Negara-Negara yang Melarang Perayaan Natal, Saudi Arabia Paling Keras!

AKURAT.CO Natal yang dirayakan pada 25 Desember setiap tahun menjadi momen penting bagi umat Kristiani di seluruh dunia.
Namun, tidak semua negara memberikan kebebasan untuk merayakan hari besar ini. Beberapa negara bahkan melarang warganya merayakan Natal dan tidak menjadikannya hari libur nasional.
Berikut adalah daftar negara-negara tersebut beserta alasannya, sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber.
Korea Utara
Korea Utara menjadi salah satu negara yang secara tegas melarang perayaan Natal. Larangan ini telah diterapkan sejak Dinasti Kim mulai berkuasa pada 1948.
Pemerintah Korea Utara mengekang kebebasan beragama warganya dan mengancam hukuman penjara bagi siapa pun yang kedapatan merayakan Natal.
Dilaporkan oleh World Population Review, Natal juga bukan hari libur nasional di Korea Utara. Aktivitas seperti bekerja dan sekolah tetap berjalan seperti biasa.
Arab Saudi
Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Arab Saudi melarang perayaan Natal karena sangat menjunjung tinggi ajaran Islam.
Pada tahun 2012, polisi di Arab Saudi pernah menangkap 41 orang Kristen yang "bersekongkol merayakan Natal".
Tidak hanya Natal, negara ini juga melarang perayaan lain seperti Hari Valentine dan Halloween.
Tajikistan
Larangan perayaan Natal di Tajikistan telah berlaku sejak 2015, seperti dilaporkan oleh The Guardian. Kebijakan ini melarang berbagai simbol Natal, termasuk pohon Natal, baju khas Natal, hadiah, dan kembang api, untuk diperjualbelikan selama musim Natal.
Selain Natal, Tajikistan juga melarang perayaan lain seperti Hari Valentine, tahun baru, dan Halloween, karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Brunei
Brunei menjadi salah satu negara yang sangat vokal dalam melarang perayaan Natal. Sultan Hassanal Bolkiah, melalui kebijakan yang diterapkan pada 2015, menetapkan hukuman berat bagi siapa saja yang merayakan Natal.
Hukuman ini berupa penjara selama lima tahun atau denda hingga USD20 juta (sekitar Rp321 miliar), seperti dilaporkan oleh The Independent.
China
China telah melarang perayaan Natal sejak merdeka pada 1949. Larangan ini diberlakukan oleh Partai Komunis China (PKC) yang menganggap Natal sebagai bagian dari budaya Barat.
Meski begitu, umat Kristiani di China kerap merayakan Natal secara pribadi agar tidak terdeteksi oleh pemerintah.
Somalia
Somalia mulai melarang perayaan Natal sejak 2015. Negara ini berpendapat bahwa perayaan Natal dapat mengancam keimanan umat Islam di Somalia.
Baca Juga: 25 Ucapan Selamat Natal Merry Christmas dalam Bahasa Arab dan Artinya
"Merayakan Natal bagi umat Islam di Somalia bukanlah hal yang benar. Hal seperti itu sama saja dengan penelantaran," ujar Mohamed Kheyrow, pejabat tinggi di Kementerian Kehakiman dan Agama Somalia.
Jadi, larangan perayaan Natal di negara-negara tersebut umumnya didasarkan pada alasan ideologi, politik, atau agama.
Meskipun demikian, umat Kristiani di beberapa negara tetap menemukan cara untuk merayakan Natal secara pribadi, meski harus menghadapi berbagai risiko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









