AKURAT.CO Memilih pemimpin adalah tanggung jawab besar dalam Islam. Dalam situasi di mana hampir semua calon pemimpin terindikasi korupsi, umat Muslim kerap bingung menentukan pilihan.
Namun, Islam memberikan panduan yang jelas dalam menghadapi dilema semacam ini, dengan dasar yang kokoh dari Al-Qur'an dan Hadis.
Allah SWT menekankan pentingnya amanah dan kejujuran dalam kepemimpinan. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman;
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..."
(QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menekankan bahwa seorang pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjaga amanah dengan baik. Jika semua calon terindikasi tidak jujur, maka pilihlah yang memiliki potensi paling kecil untuk menyalahgunakan kekuasaan, serta tetap mengedepankan keinginan untuk memperbaiki keadaan.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan serius terkait kepemimpinan yang zalim. Beliau bersabda:
إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
"Apabila urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya."
(HR. Bukhari, no. 59).
Baca Juga: PDIP Ungkap Keterlibatan Parcok, Terutama di Pilkada Sumut 2024
Hadis ini menjadi pengingat bahwa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat adalah awal dari kehancuran.
Namun, saat berada di antara pilihan-pilihan sulit, kita tetap diwajibkan berusaha memilih pemimpin yang paling mendekati sifat ahli dalam menjaga amanah, meskipun tidak sempurna.
Dalam situasi seperti ini, doa dan istikharah menjadi kunci utama. Rasulullah SAW mengajarkan istikharah sebagai cara untuk meminta petunjuk Allah ketika berada dalam kebingungan.
Dalam doa istikharah, kita memohon kepada Allah agar diberikan pilihan terbaik, sebagaimana disebutkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ
"Ya Allah, aku memohon petunjuk dari-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kekuatan dari-Mu dengan kekuasaan-Mu..."
(HR. Bukhari, no. 1162)
Setelah doa ini, kita harus melakukan ijtihad, yakni usaha rasional dan bertanggung jawab dalam memilih pemimpin yang paling mungkin memberikan kebaikan untuk umat. Rasulullah juga menasihati untuk melihat rekam jejak dan perbuatan calon pemimpin:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung pada niatnya..."
(HR. Bukhari, no. 1)
Dengan kata lain, jika seorang calon memiliki niat baik yang tampak jelas melalui tindakan-tindakannya, meskipun ia tidak sempurna, ia lebih layak dibandingkan yang lain.
Sebagai umat Islam, kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem politik duniawi. Kita juga harus menjadi pengawas yang aktif terhadap para pemimpin. Rasulullah bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya..."
(HR. Bukhari, no. 893).
Baca Juga: Tokoh Islam Pendukung Anies Ramai-Ramai Hijrah dan Nyatakan Dukungan untuk Ridwan Kamil-Suswono
Oleh karena itu, pilihlah pemimpin yang paling mungkin mendekati kebenaran, dan tetaplah menjalankan kewajiban sebagai warga yang aktif, mengawasi jalannya pemerintahan, dan melaporkan kezaliman jika terjadi.
Dengan demikian, memilih pemimpin yang baik bukan hanya soal politik, melainkan bentuk ibadah dan amanah yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.