Akurat

Apakah Benar Kejadian Mati Suri itu karena Malaikat Salah Input Data?

Fajar Rizky Ramadhan | 28 Januari 2025, 10:30 WIB
Apakah Benar Kejadian Mati Suri itu karena Malaikat Salah Input Data?

 

AKURAT.CO Fenomena mati suri sering kali menjadi bahan perbincangan yang menarik. Orang yang mengalami mati suri biasanya mengisahkan pengalaman keluar dari tubuh, melihat cahaya terang, atau berada di alam yang berbeda.

Dalam masyarakat, muncul spekulasi bahwa kejadian mati suri disebabkan oleh “kesalahan” malaikat dalam mencabut nyawa, seolah-olah ada kekeliruan dalam pencatatan takdir. Namun, apakah hal ini benar menurut pandangan Islam?

Dalam Islam, keyakinan tentang kematian dan kehidupan setelahnya dijelaskan dengan sangat rinci dalam Al-Qur'an dan Hadis. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 61:

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦ وَيُرۡسِلُ عَلَيۡكُمۡ حَفَظَةً۬ حَتَّىٰۤ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ تَوَفَّتۡهُ رُسُلُنَا وَهُمۡ لَا يُفَرِّطُونَ

Artinya: “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya. Dia mengutus penjaga-penjaga (malaikat) kepada kamu, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, rasul-rasul Kami (malaikat-malaikat) mencabut nyawanya, dan mereka tidak pernah lalai.”

Baca Juga: Kisah Orang Mati Suri di Zaman Nabi Musa AS

Ayat ini menegaskan bahwa malaikat yang diutus untuk mencabut nyawa tidak pernah lalai atau keliru dalam menjalankan tugasnya. Mereka bertindak atas perintah Allah SWT dengan penuh ketaatan dan ketelitian.

Oleh karena itu, klaim bahwa mati suri terjadi karena malaikat salah input data adalah pandangan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Mati suri lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang berkaitan dengan kondisi medis dan psikologis.

Dalam dunia kedokteran, mati suri biasanya diartikan sebagai situasi di mana fungsi tubuh, seperti detak jantung dan pernapasan, berhenti untuk sementara waktu, tetapi kemudian berhasil dipulihkan.

Hal ini tidak berarti bahwa seseorang telah benar-benar mati dalam arti spiritual, karena kematian sejati hanya terjadi ketika ruh dicabut sepenuhnya dari tubuh.

Allah SWT juga berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 42:

ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلۡأَنفُسَ حِينَ مَوۡتِهَا وَٱلَّتِى لَمۡ تَمُتۡ فِى مَنَامِهَاۖ فَيُمۡسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيۡهَا ٱلۡمَوۡتَ وَيُرۡسِلُ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ مُّسَمًّىۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Ayat ini menggambarkan bahwa Allah SWT memegang penuh kendali atas jiwa manusia. Dalam tidur, jiwa seseorang seolah-olah berada di ambang kematian, tetapi Allah mengembalikannya sampai waktu kematian yang telah ditentukan.

Ini menunjukkan bahwa mati suri bisa jadi adalah fenomena kembalinya ruh setelah berada dalam keadaan tertentu yang menyerupai kematian, tetapi belum mencapai kematian yang hakiki.

Baca Juga: Adakah Mati Suri dalam Islam?

Dalam Islam, segala sesuatu terjadi sesuai dengan takdir Allah SWT, dan tidak ada yang terjadi karena kesalahan atau kekeliruan.

Sebagai manusia, kita dituntut untuk memahami fenomena semacam ini dengan pendekatan yang bijaksana dan tidak mudah mempercayai spekulasi yang tidak didukung oleh dalil syar’i.

Mati suri hendaknya dijadikan pelajaran untuk lebih bersyukur kepada Allah SWT dan meningkatkan amal ibadah, karena hal itu mengingatkan kita betapa dekatnya kematian dengan kehidupan kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.