Akan Muncul Gerhana Bulan Total, Ini Tradisi yang Dilakukan Orang Jawa Saat Gerhana Muncul

AKURAT.CO Gerhana bulan total selalu menjadi peristiwa langit yang menyita perhatian.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, fenomena ini bukan hanya dipandang sebagai kejadian astronomis, tetapi juga memiliki makna simbolik dan spiritual yang mendalam.
Hingga saat ini, sebagian tradisi yang berkaitan dengan gerhana masih bertahan, meski ada pula yang mulai terkikis oleh modernisasi.
Lantas, bagaimana masyarakat Jawa memaknai gerhana bulan total, dan tradisi apa saja yang mereka lakukan?
Gerhana dalam Perspektif Kepercayaan Jawa
Dalam pandangan kosmologi Jawa, gerhana bulan sering dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan lokal.
Salah satu cerita yang paling dikenal adalah legenda Buto Kala—raksasa yang diyakini menelan bulan atau matahari, sehingga terjadi gerhana.
Mitologi ini menjadi bagian penting dari cara orang Jawa memahami alam semesta sebelum pengetahuan astronomi modern tersebar luas.
Menurut kajian Endraswara (2013) dalam bukunya Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa, masyarakat Jawa memiliki tradisi yang sarat makna simbolik dalam menghadapi fenomena alam seperti gerhana.
Baca Juga: Doa Saat Melihat Gerhana Bulan Total: Menghidupkan Sunnah dan Merenungi Kebesaran Allah
Mereka memandang gerhana sebagai tanda alam yang membawa pesan—baik peringatan maupun ajakan untuk refleksi diri.
Tradisi yang Dilakukan Orang Jawa Saat Gerhana Bulan
-
Nyekar dan Doa Keselamatan
Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah nyekar atau ziarah ke makam leluhur. Masyarakat Jawa percaya bahwa gerhana adalah waktu yang baik untuk mendoakan arwah keluarga yang telah tiada, memohon keselamatan, dan menenangkan jiwa. Tradisi ini berkaitan erat dengan konsep slametan—ritual doa bersama sebagai bentuk syukur dan permohonan perlindungan. -
Menabuh Lesung
Dalam kepercayaan Jawa kuno, suara lesung—alat tumbuk padi tradisional—dianggap mampu mengusir roh jahat yang menyebabkan gerhana. Walaupun kini tradisi ini mulai jarang dilakukan, di beberapa daerah, seperti di pedesaan Yogyakarta dan Jawa Tengah, bunyi lesung saat gerhana bulan masih bisa terdengar sebagai bagian dari warisan budaya. -
Puasa dan Tirakat
Gerhana bulan total juga dianggap sebagai momen spiritual yang tepat untuk memperdalam laku tirakat atau pengendalian diri. Beberapa masyarakat Jawa memilih untuk berpuasa, berdoa, dan melakukan meditasi atau semadi selama gerhana berlangsung. Hal ini selaras dengan ajaran spiritual Jawa yang menekankan keseimbangan antara jasmani dan rohani. -
Ruwatan
Tradisi ruwatan sering dilakukan pada momen gerhana sebagai upaya membebaskan diri dari nasib buruk atau sukerta. Dalam penelitian Mulyono (2020) yang diterbitkan dalam Jurnal Kebudayaan Jawa, ruwatan gerhana biasanya disertai dengan pertunjukan wayang kulit, yang dianggap sebagai sarana pembersihan batin dan simbol pengusiran energi negatif. -
Memandikan Anak Sukerta
Anak-anak yang dianggap membawa sukerta—seperti anak tunggal atau anak kembar—sering dimandikan saat gerhana berlangsung. Ritual ini diyakini dapat menghilangkan kesialan dan membawa keselamatan bagi si anak.
Makna Filosofis Tradisi Gerhana di Jawa
Tradisi-tradisi ini tidak sekadar ritual tanpa makna, melainkan bagian dari cara masyarakat Jawa menjaga hubungan harmonis dengan alam dan Sang Pencipta.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total Maret 2025, Indonesia Kebagian Pemandangan Langka Ini atau Tidak?
Gerhana bulan dipandang sebagai simbol perubahan dan refleksi diri—mengingatkan manusia akan keterbatasan dan kekuatan Tuhan yang Maha Besar.
Penelitian Sutrisno (2015) dalam Jurnal Filsafat Nusantara menyebutkan bahwa tradisi gerhana di Jawa merupakan bentuk kearifan lokal yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat.
Dalam pandangan ini, setiap fenomena alam membawa pesan spiritual yang mengajak manusia untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan menjaga hubungan baik dengan sesama serta lingkungan.
Kesimpulannya, Gerhana bulan total bukan hanya fenomena astronomi, tetapi juga peristiwa yang sarat dengan makna dan tradisi dalam budaya Jawa.
Meski sebagian tradisi mulai memudar, nilai-nilai spiritual dan simbolik yang terkandung di dalamnya tetap relevan.
Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, tradisi ini menjadi pengingat bahwa harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan adalah bagian penting dari kearifan lokal yang patut dilestarikan.
Dengan demikian, ketika gerhana bulan total kembali menghiasi langit, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk tidak hanya mengagumi keindahannya, tetapi juga merenungkan pesan yang dibawanya—baik dalam tradisi maupun dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









