Akurat

Apa Alasan Nabi Muhammad SAW Menikah dengan Siti Khadijah RA?

Fajar Rizky Ramadhan | 29 Oktober 2024, 09:00 WIB
Apa Alasan Nabi Muhammad SAW Menikah dengan Siti Khadijah RA?

AKURAT.CO Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA memiliki kisah pernikahan yang penuh hikmah dan teladan.

Pernikahan ini bukan hanya ikatan cinta antara dua insan, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam perjalanan kenabian Rasulullah SAW.

Alasan di balik pernikahan ini dapat dilihat dari beberapa aspek: kematangan emosional, peran sosial, dan takdir Allah SWT.

Siti Khadijah RA adalah seorang wanita terpandang di Makkah. Ia dikenal sebagai saudagar kaya yang bijaksana dan berakhlak mulia.

Sebelum bertemu Nabi Muhammad SAW, Khadijah telah menikah dua kali dan dikaruniai anak dari pernikahan sebelumnya.

Namun, setelah menjadi janda, Khadijah tidak tergesa-gesa menikah lagi, meskipun banyak bangsawan Quraisy yang melamarnya.

Pertemuan antara Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah terjadi ketika beliau bekerja sebagai pedagang yang mengelola bisnis Khadijah.

Kejujuran dan integritas Nabi, yang saat itu belum diangkat sebagai rasul, sangat memikat hati Khadijah. Rasulullah SAW dikenal dengan gelar al-Amin (yang terpercaya) karena sifat amanahnya dalam berdagang. Hal ini sejalan dengan firman Allah:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4).

Baca Juga: Mahar Nabi Muhammad Menikahi Siti Khadijah 20 Ekor Unta, Berapa Rupiah Jika Ditotalkan?

Khadijah melihat bahwa Muhammad memiliki kepribadian yang luhur, jauh melampaui penilaian materi dan status.

Ia tergerak untuk menawarkan pernikahan, meskipun perbedaan usia antara mereka cukup jauh; Khadijah berusia 40 tahun, sementara Muhammad SAW berusia 25 tahun.

Inisiatif ini menunjukkan bagaimana Khadijah menilai akhlak dan moral lebih tinggi daripada aspek-aspek duniawi.

Pernikahan mereka dilandasi cinta dan dukungan emosional yang mendalam. Khadijah bukan hanya istri, tetapi juga partner dan pendukung utama dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Ketika Nabi pertama kali menerima wahyu di Gua Hira dan merasa takut, Khadijah segera menenangkan beliau dengan penuh cinta dan keyakinan. Dalam riwayat, Khadijah berkata:

كَلَّا وَاللَّهِ، مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau selalu menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada yang tak punya, memuliakan tamu, dan membantu dalam setiap kesulitan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Khadijah mendukung Rasulullah dengan sepenuh jiwa dan hartanya dalam menyebarkan risalah Islam, meski harus menghadapi tekanan dan pengucilan dari masyarakat Quraisy.

Selama hidup bersama, Nabi SAW tidak pernah menikahi wanita lain hingga Khadijah wafat. Hal ini menunjukkan betapa besar cinta dan penghormatan Nabi kepada istrinya.

Secara spiritual, pernikahan ini juga merupakan bentuk ketetapan ilahi. Allah SWT memilih Khadijah sebagai pendamping Nabi di masa-masa paling sulit, sebelum dan saat awal kenabian.

Baca Juga: Sederet Pekerjaan Nabi Muhammad saat Menikahi Siti Khadijah, Menolak Anggapan Nabi Pengangguran

Kehadiran Khadijah memberikan ketenangan dan kekuatan kepada Nabi SAW dalam mengemban misi dakwah. Dalam hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda:

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ

"Sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Khadijah binti Khuwailid." (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara keseluruhan, pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA adalah contoh tentang bagaimana cinta, kejujuran, dan dukungan emosional dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi sebuah rumah tangga.

Pernikahan ini juga mengajarkan kepada umat Islam pentingnya memilih pasangan hidup berdasarkan akhlak dan ketulusan hati, bukan semata-mata harta atau penampilan.

Dengan segala keteladanannya, Siti Khadijah RA dikenang sebagai sosok istri, ibu, dan wanita teladan sepanjang masa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.