Akurat

3 Ulama Besar yang Semakin Produktif Belajar saat Bulan Ramadhan Tiba

Fajar Rizky Ramadhan | 6 Januari 2025, 06:30 WIB
3 Ulama Besar yang Semakin Produktif Belajar saat Bulan Ramadhan Tiba

AKURAT.CO Bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh berkah dan rahmat, di mana umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah dan amal kebaikan.

Tidak terkecuali para ulama terkenal yang menjadikan bulan ini sebagai momentum untuk semakin produktif dalam belajar dan mengajar.

Para ulama tidak hanya memperbanyak ibadah ritual seperti shalat malam dan puasa, tetapi juga menjadikan Ramadhan sebagai waktu untuk menuntut ilmu dengan lebih giat.

Hal ini selaras dengan tradisi generasi salaf yang memanfaatkan Ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ilmu dan ibadah.

Imam Malik dan Penghormatan terhadap Ilmu di Bulan Ramadhan

Imam Malik bin Anas, seorang pendiri Mazhab Maliki, dikenal menghentikan aktivitas mengajar dan fatwa selama Ramadhan.

Sebagai gantinya, beliau fokus membaca dan mengkaji Al-Qur'an. Dalam kitab Tartib Al-Madarik, disebutkan bahwa Imam Malik berkata, "هذا شهر القرآن، فلا أشتغل فيه بغيره" (Hādhā shahru al-Qur’ān, fa-lā asytaghilu fīhi bighayrih) yang artinya, “Ini adalah bulan Al-Qur'an, maka aku tidak menyibukkan diri di dalamnya dengan selainnya.”

Sikap beliau ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang spesial untuk menambah kedekatan dengan Allah melalui tadabbur Al-Qur’an.

Baca Juga: Libur Sekolah Selama Ramadhan, Bagiamana Tradisi Belajar di Masa Awal Peradaban Islam saat Bulan Puasa?

Imam Syafi’i dan Intensitas Khatam Al-Qur’an

Imam Syafi’i terkenal dengan kebiasaannya mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali selama Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Siyar A’lām An-Nubalā’ karya Adz-Dzahabi.

Hal ini dilakukan tidak hanya untuk membaca, tetapi juga untuk mempelajari makna dan tafsirnya. Beliau meyakini firman Allah dalam Al-Qur'an, "شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ" (Syahru Ramaḍāna allażī unzila fīhi al-Qur’ān), yang artinya, "Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an" (QS. Al-Baqarah: 185).

Imam Syafi’i memahami bahwa Al-Qur'an adalah sumber utama ilmu, sehingga memperbanyak interaksi dengannya akan meningkatkan keilmuan dan keimanan.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dan Kecintaan kepada Ilmu di Bulan Ramadhan

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Lathāif Al-Ma'ārif menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan yang paling utama untuk belajar dan mendalami ilmu agama.

Ia menulis, "وكان السلف يتفرغون في هذا الشهر لتلاوة القرآن والعلم" (Wa-kāna al-salaf yatafarraġūna fī hādzā al-syahri li-tilāwati al-Qur’āni wa al-‘ilm), artinya, “Dan para salaf mengkhususkan waktu mereka di bulan ini untuk membaca Al-Qur'an dan ilmu.”

Penekanan pada ilmu menunjukkan bahwa bulan Ramadhan bukan sekadar waktu untuk memperbanyak ibadah fisik, tetapi juga ibadah intelektual yang mendalam.

Teladan Nabi dalam Memanfaatkan Ramadhan untuk Ilmu

Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa Ramadhan adalah waktu pembelajaran dan pengajaran.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa Jibril datang kepada Rasulullah setiap malam di bulan Ramadhan untuk mudarasah Al-Qur'an.

Hadis ini berbunyi, "وكان جبريل يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن" (Wa-kāna Jibrīlu yalqāhu fī kulli laylatin min Ramaḍāna fa-yudārisuhu al-Qur’ān). Artinya, "Dan Jibril bertemu dengannya setiap malam di bulan Ramadhan untuk mempelajari Al-Qur'an."

Baca Juga: Libur Sekolah Satu Bulan Selama Ramadhan, Bagaimana Pandangan Islam?

Praktik ini menunjukkan pentingnya mengkaji ilmu, khususnya Al-Qur'an, selama bulan Ramadhan.

Kesimpulannya, ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ibnu Rajab memahami bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang istimewa untuk mendalami ilmu.

Mereka menjadikan bulan ini sebagai waktu khusus untuk belajar, membaca Al-Qur'an, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tradisi ini tidak hanya menunjukkan kecintaan mereka terhadap ilmu, tetapi juga menginspirasi kita untuk memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum peningkatan spiritual dan intelektual.

Sebagaimana mereka, kita dapat menjadikan ilmu sebagai jalan untuk meraih keberkahan di bulan suci ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.