AKURAT.CO Sejarah modern mencatat campur tangan Amerika Serikat (AS) dalam berbagai konflik internasional, termasuk di negara-negara mayoritas Muslim.
Dengan alasan memerangi terorisme, memperluas demokrasi, atau melindungi kepentingan strategis, AS sering kali terlibat dalam kebijakan yang memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas negara-negara ini.
Dalam banyak kasus, intervensi tersebut justru meninggalkan kehancuran fisik, sosial, dan ekonomi yang sulit dipulihkan.
1. Irak: Dari Kediktatoran ke Kekacauan
Invasi AS ke Irak pada tahun 2003, yang dimulai dengan klaim senjata pemusnah massal (WMD), menjadi salah satu contoh paling mencolok dari campur tangan militer yang membawa kehancuran.
Penelitian dari The Lancet memperkirakan lebih dari 600.000 warga sipil meninggal akibat perang dan kekerasan setelah invasi ini. Infrastruktur negara hancur, termasuk fasilitas kesehatan, pendidikan, dan sistem transportasi.
Lebih dari itu, invasi membuka pintu bagi kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS, yang memanfaatkan kekosongan kekuasaan untuk memperluas pengaruh mereka.
Secara ekonomi, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa PDB Irak menyusut drastis setelah invasi, sementara tingkat pengangguran dan kemiskinan meningkat.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Dikabarkan Tertarik Masuk Islam, Benarkah Segera Jadi Mualaf?
Meskipun rezim Saddam Hussein memang penuh pelanggaran HAM, penghancuran institusi negara oleh AS menyebabkan Irak terjerumus ke dalam konflik sektarian berkepanjangan.
2. Afghanistan: Perang Tanpa Akhir
Afghanistan telah menjadi pusat perhatian geopolitik sejak 1979, ketika AS mendukung kelompok Mujahidin untuk melawan invasi Uni Soviet.
Namun, setelah serangan 11 September 2001, AS melancarkan perang di Afghanistan untuk menggulingkan Taliban dan menghancurkan jaringan Al-Qaeda.
Selama dua dekade berikutnya, perang ini menelan biaya lebih dari $2 triliun dan menyebabkan lebih dari 240.000 kematian, termasuk ribuan warga sipil (data dari Brown University's Costs of War Project).
Meskipun Taliban sempat digulingkan, keberadaan pasukan asing justru memicu resistensi dan menciptakan siklus kekerasan yang terus-menerus.
Ketika AS menarik pasukannya pada 2021, Taliban kembali berkuasa, sementara infrastruktur negara dan sistem pemerintahan hancur. Generasi muda Afghanistan kini menghadapi krisis kemanusiaan dengan tingkat kemiskinan dan kelaparan yang ekstrem.
3. Libya: Dari Revolusi ke Negara Gagal
Pada tahun 2011, AS bersama NATO mendukung operasi militer untuk menggulingkan Muammar Gaddafi. Meskipun rezim Gaddafi dikenal otoriter, keberadaannya menjaga stabilitas politik di Libya selama beberapa dekade.
Intervensi AS dan sekutunya, yang awalnya diklaim untuk melindungi warga sipil dalam kerangka Responsibility to Protect (R2P), malah membawa kehancuran total.
Setelah Gaddafi digulingkan, Libya terpecah menjadi berbagai faksi milisi bersenjata yang saling bertikai. Laporan dari Amnesty International menyebutkan bahwa pelanggaran HAM meluas, termasuk penyiksaan dan perdagangan manusia.
Secara ekonomi, sektor minyak yang menjadi tulang punggung negara lumpuh akibat konflik bersenjata. Hingga kini, Libya tetap terjebak dalam status negara gagal (failed state), dengan pemerintahan yang terpecah dan kekerasan yang terus berlanjut.
Baca Juga: Fakta Sejarah Islam tentang Istilah 'Rakyat Jelata': Bukan sebagai Label yang Merendahkan Manusia
4. Suriah: Perang Sipil yang Memanas oleh Intervensi
Suriah menjadi contoh lain di mana campur tangan AS memperburuk konflik yang sudah kompleks. Ketika perang sipil pecah pada 2011, AS mendukung kelompok oposisi yang berusaha menggulingkan Bashar al-Assad.
Dukungan ini mencakup pengiriman senjata dan pelatihan militer, yang sering kali jatuh ke tangan kelompok ekstremis seperti Al-Nusra Front dan ISIS.
Data dari United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA) menunjukkan bahwa lebih dari 13 juta warga Suriah menjadi pengungsi internal atau eksternal akibat perang.
Kehancuran kota-kota besar seperti Aleppo dan Homs menjadi bukti betapa mahalnya harga dari konflik ini. Campur tangan AS, meskipun berdalih untuk mendukung demokrasi, memperburuk kekacauan dan memperpanjang penderitaan rakyat Suriah.
5. Yaman: Krisis Kemanusiaan Terburuk di Dunia
Meskipun intervensi AS di Yaman lebih tidak langsung, dukungan logistik dan intelijen kepada koalisi Saudi Arabia dalam perang saudara di negara ini memiliki dampak besar.
Serangan udara yang didukung teknologi AS sering kali menargetkan infrastruktur sipil seperti rumah sakit dan sekolah. Menurut laporan Human Rights Watch, ribuan warga sipil tewas, sementara jutaan lainnya menghadapi ancaman kelaparan.
Krisis kemanusiaan di Yaman dianggap yang terburuk di dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perang ini tidak hanya menghancurkan ekonomi negara, tetapi juga menyebabkan penyebaran penyakit seperti kolera.
Bantuan kemanusiaan sulit masuk karena blokade yang didukung oleh koalisi Saudi, memperparah penderitaan rakyat Yaman.
Kesimpulan: Harga Mahal Campur Tangan AS
Intervensi Amerika Serikat di negara-negara mayoritas Islam sering kali meninggalkan kehancuran yang melampaui tujuan awalnya.
Alasan seperti memerangi terorisme atau menyebarkan demokrasi tampaknya lebih sering menjadi dalih untuk melindungi kepentingan geopolitik dan ekonomi AS.
Bagi masyarakat internasional, pelajaran dari negara-negara ini adalah pentingnya menghormati kedaulatan negara dan mendukung solusi diplomatik daripada militer.
Hanya dengan demikian, kehancuran seperti yang terjadi di Irak, Afghanistan, Libya, Suriah, dan Yaman dapat dihindari di masa depan.