AKURAT.CO Haji merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang mampu. Pada masa Nabi Muhammad SAW, ibadah haji memiliki dimensi spiritual dan sosial yang sangat mendalam.
Namun, jika kita bertanya tentang "biaya haji" di masa tersebut, pertanyaan ini tentu perlu ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat Arab pada abad ke-7.
Pada masa itu, tidak ada sistem biaya haji yang terstandarisasi seperti sekarang. Biaya haji bergantung pada beberapa faktor, seperti jarak perjalanan, moda transportasi, serta kebutuhan logistik selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah.
Masyarakat Mekah, yang tinggal di sekitar Ka'bah, tentu tidak memerlukan banyak biaya untuk melaksanakan haji.
Namun, bagi mereka yang datang dari tempat yang jauh, biaya utamanya adalah untuk perjalanan, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Baca Juga: Biaya Haji 2025 Turun, Ini 7 Fakta Terkait Turunnya Biaya Penyelenggaraan Haji
Keperluan Utama Biaya Haji
1. Transportasi
Transportasi merupakan bagian terbesar dari biaya haji di masa Nabi SAW. Sebagian besar jamaah menggunakan unta sebagai alat transportasi utama. Unta adalah "kendaraan" yang paling andal untuk menjelajahi padang pasir yang luas dan tandus.
Namun, memiliki atau menyewa unta memerlukan biaya yang cukup besar. Selain itu, unta juga membutuhkan perawatan, makanan, dan istirahat selama perjalanan, yang menjadi bagian dari pengeluaran.
2. Bekal Makanan dan Minuman
Perjalanan haji pada masa itu sangat bergantung pada bekal yang dibawa. Tidak ada restoran atau fasilitas modern di sepanjang rute seperti saat ini. Para jamaah harus membawa persediaan makanan dan air untuk bertahan selama perjalanan.
Mereka yang mampu membawa lebih banyak bekal biasanya bepergian dengan lebih nyaman, sementara yang kurang mampu harus mengandalkan kemurahan hati sesama jamaah atau penduduk setempat.
3. Kebutuhan Logistik Lainnya
Selain makanan dan transportasi, jamaah juga membutuhkan perlengkapan dasar seperti pakaian ihram, tenda untuk bermalam, dan barang-barang pribadi lainnya. Biaya ini bervariasi tergantung pada tingkat kemampuan jamaah.
Orang-orang kaya pada masa itu mungkin membawa kafilah besar dengan pelayan dan berbagai perlengkapan mewah, sementara mereka yang miskin hanya membawa bekal seadanya.
Dimensi Spiritualitas dan Kesederhanaan
Meskipun ada biaya yang harus dikeluarkan, ibadah haji di masa Nabi SAW sangat ditekankan pada kesederhanaan dan keikhlasan.
Rasulullah SAW sendiri mencontohkan bagaimana haji dilakukan dengan rendah hati dan penuh pengabdian kepada Allah.
Beliau mengajarkan bahwa haji bukanlah ajang untuk pamer kekayaan, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyatukan umat Islam dari berbagai latar belakang.
Dalam salah satu khutbahnya saat haji Wada', Nabi SAW menegaskan pentingnya persamaan di hadapan Allah.
Para jamaah, baik yang kaya maupun miskin, mengenakan pakaian ihram yang sama, melaksanakan ritual yang sama, dan berdiri bersama-sama di Arafah, tanpa perbedaan kelas atau status sosial.
Baca Juga: Biaya Haji 2025 Turun, Menteri Agama Jelaskan Penyebabnya
Pelajaran dari Masa Nabi
Ibadah haji pada masa Nabi SAW mengajarkan bahwa esensi haji bukanlah pada besarnya biaya yang dikeluarkan, melainkan pada pengorbanan, ketulusan, dan niat untuk memenuhi panggilan Allah.
Biaya hanyalah sarana untuk mewujudkan niat tersebut, sedangkan inti dari haji adalah penghambaan kepada Allah, pengampunan dosa, dan penyatuan umat.
Hari ini, meskipun biaya haji telah menjadi lebih kompleks dengan berbagai fasilitas modern, semangat yang diajarkan oleh Nabi SAW tetap relevan.
Kesederhanaan, kebersamaan, dan keikhlasan harus tetap menjadi nilai utama dalam setiap perjalanan haji.