Akurat

Biaya Haji 2025 Turun, Apakah Besarannya Sama dengan Ongkos Haji di Masa Awal Kekhalifahan Islam?

Lufaefi | 7 Januari 2025, 10:30 WIB
Biaya Haji 2025 Turun, Apakah Besarannya Sama dengan Ongkos Haji di Masa Awal Kekhalifahan Islam?

AKURAT.CO Haji, sebagai salah satu rukun Islam, memiliki sejarah panjang yang berakar sejak masa Nabi Ibrahim AS hingga era Kekhalifahan Islam.

Menunaikan ibadah haji tidak hanya menjadi kewajiban religius, tetapi juga mencerminkan perjalanan fisik dan spiritual yang melibatkan aspek logistik dan biaya.

Baru-baru ini, pemerintah mengumumkan penurunan biaya haji untuk tahun 2025. Hal ini menimbulkan pertanyaan menarik: apakah besarannya sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan umat Islam pada masa awal Kekhalifahan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami dua hal: konteks ekonomi dan teknologi di masa Kekhalifahan Islam serta kompleksitas penyelenggaraan haji di era modern.

Biaya Haji pada Masa Kekhalifahan Islam

Pada masa awal Kekhalifahan Islam (sekitar abad ke-7 hingga ke-9 Masehi), perjalanan haji adalah pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan dengan hari ini.

Tanpa kendaraan bermotor, pesawat terbang, atau infrastruktur modern, para jamaah haji mengandalkan kafilah unta, kapal layar, dan perjalanan kaki.

Biaya utama yang dikeluarkan adalah untuk transportasi, bekal makanan, dan keamanan selama perjalanan.

Baca Juga: Biaya Haji 2025 Turun, Apakah Ongkos Naik Haji di Masa Nabi Pernah Naik?

Menurut catatan sejarah, biaya haji pada masa itu sangat beragam, tergantung jarak geografis dan kondisi ekonomi wilayah asal jamaah.

Sebagai contoh, seorang jamaah dari wilayah Jazirah Arab seperti Yaman atau Irak mungkin menghabiskan biaya yang lebih rendah dibandingkan jamaah dari wilayah Persia atau Afrika Utara.

Namun, secara umum, biaya perjalanan haji pada masa itu cenderung lebih murah jika dihitung dalam ukuran ekonomi lokal. Hal ini disebabkan oleh sistem barter dan kesederhanaan struktur ekonomi.

Namun, rendahnya biaya tersebut juga mencerminkan tingkat risiko yang tinggi. Perjalanan haji pada masa itu memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dengan ancaman perampokan, penyakit, dan keterbatasan logistik.

Biaya yang "murah" ini pada dasarnya adalah refleksi dari standar hidup yang sederhana serta minimnya intervensi teknologi.

Biaya Haji di Era Modern

Di era modern, perjalanan haji telah mengalami transformasi besar-besaran. Dengan pesawat terbang, hotel berbintang, dan layanan katering yang canggih, pengalaman haji kini jauh lebih nyaman dan efisien.

Namun, kenyamanan ini datang dengan harga yang signifikan. Biaya haji modern mencakup tiket pesawat, akomodasi, konsumsi, transportasi lokal, serta berbagai layanan tambahan seperti asuransi dan pendampingan.

Pada tahun 2025, pemerintah Indonesia mengumumkan penurunan biaya haji seiring dengan efisiensi penyelenggaraan dan subsidi dari pemerintah.

Sebagai gambaran, biaya haji reguler sebelumnya berkisar antara Rp45 juta hingga Rp50 juta, tergantung pada paket layanan yang dipilih.

Penurunan ini tentunya disambut baik oleh calon jamaah, mengingat banyaknya masyarakat yang telah menunggu antrean panjang untuk dapat menunaikan ibadah haji.

Namun, jika dibandingkan secara langsung dengan masa Kekhalifahan Islam, biaya ini tetap jauh lebih tinggi dalam ukuran absolut.

Sebab, ekonomi modern diukur dengan mata uang yang memiliki nilai tukar global, sementara ekonomi Islam klasik menggunakan dinar dan dirham yang berbasis emas dan perak.

Baca Juga: Biaya Haji 2025 Turun, Ini 7 Fakta Terkait Turunnya Biaya Penyelenggaraan Haji

Pendekatan Ilmiah: Inflasi dan Nilai Tukar

Untuk membandingkan biaya haji masa lalu dan masa kini secara lebih ilmiah, kita perlu mempertimbangkan inflasi dan nilai tukar mata uang.

Misalnya, pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, seorang jamaah mungkin menghabiskan 10 hingga 20 dinar untuk perjalanan haji.

Jika satu dinar emas setara dengan 4,25 gram emas, maka nilai tersebut dalam konteks modern dapat dihitung berdasarkan harga emas hari ini.

Dengan harga emas yang saat ini berada di kisaran Rp1 juta per gram, biaya haji pada masa Kekhalifahan berkisar antara Rp42 juta hingga Rp85 juta.

Secara nominal, angka ini tidak jauh berbeda dengan biaya haji modern, tetapi kondisi perjalanan, durasi waktu, dan fasilitas yang didapatkan tentu sangat berbeda.

Kesimpulannya, meskipun biaya haji 2025 mengalami penurunan, besarannya masih jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa awal Kekhalifahan Islam.

Perbedaan ini disebabkan oleh perkembangan teknologi, perubahan standar hidup, dan inflasi yang terjadi selama berabad-abad.

Namun, esensi dari ibadah haji tetap sama: sebuah perjalanan spiritual menuju Allah SWT, yang memerlukan pengorbanan materi dan fisik.

Perbandingan ini menunjukkan bagaimana Islam tetap relevan sepanjang zaman, meskipun tantangan dan konteks sosial-ekonomi terus berubah.

Haji bukan sekadar angka dalam biaya perjalanan, tetapi juga cerminan dari komitmen setiap Muslim untuk memenuhi panggilan Ilahi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.