Akurat

Ustadz Adi Hidayat Pengganti Gus Miftah? Pernah Sebut Non-Muslim yang Baik Tidak Masuk Surga

Fajar Rizky Ramadhan | 9 Desember 2024, 11:33 WIB
Ustadz Adi Hidayat Pengganti Gus Miftah? Pernah Sebut Non-Muslim yang Baik Tidak Masuk Surga

AKURAT.CO Ustadz Adi Hidayat (UAH) sedang menjadi perbincangan di sosial media terkait posisinya sebagai calon pengganti Gus Miftah sebagi Utusan Khusus Presiden. Meski demikian, belum ada pernyataan apapun dari pihak istana.

UAH, dalam satu kesempatan pernah membahas nasib akhirat non-Muslim yang baik dan menjadi sorotan.

Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Taman Firdhaus pada Januari 2019, UAH menjelaskan pandangannya tentang apakah kebaikan orang non-Muslim dapat membawa mereka ke surga.

“Ini pertanyaan paling bagus, tapi terlambat karena 15 abad yang lalu pernah ditanyakan oleh Sayyidah Aisyah kepada Rasul,” ujar UAH dalam video tersebut, sebagaimana dikutip dari salah satu sumber, pada Senin (9/12/2024).

Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Pengganti Gus Miftah? Ini Riwayat Pendidikannya

Dalam penjelasannya, UAH menyebut bahwa Allah SWT telah memberikan jawaban melalui Surat Al-Furqan, yang menegaskan adanya pemisahan antara hukum dunia dan akhirat dalam menyikapi hal ini.

Menurut UAH, hukum yang berlaku setelah seseorang meninggal adalah hukum akhirat. Dalam konteks ini, terdapat dua bekal utama yang menjadi pedoman, yaitu iman dan amal saleh.

“Bekal akhirat ada dua, satu iman dan kedua amal saleh,” jelasnya.

UAH menjelaskan bahwa amal baik seseorang hanya dapat menjadi amal saleh apabila dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Sebaliknya, amal baik tanpa iman tidak dianggap sebagai amal saleh dalam perspektif akhirat.

“Persoalan duniawi dia (non-Muslim) lulus, tapi persoalan iman dia gagal dan tidak menjadi amal saleh,” tegasnya.

Baca Juga: Kisah Zahir bin Haram Mirip Pak Sunhaji, Pedangan dari Suku Baduwi di Masa Nabi yang Sering Direndahkan Orang

Ia juga menambahkan bahwa kebaikan non-Muslim yang dilakukan dengan orientasi duniawi hanya akan mendapat balasan di dunia, bukan di akhirat. Hal ini, menurutnya, adalah bentuk keadilan Allah SWT.

“Karena Allah Maha Adil, maka Allah balas semua perbuatan baiknya di dunia karena dia mengerjakan (kebaikan) dalam konteks dunia,” tutupnya.

Pandangan ini mempertegas keyakinan UAH bahwa iman merupakan syarat utama agar amal baik dapat diterima di akhirat, sehingga orang yang di dunianya tidak beriman, meski baik, tidak akan mendapatkan surga. Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.