Akurat

Bolehkah Umat Islam Meyakini Adanya Hari Raya Waisak?

Fajar Rizky Ramadhan | 12 Mei 2025, 07:00 WIB
Bolehkah Umat Islam Meyakini Adanya Hari Raya Waisak?

AKURAT.CO Pertanyaan mengenai boleh tidaknya umat Islam meyakini adanya Hari Raya Waisak merupakan isu yang sensitif sekaligus penting untuk dijawab secara tepat, terutama di tengah masyarakat majemuk seperti Indonesia.

Pada dasarnya, isu ini menyentuh dua ranah berbeda yang seringkali tercampur dalam pemahaman publik: pertama, pengakuan atas eksistensi sebuah perayaan keagamaan dalam tatanan sosial dan kenegaraan; kedua, keyakinan terhadap kebenaran nilai-nilai keagamaan yang mendasari perayaan tersebut.

Dalam Islam, persoalan keyakinan merupakan perkara yang sangat prinsipil. Umat Islam diwajibkan untuk meyakini bahwa hanya Islam yang merupakan agama yang benar dan diridhai Allah. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين

"Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Ali Imran: 85)

Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak diperkenankan untuk mempercayai kebenaran ajaran agama lain dalam hal akidah dan sistem keyakinan.

Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Hari Raya Waisak yang Tidak Melenceng dari Syariat Islam

Maka, apabila yang dimaksud dengan meyakini Hari Raya Waisak adalah mengimani bahwa ajaran Buddhisme yang melandasi perayaan tersebut benar secara teologis, maka hal itu jelas bertentangan dengan prinsip dasar akidah Islam.

Namun demikian, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Islam tetap dituntut untuk bersikap adil, toleran, dan menghormati hak-hak pemeluk agama lain.

Indonesia sebagai negara Pancasila mengakui enam agama resmi, termasuk Buddha, yang memiliki hak untuk menjalankan ibadah dan merayakan hari-hari besarnya, termasuk Waisak.

Dalam konteks ini, umat Islam boleh saja mengakui adanya Hari Raya Waisak sebagai fakta sosiologis dan legal-formal, tanpa harus meyakini kebenaran ajaran di baliknya.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتُقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam membolehkan hubungan sosial yang baik dengan pemeluk agama lain, termasuk dalam hal menghormati eksistensi hari besar mereka. Namun, batas yang harus dijaga adalah bahwa penghormatan ini tidak boleh mengarah pada pembenaran keyakinan mereka atau mengaburkan identitas keislaman.

Baca Juga: Konferensi ke-19 PUIC Akan Perkuat Komitmen Dunia Islam untuk Palestina

Dengan demikian, umat Islam tidak boleh meyakini Hari Raya Waisak sebagai kebenaran teologis yang sah menurut Islam. Akan tetapi, mengakui keberadaan Hari Raya Waisak sebagai bagian dari kehidupan masyarakat plural dan menghormatinya dalam kerangka sosial serta konstitusional adalah hal yang dibolehkan, selama tidak melanggar batas akidah.

Sikap inilah yang merepresentasikan prinsip moderasi beragama (wasathiyah), di mana seorang Muslim dapat bersikap toleran tanpa harus mencampuradukkan keyakinan.

Islam tidak melarang keterbukaan sosial, tetapi tetap menuntut kejelasan posisi dalam urusan keyakinan. Inilah bentuk kedewasaan beragama yang sepatutnya dikembangkan dalam masyarakat modern dan beradab.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.