Akurat

Kalender Weton Jawa Desember 2024 Trending, Apa Hukum Meyakini Weton dalam Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 9 Desember 2024, 08:00 WIB
Kalender Weton Jawa Desember 2024 Trending, Apa Hukum Meyakini Weton dalam Islam?

AKURAT.CO Weton Jawa, sistem penanggalan tradisional Jawa, merupakan perpaduan kalender Islam (Hijriah), kalender Masehi, dan kalender Saka.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, weton sering digunakan untuk berbagai tujuan, seperti menentukan hari pernikahan, memulai usaha, atau memprediksi keberuntungan seseorang berdasarkan kombinasi hari dan pasaran.

Pada Desember 2024, banyak orang mencari kalender weton untuk memeriksa hari baik atau buruk, menunjukkan bahwa tradisi ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa. Namun, bagaimana Islam memandang keyakinan terhadap weton?

Tradisi dan Keyakinan Weton dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, keyakinan terhadap hari baik atau buruk sangat berkaitan dengan akidah tauhid, yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu.

Meyakini bahwa hari tertentu membawa keberuntungan atau kesialan, sebagaimana dalam tradisi weton, dapat bertentangan dengan prinsip tauhid jika diyakini secara mutlak tanpa dasar syariat.

Dalam Islam, segala sesuatu, termasuk keberuntungan atau musibah, terjadi atas kehendak Allah semata. Firman Allah dalam Al-Qur'an menyatakan:

قُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

"Katakanlah: 'Sesungguhnya yang mengetahui perkara gaib hanyalah Allah, maka tunggulah; sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu.'" (QS. Yunus: 20).

Baca Juga: Nonton Film Layarkaca21 LK21 IndoXXI Disebut Tidak Resmi dan Berbahaya, Ini 5 Pesan Islam Soal Konsumsi Tontonan

Ayat ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang hal-hal gaib, termasuk nasib atau takdir manusia, hanya milik Allah.

Mengaitkan nasib dengan perhitungan weton tanpa dasar yang jelas bisa termasuk dalam kategori tathayyur (percaya kepada pertanda buruk), yang dilarang dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

"Tathayyur itu syirik." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Makna dari tathayyur adalah meyakini adanya pengaruh buruk dari sesuatu, seperti waktu atau tempat, yang pada hakikatnya tidak memiliki pengaruh sama sekali.

Keyakinan seperti ini dianggap syirik kecil karena bisa mengurangi keimanan kepada Allah sebagai satu-satunya sumber segala kebaikan dan keburukan.

Tradisi Weton: Antara Budaya dan Agama

Namun, tidak semua tradisi yang berhubungan dengan weton otomatis bertentangan dengan Islam.

Jika weton hanya digunakan sebagai bentuk penghormatan budaya tanpa meyakini pengaruh gaibnya, maka hal itu dapat dianggap mubah (diperbolehkan).

Sebagai contoh, memilih hari tertentu untuk acara pernikahan demi menghormati adat keluarga besar, selama tidak disertai keyakinan bahwa hari tersebut membawa keberuntungan atau kesialan, adalah sesuatu yang tidak masalah.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

"Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR. Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa segala amalan yang dilakukan harus sesuai dengan prinsip tauhid dan tidak boleh mengandung unsur-unsur syirik atau takhayul. Keyakinan terhadap weton harus dipilah antara sekadar bagian dari adat dan hal-hal yang melanggar akidah Islam.

Baca Juga: Link Download Kalender Jawa 2025 Versi PDF Lengkap dengan Weton dan Pasarannya

Kalender weton Desember 2024 yang trending mencerminkan bagaimana tradisi ini tetap eksis di masyarakat. Dalam Islam, hukum meyakini weton tergantung pada niat dan keyakinan seseorang.

Jika digunakan hanya untuk menghormati adat tanpa mengaitkannya dengan nasib atau takdir, hal ini diperbolehkan. Namun, jika diyakini bahwa weton memiliki kekuatan gaib yang menentukan keberuntungan atau kesialan, maka keyakinan tersebut dilarang.

Islam mengajarkan umatnya untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah dan menjauhi segala bentuk keyakinan yang mengarah pada syirik.

Dalam konteks budaya, penting untuk menjadikan syariat sebagai tolok ukur sehingga tradisi yang dilestarikan tetap sejalan dengan nilai-nilai tauhid dan ajaran Islam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.