Akurat

7 Langkah Efektif Mencegah Pelecehan Seksual terhadap Anak menurut Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 28 Juli 2025, 07:30 WIB
7 Langkah Efektif Mencegah Pelecehan Seksual terhadap Anak menurut Islam

AKURAT.CO Kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak adalah tragedi kemanusiaan yang semakin marak dan memprihatinkan.

Banyak dari korban tidak mampu bersuara, bahkan tak menyadari bahwa dirinya sedang dilecehkan.

Ironisnya, pelakunya sering kali berasal dari lingkungan terdekat: keluarga, tetangga, guru, atau tokoh yang seharusnya menjadi pelindung.

Islam sebagai agama rahmat menaruh perhatian besar terhadap perlindungan anak-anak, bukan hanya dari aspek fisik, tetapi juga mental dan moral.

Dalam Islam, anak-anak adalah amanah yang harus dijaga dan dilindungi dari segala bentuk keburukan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut ini tujuh langkah efektif yang dapat diambil orang tua dan masyarakat Muslim untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anak-anak, berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

1. Tanamkan Konsep Aurat Sejak Dini

Langkah pertama adalah mengajarkan kepada anak bahwa tubuhnya adalah kehormatannya. Islam menetapkan batasan aurat secara jelas, dan orang tua berkewajiban mengenalkan ini sesuai usia dan kemampuan anak. Mereka harus tahu bagian tubuh mana yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain, bahkan oleh orang yang dikenal.

Allah SWT berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَـٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya.'" (QS. An-Nur: 30)

Anak-anak perlu diajarkan bahwa tubuh mereka berharga, dan mereka punya hak untuk berkata “tidak” saat merasa tidak nyaman. Ini adalah fondasi membentuk batas diri (personal boundaries) yang kokoh secara syar’i.

2. Terapkan Adab Meminta Izin Masuk ke Kamar Orang Tua

Islam telah lebih dahulu memberikan protokol perlindungan privasi dalam rumah tangga. Dalam Al-Qur’an, terdapat perintah agar anak-anak yang belum baligh meminta izin sebelum masuk ke kamar orang tuanya pada waktu-waktu tertentu:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا۟ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَـٰثَ مَرَّٰتٍۢ...

"Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki dan anak-anak yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari)..." (QS. An-Nur: 58)

Ini adalah bentuk pendidikan sopan santun dan penguatan privasi yang sangat penting dalam mencegah pelecehan dan meminimalkan risiko anak-anak terpapar sesuatu yang tidak pantas.

Baca Juga: Nonton Video yang Mengundang Syahwat, Apa Hukumnya dalam Islam?

3. Ajarkan Adab Interaksi Fisik Sejak Kecil

Sering kali pelecehan bermula dari sentuhan fisik yang dibungkus dalam bentuk candaan atau perhatian. Anak-anak perlu diajarkan bahwa tidak semua bentuk pelukan, ciuman, atau sentuhan itu pantas, terutama dari orang yang bukan mahram. Dalam Islam, adab pergaulan laki-laki dan perempuan dijaga ketat demi kehormatan.

Nabi SAW bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

"Sungguh, lebih baik seseorang ditusuk di kepalanya dengan jarum dari besi daripada ia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya." (HR. Thabrani)

Dari sini kita belajar pentingnya mengajarkan bahwa kontak fisik dengan lawan jenis harus dijaga, bahkan sejak anak-anak.

4. Batasi Akses Anak terhadap Media yang Tidak Sehat

Banyak anak yang menjadi korban bukan hanya karena ulah pelaku, tapi juga karena sebelumnya telah terdampak oleh konten media yang merusak.

Tayangan, iklan, dan game yang menampilkan tubuh, sensualitas, atau kekerasan dapat menurunkan sensitivitas anak terhadap pelecehan. Oleh sebab itu, orang tua perlu membatasi akses anak terhadap gawai dan media digital yang tidak diawasi.

Islam memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا...

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga anak dari konten yang merusak adalah bagian dari bentuk takwa yang diperintahkan langsung oleh Allah.

5. Ciptakan Suasana Terbuka dan Aman di Rumah

Pelecehan seksual terhadap anak sering tidak terungkap karena anak merasa takut atau malu untuk bercerita. Dalam Islam, komunikasi keluarga yang sehat adalah fondasi dari akhlak yang kuat. Nabi SAW dikenal sebagai sosok yang hangat, penuh kasih sayang, dan sangat perhatian kepada anak-anak.

Rasulullah tidak hanya mencintai anak-anak, tetapi juga memuliakan mereka. Dalam rumah tangga, orang tua harus membangun suasana di mana anak merasa aman untuk bicara dan percaya bahwa orang tuanya akan mendengarkan tanpa menghakimi. Komunikasi terbuka adalah alat pencegahan yang sangat ampuh.

6. Waspada terhadap Orang Terdekat

Islam menekankan sikap hati-hati terhadap fitnah, bahkan terhadap orang yang terlihat baik sekalipun. Banyak kasus pelecehan dilakukan oleh tokoh yang dipercaya: guru mengaji, paman, atau bahkan tetangga dekat. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memberikan panduan tegas:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

"Jauhilah masuk ke rumah wanita (tanpa izin). Seorang laki-laki dari Anshar bertanya, 'Bagaimana dengan kerabat suami?' Beliau menjawab, 'Kerabat suami (yang bukan mahram) adalah kematian.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Analogi “kematian” menandakan betapa bahayanya membiarkan interaksi yang terlalu longgar dengan orang yang seolah-olah ‘keluarga’. Maka, meskipun dekat, kewaspadaan tetap harus dijaga.

Baca Juga: Milad KH Said Aqil Siroj ke-72: Momen Refleksi Peradaban Islam dan Persatuan Bangsa

7. Didik Anak Mengenal Allah dan Takut kepada-Nya

Langkah terakhir namun paling penting adalah menanamkan tauhid, iman, dan rasa takut kepada Allah sejak kecil. Ketika anak tumbuh dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, maka ia akan belajar menjaga diri. Ini bukan hanya bentuk perlindungan dari luar, tapi juga tameng dari dalam diri anak sendiri.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada Abdullah bin Abbas:

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ...

"Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu..." (HR. Tirmidzi)

Mendidik anak dengan tauhid adalah investasi terbesar dalam membangun karakter yang kuat, termasuk untuk menolak pelecehan dan menjaga harga dirinya.

Dengan langkah-langkah ini, Islam memberikan pendekatan komprehensif dalam menjaga anak dari ancaman pelecehan seksual. Perlindungan terhadap anak bukan semata-mata urusan hukum, tetapi juga urusan iman, akhlak, dan kesadaran kolektif.

Dalam Islam, anak-anak adalah perhiasan dunia sekaligus ujian, dan barang siapa menjaga amanah ini dengan baik, maka ia akan menuai pahala besar dari Allah SWT.

Sudah saatnya umat Islam menjadikan rumah tangga dan lingkungan sebagai benteng kokoh yang tidak memberi ruang bagi pelaku pelecehan.

Dengan pendidikan, pengawasan, dan teladan yang benar, generasi yang tumbuh akan menjadi pribadi yang mulia, terhormat, dan terhindar dari kejahatan yang menggerogoti harga diri manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.