Mau ke Dokter Kandungan? Ini 5 Tips Islami Agar Tidak Terjebak pada Pelecehan Seksual
AKURAT.CO Zaman sekarang, perempuan yang hendak memeriksakan diri ke dokter kandungan seringkali dihadapkan pada dilema: antara menjaga kesehatan reproduksi dan menjaga kehormatan diri.
Di satu sisi, pemeriksaan ginekologi memang perlu, terutama bagi perempuan yang sedang hamil, mengalami gangguan haid, atau menghadapi masalah hormonal.
Tapi di sisi lain, tak sedikit berita dan testimoni yang beredar soal pelecehan seksual terselubung oleh oknum tenaga medis.
Data mencengangkan datang dari WHO (2021) yang melaporkan bahwa 1 dari 3 perempuan di seluruh dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual, dan ironisnya, sebagian terjadi di lingkungan medis.
Di Indonesia sendiri, Lembaga Bantuan Hukum APIK mencatat bahwa laporan pelecehan seksual oleh tenaga kesehatan meningkat, terutama setelah pandemi. Banyak korban tidak berani bersuara karena malu, takut tidak dipercaya, atau khawatir dicap “berlebihan”.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai Muslimah? Apakah harus menghindari dokter kandungan? Tentu tidak. Justru dalam Islam, menjaga kesehatan adalah bagian dari amanah yang harus ditunaikan.
Tapi Islam juga mengajarkan adab, kehati-hatian, dan perlindungan terhadap diri. Maka, berikut ini 5 tips Islami agar kamu bisa konsultasi ke dokter kandungan tanpa takut terkena pelecehan—logis, syar’i, dan tetap realistis.
Baca Juga: Paula Verhoeven Disebut Terbukti Selingkuhi Baim Wong, Apa Hukum Istri Selingkuh dalam Islam?
1. Utamakan Dokter Kandungan Perempuan
Dalam Fiqh al-Nisa’, para ulama menjelaskan bahwa menjaga aurat di depan lawan jenis adalah prinsip dasar dalam Islam.
Jika ada dokter perempuan yang kompeten, maka itulah pilihan utama. Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam kitab Fatwa Kontemporer menegaskan bahwa wanita sebaiknya memeriksakan diri kepada dokter perempuan demi menjaga aurat dan mencegah fitnah. Kalau dokter perempuan penuh atau tidak tersedia, maka pendampingan jadi wajib.
Data dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menyebutkan bahwa sekitar 48% dokter spesialis kandungan saat ini adalah perempuan—artinya peluang untuk memilih masih sangat terbuka.
2. Datang Bersama Mahram atau Teman Kepercayaan
Dalam HR. Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, kecuali yang ketiganya adalah setan.”
Ini bukan bentuk kecurigaan berlebihan, tapi langkah pencegahan yang sangat rasional. Kehadiran mahram atau teman bisa menjadi safeguard untuk mengurangi potensi penyalahgunaan kuasa oleh tenaga medis.
Secara psikologis, kehadiran orang ketiga dalam ruang pemeriksaan juga menciptakan tekanan sosial yang bisa mencegah pelaku melakukan tindakan tak pantas.
3. Pahami Prosedur Medis dan Hak Pasien
Jangan biarkan dirimu jadi pasien pasif. Dalam Permenkes No. 69 Tahun 2014 tentang Kewajiban Rumah Sakit, disebutkan bahwa pasien berhak mendapatkan informasi tentang tindakan medis yang akan dilakukan. Termasuk kapan harus membuka aurat, alat apa yang digunakan, dan untuk tujuan apa.
Kamu boleh bertanya, mencatat, bahkan menolak prosedur yang dirasa janggal atau tidak perlu. Sikap kritis bukan berarti tidak sopan, tapi bagian dari hifz al-nafs—menjaga diri yang merupakan salah satu dari maqashid al-syari’ah (tujuan syariat).
4. Berdoa dan Minta Perlindungan Sebelum Pemeriksaan
Doa bukan sekadar ritual. Ini adalah spiritual defense system. Rasulullah SAW mengajarkan doa sebelum memasuki tempat yang asing atau berpotensi menimbulkan fitnah:
“A’udzu bikalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaq.” (Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.)
Doa ini bukan hanya mengundang perlindungan Allah, tapi juga menciptakan awareness bahwa kamu sedang dalam situasi yang butuh kewaspadaan.
Baca Juga: 30 Ucapan Idul Fitri 2025 Islami dan Tetap Kekinian, Bisa untuk Caption Medsos yang Menyentuh Hati
5. Laporkan Bila Terjadi Pelanggaran—Jangan Diam
Banyak perempuan merasa bersalah atau malu melapor karena takut dianggap “salah paham”. Padahal, menurut UU TPKS No. 12 Tahun 2022, bentuk pelecehan seksual bisa sekecil sentuhan yang tidak dibenarkan atau komentar yang menjurus pada tubuh pasien. Dokumentasikan kejadian, simpan bukti, dan segera konsultasikan ke lembaga pendamping hukum atau pengaduan RS.
Ingat, diam bukan emas dalam hal ini. Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi.” (HR. Bukhari). Melaporkan pelanggaran adalah bentuk menolong perempuan lain agar tidak jadi korban berikutnya.
Akhirnya, pergi ke dokter kandungan bukanlah hal yang tabu. Islam tidak melarang perempuan memeriksakan tubuhnya demi kesehatan. Tapi Islam juga tidak kompromi soal kehormatan dan keselamatan. Dengan 5 tips Islami di atas, kamu bisa tetap sehat tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kehormatan diri.
Tetap kritis, jangan ragu bertanya, dan yang paling penting: jangan pernah merasa bersalah untuk menjaga dirimu sendiri. Kamu berharga. Dan kamu berhak mendapatkan perawatan medis yang profesional, aman, dan bebas dari pelecehan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









