Akurat

4 Tarian Mirip Joget THR di Indonesia yang Ada di Timur Tengah, Ternyata Sarat dengan Nilai-nilai Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 4 April 2025, 18:00 WIB
4 Tarian Mirip Joget THR di Indonesia yang Ada di Timur Tengah, Ternyata Sarat dengan Nilai-nilai Islam

 

AKURAT.CO Di Indonesia sedang trending terkait dengan tarian atau joget THR. Joget THR ini dinilai menyerupai tarian orang-orang Yahudi. Sebagian orang bahkan menganggap haram.

Saat momen Idul Fitri tiba, suasana kegembiraan begitu terasa di berbagai penjuru dunia Muslim.

Di Indonesia, salah satu ekspresi suka cita yang mulai populer dalam beberapa tahun terakhir adalah Tari THR (Tunjangan Hari Raya) — joget spontan yang penuh semangat, sering diiringi lagu-lagu pop Islami atau dangdut yang riang.

Tapi tahukah Anda? Di kawasan Timur Tengah juga terdapat tarian-tarian tradisional yang meski berbeda bentuk, memiliki semangat yang serupa: ekspresi kebahagiaan yang membuncah, terutama saat hari raya atau perayaan sosial lainnya.

Menariknya, beberapa dari tarian ini bukan sekadar ekspresi budaya, tapi juga mengandung nilai-nilai spiritual, solidaritas sosial, bahkan semangat keagamaan yang tinggi. Berikut ini adalah empat tarian populer dari Timur Tengah yang bisa kita sejajarkan dengan semangat Tari THR di Indonesia.

1. Dabke (دبكة): Kegembiraan Kolektif sebagai Bentuk Ukhuwah

Berasal dari kawasan Levant (Palestina, Suriah, Lebanon, dan Yordania), Dabke adalah tarian kelompok dengan gerakan kaki yang terkoordinasi secara ritmis. Para penari biasanya membentuk lingkaran atau barisan, saling berpegangan tangan, dan menari diiringi musik tradisional seperti mijwiz atau tabla.

Yang membuat Dabke menarik adalah filosofi di baliknya: kebersamaan. Di dalam Islam, nilai ukhuwah atau persaudaraan sangat ditekankan. Seperti firman Allah: "إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ" (Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) — QS. Al-Hujurat: 10. Dabke bukan hanya tarian, tapi simbol kesatuan hati dan langkah di tengah komunitas Muslim.

Baca Juga: Trend Joget THR di Kalangan Muslim Indonesia Mirip Tarian Yahudi? Kesimpulan Salah Kaprah!

2. Khaleeji (خليجي): Keanggunan yang Menjaga Kehormatan

Khaleeji adalah tarian khas negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar. Dibawakan oleh para wanita dengan busana tradisional panjang (thobe nashal), gerakannya fokus pada ayunan rambut, leher, dan badan bagian atas.

Tarian ini menunjukkan bahwa kegembiraan tidak harus lepas dari nilai kesopanan dan kehormatan, terutama dalam konteks perempuan Muslim. Dalam Islam, prinsip al-ḥayā’ atau rasa malu (malu yang positif) adalah bagian dari iman. Nabi Muhammad bersabda: "الحياء شعبة من الإيمان" (Malu adalah cabang dari iman) — HR. Bukhari dan Muslim.

Khaleeji menjadi bentuk ekspresi feminin yang anggun, tetap dalam batas-batas syariat dan nilai-nilai budaya Islam.

3. Ardah (العرضة): Tarian Perjuangan dan Keberanian

Ardah adalah tarian tradisional pria di Arab Saudi, terutama di wilayah Najd. Biasanya dibawakan dalam barisan rapi dengan pedang di tangan, diiringi pukulan drum dan lantunan syair-syair kepahlawanan. Ardah kerap ditampilkan saat Hari Nasional Saudi, pernikahan, dan juga dalam perayaan Idul Adha.

Makna mendalam dari Ardah adalah tentang kesiapan membela kebenaran dan menunjukkan keberanian. Ini sangat sejalan dengan konsep jihad fi sabilillah dalam Islam — bukan sekadar peperangan, tetapi segala bentuk perjuangan demi menegakkan kebaikan dan keadilan. Allah berfirman: "وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ" (Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi) — QS. Al-Anfal: 60.

Dengan demikian, Ardah adalah bentuk warisan budaya yang memperkuat semangat juang dan tanggung jawab sosial umat Islam.

4. Zaouli (زاولي): Irama Spiritual dari Afrika Utara

Meskipun berasal dari kawasan Maghrib seperti Maroko dan Aljazair, Zaouli sering dianggap bagian dari jaringan budaya Islam di Afrika Utara. Tarian ini memadukan gerakan cepat dan musik Gnawa yang ritmis, mengekspresikan ekstase spiritual dan kegembiraan kolektif.

Zaouli mengingatkan kita pada pentingnya ekspresi tubuh dalam tasawuf — bagaimana gerak bisa menjadi sarana dzikir dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran sufi, konsep wajd (keterpesonaan rohani) sering diwujudkan melalui gerak tubuh yang mengikuti irama ilahi. Sebagaimana dikatakan oleh para sufi: "من ذاق عرف" (Barangsiapa merasakan, dia akan memahami).

Baca Juga: Tren Umat Islam Joget THR Tidak Sama dengan Bangsa Yahudi, Ini 5 Dalil Akuratnya Menurut Islam!

Joget THR Bukan Sekadar Seru-seruan

Tari THR yang kini populer di Indonesia bisa jadi lebih modern, bebas, dan penuh tawa — tapi ternyata semangatnya bersambung dengan tarian-tarian di Timur Tengah yang kaya akan makna. Mereka semua lahir dari satu semangat: merayakan hidup, bersyukur atas nikmat, dan mempererat hubungan antarsesama.

Ini membuktikan bahwa dalam Islam, kegembiraan bukanlah sesuatu yang dilarang, bahkan bisa menjadi bentuk ibadah jika diniatkan untuk syukur dan menguatkan ukhuwah. Seperti sabda Nabi: "

إن لربك عليك حقا، ولنفسك عليك حقا، ولأهلك عليك حقا، فأعط كل ذي حق حقه"

(Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, dan keluargamu pun punya hak atasmu, maka berikanlah hak masing-masing) — HR. Bukhari.

Jadi, boleh saja Anda joget THR bareng keluarga atau teman. Anda bisa saja menilai hal itu sedang ikut arus panjang budaya Islam yang mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah anugerah yang patut dirayakan — asal tetap pada jalurnya. Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.