Akurat

Segini Biaya Haji di Masa Khalifah Umar bin Khattab, Apa Sama dengan Biaya Haji 2025?

Fajar Rizky Ramadhan | 28 Desember 2024, 08:00 WIB
Segini Biaya Haji di Masa Khalifah Umar bin Khattab, Apa Sama dengan Biaya Haji 2025?

AKURAR.CO Haji merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial.

Namun, seiring berjalannya waktu, biaya haji terus mengalami perubahan yang signifikan, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, dan infrastruktur.

Jika kita melihat jauh ke belakang, bagaimana sebenarnya biaya haji pada masa Khalifah Umar bin Khattab, dan bagaimana perbandingannya dengan biaya haji di era modern seperti tahun 2025?

Biaya Haji pada Masa Khalifah Umar bin Khattab

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (634–644 M), haji dilaksanakan dalam kondisi yang jauh lebih sederhana dibandingkan saat ini.

Sistem ekonomi saat itu berbasis barter dan dinar emas. Biaya haji tidak hanya dihitung dari ongkos perjalanan, tetapi juga perlengkapan dan bekal yang dibawa untuk perjalanan panjang menuju Mekkah.

Transportasi utama pada zaman itu adalah unta atau kuda, dan perjalanan menuju Mekkah bisa memakan waktu berbulan-bulan, tergantung dari lokasi keberangkatan.

Berdasarkan catatan sejarah, biaya perjalanan haji dari wilayah seperti Madinah atau Suriah pada masa itu sekitar 10–15 dinar emas untuk menutupi kebutuhan makanan, minuman, dan transportasi. Nilai ini setara dengan sekitar 42–63 gram emas, jika dikonversikan ke standar emas modern.

Baca Juga: Biaya Haji 2025 Disebut Akan Lebih Murah, Berapa Biaya Haji di Masa Rasulullah SAW?

Sebagai gambaran, harga emas per Desember 2024 berada di kisaran Rp1 juta per gram. Dengan demikian, biaya perjalanan haji pada masa Umar bin Khattab, jika dihitung dalam nilai rupiah saat ini, berkisar antara Rp42 juta hingga Rp63 juta.

Namun, ini belum termasuk nilai inflasi, biaya akomodasi tambahan, atau pengelolaan haji yang saat ini sangat kompleks.

Transformasi Biaya Haji di Era Modern

Haji pada era modern, khususnya di tahun 2025, telah mengalami transformasi besar-besaran. Prosesnya tidak lagi hanya tentang perjalanan spiritual, tetapi juga melibatkan sistem logistik yang sangat kompleks.

Biaya haji saat ini mencakup tiket pesawat pulang-pergi, akomodasi di hotel berbintang, makanan, transportasi lokal, hingga asuransi kesehatan.

Menurut data resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia, biaya haji reguler pada tahun 2025 diperkirakan mencapai Rp90 juta hingga Rp100 juta per orang, tergantung pada paket yang dipilih.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan biaya pada masa Umar bin Khattab. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti peningkatan biaya hidup, perkembangan teknologi transportasi, dan upaya pemerintah untuk meningkatkan kenyamanan jamaah.

Selain itu, konsep “mampu” dalam melaksanakan haji juga berkembang. Pada masa Umar, seseorang dianggap mampu jika memiliki cukup bekal untuk perjalanan dan meninggalkan keluarganya dalam keadaan tercukupi.

Kini, kemampuan finansial mencakup tabungan yang cukup untuk membayar biaya haji sekaligus memenuhi kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar: Biaya Haji 2025 Akan Lebih Murah Tanpa Mengurangi Kualitas Pelayanan

Persamaan dan Perbedaan Filosofis

Meskipun biaya haji pada masa Umar bin Khattab dan tahun 2025 berbeda secara nominal, esensi ibadah haji tetap sama.

Ibadah ini adalah perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menanggalkan kesombongan duniawi, dan menyatukan umat Islam dalam suasana kebersamaan.

Namun, perbedaan utama terletak pada konteks zaman. Pada masa Umar, perjalanan haji penuh tantangan fisik dan mental, mencerminkan perjuangan yang keras dalam melaksanakan perintah Allah.

Di era modern, meskipun perjalanan lebih nyaman, tantangan utama terletak pada kemampuan finansial dan pengelolaan waktu.

Jika dibandingkan secara nominal, biaya haji pada masa Khalifah Umar bin Khattab jauh lebih rendah daripada biaya haji di tahun 2025.

Namun, nilai spiritual dan pengorbanan yang terkandung di dalamnya tidak berubah. Perubahan biaya ini mencerminkan perkembangan zaman yang membawa kemudahan sekaligus tantangan baru bagi umat Islam.

Dengan memahami sejarah dan makna di balik biaya haji, diharapkan umat Islam dapat mempersiapkan diri, baik secara finansial maupun spiritual, untuk menjalankan ibadah yang mulia ini.

Haji bukan hanya tentang angka dan perjalanan, tetapi juga tentang ketaatan, pengorbanan, dan cinta kepada Allah SWT.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.