Jangan Lakukan 5 Hal ini saat Terjadi Gerhana Bulan, Bisa Berbahaya!

AKURAT.CO Fenomena gerhana bulan selalu menjadi momen yang ditunggu oleh banyak orang, baik karena keindahan alamnya maupun karena nilai religius yang terkandung di dalamnya.
Dalam pandangan Islam, gerhana bulan bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan tanda kebesaran Allah yang mengingatkan manusia akan keterbatasan dirinya.
Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan agar ketika gerhana terjadi, umat Islam memperbanyak ibadah, berdoa, serta melaksanakan salat khusuf.
Namun, dalam kenyataannya, sering kali muncul berbagai anggapan dan praktik yang justru keliru ketika gerhana terjadi. Alih-alih mendekat kepada Allah, sebagian orang malah terjebak pada perilaku yang sia-sia, bahkan bisa berbahaya. Berikut lima hal yang sebaiknya tidak dilakukan ketika terjadi gerhana bulan.
Baca Juga: Jam Berapa Gerhana Bulan Total di Indonesia? Cek Jadwal Sekarang Juga!
Pertama, jangan mengaitkan gerhana dengan nasib seseorang. Dalam masyarakat tradisional, masih ada kepercayaan bahwa gerhana membawa pertanda buruk atau bahkan kematian seseorang.
Nabi Muhammad SAW secara tegas meluruskan hal ini ketika terjadi gerhana pada masa beliau, bersamaan dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim. Rasulullah bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Gerhana tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, jangan menjadikan gerhana sebagai tontonan semata tanpa zikir. Banyak orang hanya sibuk mengabadikan fenomena ini dengan kamera atau ponsel, tetapi melupakan pesan spiritual yang dibawa.
Padahal Rasulullah SAW justru menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa, istighfar, dan salat saat gerhana berlangsung.
Ketiga, jangan mengabaikan salat gerhana. Meski hukumnya sunnah muakkadah, salat khusuf sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW.
Beliau mengajarkan agar umat Islam melaksanakan salat dua rakaat dengan bacaan yang panjang sebagai bentuk ketundukan kepada Allah. Mengabaikan salat gerhana sama saja melewatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala besar.
Keempat, jangan terjebak pada praktik-praktik takhayul. Di beberapa tempat, ada tradisi memukul-mukul benda atau membuat suara keras agar bulan kembali bersinar. Praktik ini jelas tidak memiliki dasar dalam Islam.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa fenomena alam tunduk sepenuhnya pada sunnatullah, bukan pada ritual manusia. Firman Allah:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan semuanya, jika kamu benar-benar menyembah-Nya.” (QS. Fussilat: 37).
Baca Juga: Gerhana Bulan Total
Kelima, jangan menganggap gerhana hanya peristiwa biasa tanpa makna. Sikap abai membuat manusia kehilangan kesempatan untuk merenungi kebesaran Allah.
Nabi SAW mengingatkan bahwa gerhana adalah peringatan agar manusia kembali kepada-Nya. Dengan demikian, menganggapnya sekadar fenomena sains tanpa nilai spiritual berarti mereduksi pesan ilahiah yang terkandung di dalamnya.
Dari lima hal di atas, jelas bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara pemahaman ilmiah dan kesadaran spiritual.
Gerhana bulan memang dapat dijelaskan secara ilmiah, namun ia juga hadir sebagai pengingat agar manusia bersyukur, bertaubat, dan semakin dekat kepada Allah.
Dengan menjauhi hal-hal yang keliru, kita bisa menjadikan momen gerhana bulan sebagai momentum mempertebal iman, bukan sekadar tontonan kosong.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









