bukan hanya hewan besar yang kuat, tetapi juga pernah memainkan peran penting dalam beberapa catatan sejarah yang membentuk kesadaran kolektif umat.
Salah satu momen paling monumental yang melibatkan gajah adalah peristiwa penyerangan Ka'bah oleh pasukan Abrahah, yang diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surat Al-Fil.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” (QS. Al-Fil: 1)
Pasukan bergajah itu dipimpin oleh seorang gubernur Kristen dari Yaman bernama Abrahah, yang ingin menghancurkan Ka'bah untuk mengalihkan pusat ziarah ke gereja megah di Sana'a. Ia membawa bala tentara besar dengan kekuatan utama seekor gajah besar bernama Mahmud.
Namun dalam narasi Qur’ani, usaha ini digagalkan oleh kekuasaan Allah melalui burung-burung Ababil yang melemparkan batu dari tanah terbakar. Pasukan itu hancur total. Gajah, dalam hal ini, menjadi ikon dari kekuatan besar yang tidak mampu menandingi kehendak ilahi.
Bahkan, seperti disebutkan dalam berbagai tafsir, sang gajah menolak berjalan ke arah Ka'bah, menunjukkan bahwa makhluk Allah yang paling besar sekalipun bisa tunduk pada fitrah spiritual yang suci.
Baca Juga: Viral Anak Gajah Tertabrak Truk, Apa Hukum Menyakiti Binatang dalam Islam?
Dalam sejarah militer Islam, gajah juga dikenal sebagai simbol kekuatan militer. Beberapa kekuatan non-Arab seperti Persia dan India yang pernah berinteraksi atau berperang dengan umat Islam dikenal menggunakan gajah dalam peperangan.
Salah satu contoh terkenal adalah dalam Perang Qadisiyyah antara pasukan Muslim dan Kekaisaran Sassanid Persia pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Gajah-gajah tempur Persia sempat membuat pasukan Muslim kewalahan, sebelum akhirnya taktik adaptif yang brilian membuat umat Islam meraih kemenangan besar.
Dalam konteks ini, gajah menjadi representasi dari tantangan luar biasa yang dihadapi umat Islam dalam menaklukkan imperium dunia saat itu.
Namun menariknya, meskipun gajah pernah menjadi musuh dalam konteks perang, Islam tidak menjadikan binatang ini sebagai simbol kebencian atau makhluk yang harus dihindari.
Sebaliknya, dalam banyak khazanah Islam, gajah tetap diakui sebagai ciptaan Allah yang memiliki keagungan dan kekhasan tersendiri. Dalam seni, sastra, dan catatan perjalanan, gajah digambarkan sebagai makhluk yang pintar, sosial, dan memiliki daya ingat luar biasa.
Beberapa catatan geografi dan zoologi dalam dunia Islam klasik seperti dalam kitab Hayat al-Hayawan karya Ad-Damiri, menyebut gajah sebagai hewan yang memiliki daya ingat tinggi, sangat setia, dan bisa merasakan kesedihan dan kehilangan—persis seperti yang tergambar dalam video viral dari Malaysia.
Ini menunjukkan bahwa pengetahuan Islam tentang gajah bukan hanya mitos, tapi berdasar pada observasi yang serius dan penuh rasa hormat terhadap ciptaan Allah.
Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran gajah juga merefleksikan interkoneksi peradaban Islam dengan dunia luar.
Islam bukan agama yang berkembang dalam isolasi, tetapi berinteraksi dengan dunia yang beragam, termasuk dengan budaya dan fauna dari Afrika, Asia Selatan, dan Timur Jauh—daerah-daerah di mana gajah menjadi bagian penting dari ekosistem dan budaya lokal.
Dari interaksi inilah Islam membangun satu peradaban yang terbuka, inklusif, dan menghargai keragaman makhluk hidup.
Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Hari Raya Waisak yang Tidak Melenceng dari Syariat Islam
Maka, ketika seekor anak gajah mati tertabrak truk dan kita semua bersedih, sesungguhnya kita sedang diingatkan kembali: bahwa dalam sejarah kita sendiri, gajah bukanlah sosok asing. Ia adalah bagian dari kisah suci, bagian dari pertempuran peradaban, dan bagian dari sistem ekologi yang menjadi tanggung jawab moral umat Islam.
Tragedi ini seharusnya membangkitkan kesadaran baru. Bahwa pelestarian satwa bukan sekadar urusan aktivis lingkungan, tetapi juga bagian dari etika Islam.
Bahwa gajah—yang dulu ikut hadir dalam awal mula kenabian Muhammad SAW—kini sedang memanggil kita, bukan dengan teriakan perang, tapi dengan tangisan duka. Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










