5 Aktivitas Orang Jawa yang Berpedoman pada Kalender Jawa Weton, Apa Saja?

AKURAT.CO Kalender Jawa bukan hanya sistem penanggalan biasa. Di balik deretan angka dan nama hari, tersimpan warisan budaya yang telah hidup ratusan tahun di tengah masyarakat Jawa.
Salah satu ciri khasnya adalah sistem weton—gabungan antara tujuh hari dalam sepekan dan lima pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon).
Kombinasi ini menghasilkan 35 hari unik yang menjadi acuan dalam berbagai aktivitas masyarakat. Banyak orang Jawa yang masih menggunakan weton untuk mengambil keputusan penting dalam hidup. Apa saja aktivitas itu? Berikut lima contohnya:
1. Menentukan Hari Pernikahan
Salah satu aktivitas paling populer yang menggunakan perhitungan weton adalah saat menentukan hari pernikahan. Dalam budaya Jawa, tidak semua hari dianggap baik untuk menikah.
Pasangan dan keluarga biasanya mencocokkan weton kedua mempelai untuk mengetahui kecocokan, potensi rezeki, keberkahan rumah tangga, hingga risiko masalah dalam hubungan.
Proses ini dikenal sebagai hitungan jodoh atau petung jodho. Jika weton dianggap tidak cocok, maka dicari hari yang bisa "menetralisir" kecocokan agar tetap bisa melangsungkan pernikahan dengan selamat.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Kamis 17 Juli 2025, Begini Hukum Muslim Meyakininya
2. Mencari Hari Baik Memulai Usaha
Masyarakat Jawa yang memulai usaha atau membuka toko juga kerap mencari hari baik berdasarkan weton. Mereka percaya bahwa memilih hari yang tepat dapat membawa lancar rezeki, keberuntungan, dan menjauhkan dari kesialan.
Hitungan ini biasa dilakukan dengan melihat neptu hari dan pasaran, lalu dikaitkan dengan jenis usaha yang akan dibuka. Contohnya, membuka warung makan akan dipilih pada weton yang dianggap cocok dengan elemen air dan rezeki.
3. Memberi Nama Anak
Penamaan anak dalam tradisi Jawa tidak dilakukan sembarangan. Orang tua seringkali menunggu hari tertentu untuk memberi nama, dan bahkan memilih nama berdasarkan weton kelahiran si anak.
Dalam hitungan ini, setiap weton diyakini memiliki karakter tertentu. Misalnya, anak yang lahir pada Sabtu Pahing dianggap memiliki jiwa kepemimpinan, sementara mereka yang lahir pada Selasa Wage cenderung pendiam dan teliti. Nama anak kemudian disesuaikan dengan harapan akan watak dan nasibnya kelak.
4. Upacara Kematian dan Hari Selamatan
Kalender Jawa juga digunakan untuk menghitung waktu selamatan atau kenduri setelah seseorang wafat. Rangkaian hari penting seperti nelung dina (hari ke-3), mitung dina (hari ke-7), patang puluh dina (hari ke-40), hingga nyatus (hari ke-100), semuanya diambil berdasarkan weton dan siklus hari Jawa.
Weton orang yang meninggal juga digunakan untuk menghitung hari nyewu (hari ke-1000) yang dipercaya sebagai momen ruh telah menyempurnakan perjalanannya.
Baca Juga: Kalender Jawa Kamis 17 Juli 2025: Kamis Kliwon, Weton Rezeki dan Keberuntungan
5. Memilih Hari Pindahan Rumah
Percaya atau tidak, masih banyak keluarga Jawa yang tidak mau pindahan rumah sembarangan. Hari pindahan biasanya dihitung berdasarkan weton kepala keluarga atau pemilik rumah.
Perhitungan ini bertujuan untuk menghindari sengkolo (kesialan) dan agar rumah baru membawa berkah, rezeki yang mengalir, serta hubungan yang harmonis antar penghuni rumah.
Bagi sebagian masyarakat, aktivitas-aktivitas ini bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari cara hidup yang dijalani turun-temurun. Walau generasi muda semakin terpapar budaya modern, banyak dari mereka yang tetap melestarikan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Namun demikian, penting bagi umat Islam untuk menyikapi tradisi ini dengan bijak. Selama weton tidak diyakini memiliki kekuatan gaib atau menentukan nasib secara mutlak, maka menggunakannya sebagai bagian dari adat sosial bisa diterima sebagai bentuk kearifan lokal.
Sebaliknya, jika keyakinan terhadap weton sampai menggeser kepercayaan pada takdir Allah, maka hal itu perlu dikritisi secara akidah.
Dengan pemahaman yang proporsional, warisan budaya seperti kalender Jawa weton dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas masyarakat tanpa mengorbankan nilai-nilai keimanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









