Akurat

Niat Puasa Senin Kamis dan Puasa Qadha Ramadhan dalam Bahasa Arab dan Artinya

Fajar Rizky Ramadhan | 7 April 2025, 06:30 WIB
Niat Puasa Senin Kamis dan Puasa Qadha Ramadhan dalam Bahasa Arab dan Artinya

AKURAT.CO Di antara berbagai bentuk ibadah sunnah yang dianjurkan dalam Islam adalah puasa pada hari Senin dan Kamis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan puasa pada dua hari ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, beliau bersabda:

«تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

"Amalan manusia diperlihatkan (kepada Allah) setiap hari Senin dan Kamis, dan aku suka ketika amalku diperlihatkan dalam keadaan aku sedang berpuasa." (HR. Tirmidzi)

Maka, sebelum terbit fajar pada hari Senin atau Kamis, seorang muslim disunnahkan untuk meniatkan puasa dengan niat dalam hati seperti berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ ٱلإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

"Saya niat puasa hari Senin sunnah karena Allah Ta'ala."

Atau jika hari Kamis:

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ ٱلخَمِيسِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

"Saya niat puasa hari Kamis sunnah karena Allah Ta'ala."

Baca Juga: Kapan Batas Waktu Puasa Syawal 2025? Simak Penjelasannya di Sini!

Niat ini tidak harus dilafalkan dengan lisan, cukup hadir dalam hati dengan penuh kesadaran dan keikhlasan bahwa puasa dilakukan karena mengikuti sunnah Nabi dan mengharap ridha Allah. Namun, pengucapan secara lisan dapat membantu konsentrasi dan niat yang lebih jelas.

Berbeda dengan puasa sunnah, puasa qadha Ramadhan hukumnya wajib bagi mereka yang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan karena uzur syar’i seperti haid, sakit, atau perjalanan.

Puasa qadha ini harus dilakukan sebelum datangnya Ramadhan berikutnya jika masih memungkinkan. Mengenai niatnya, para ulama sepakat bahwa niat wajib dibulatkan pada malam hari, sebagaimana sabda Rasulullah:

«مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ»

"Barang siapa tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya." (HR. Abu Dawud)

Adapun bentuk niat puasa qadha Ramadhan dalam bahasa Arab adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

"Saya niat puasa besok untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta'ala."

Niat ini mengandung makna tanggung jawab spiritual. Puasa qadha bukan hanya kewajiban mengganti hari yang tertinggal, tetapi juga bentuk rasa syukur dan pengakuan bahwa ibadah Ramadhan itu tidak tergantikan nilainya—maka qadha menjadi wujud kesungguhan menunaikan hak Allah.

Menariknya, ketika seseorang berpuasa di hari Senin atau Kamis dengan niat qadha Ramadhan, maka cukup dengan niat wajibnya, dan tetap akan mendapatkan pahala puasa sunnah karena bertepatan.

Baca Juga: Apakah Niat Puasa Qadha Ramadhan Bisa Dilakukan di Pagi atau Siang Hari?

Hal ini berdasarkan kaidah fiqih "Idza ijtama'a 'ibadataani fi waqtin wahid wa ghayru muta'ayyin, tajzii anhumaa niyyatun wahidatun"—jika dua ibadah berkumpul dalam satu waktu dan tidak saling bertentangan, maka cukup dengan satu niat.

Dengan demikian, niat puasa bukan sekadar lafaz atau formalitas ibadah. Ia adalah bentuk kehadiran jiwa dalam menjalankan perintah Allah, tanda bahwa seorang hamba sadar bahwa waktunya sangat berharga untuk ditukar dengan pahala akhirat.

Maka, mari kita hidupkan hari-hari Senin dan Kamis dengan puasa, dan lunasi hutang Ramadhan kita dengan semangat untuk mendekat kepada-Nya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.