Akurat

1 Oktober Memperingati Hari Apa? Apakah Terbentuknya Pancasila Memiliki Kaitan dengan Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 1 Oktober 2024, 06:30 WIB
 1 Oktober Memperingati Hari Apa? Apakah Terbentuknya Pancasila Memiliki Kaitan dengan Islam?

AKURAT.CO 1 Oktober memperingati hari apa? Jawabannya, setiap tanggal 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Hari ini diadakan sebagai peringatan untuk mengenang keberhasilan bangsa Indonesia dalam mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman ideologi lain, khususnya saat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang dipelopori oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965.

Pada 1 Oktober 1965, setelah kudeta yang gagal, militer Indonesia berhasil mengendalikan situasi dan Pancasila tetap tegak sebagai dasar negara.

Namun, ketika berbicara mengenai Pancasila, banyak yang bertanya tentang akar dan sejarah terbentuknya Pancasila serta apakah ia memiliki kaitan dengan Islam.

Pancasila dan Sejarah Pembentukannya

Pancasila sebagai dasar negara dirumuskan pertama kali oleh para pendiri bangsa dalam rangka sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.

Pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang mengusulkan lima dasar negara yang disebutnya sebagai Pancasila. Kelima sila tersebut kemudian menjadi dasar bagi berdirinya negara Indonesia.

Namun, dalam perjalanan menuju proklamasi kemerdekaan, diskusi intensif berlangsung mengenai bunyi sila pertama Pancasila.

Baca Juga: 5 Nilai Kesaktian Pancasila Menurut Islam

Awalnya, dalam Piagam Jakarta yang disepakati pada 22 Juni 1945, bunyi sila pertama adalah "Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya."

Akan tetapi, demi menjaga persatuan dan untuk menampung semua golongan dalam masyarakat Indonesia yang beragam, kalimat tersebut diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" pada 18 Agustus 1945.

Apakah Pancasila Memiliki Kaitan dengan Islam?

Jawabannya adalah ya, namun dengan nuansa yang kompleks. Islam memainkan peran signifikan dalam perumusan awal Pancasila, terutama dalam perdebatan seputar sila pertama.

Saat itu, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, dan para tokoh Islam berjuang agar nilai-nilai agama tersebut tercermin dalam dasar negara.

Tokoh-tokoh seperti Muhammad Hatta, Agus Salim, dan Ki Bagus Hadikusumo sangat vokal dalam memperjuangkan unsur-unsur Islam dalam Pancasila.

Namun, Pancasila sendiri dirancang sebagai dasar negara yang inklusif, yang tidak hanya untuk satu agama atau kelompok tertentu.

Dalam sejarahnya, proses kompromi yang terjadi, seperti penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia berusaha untuk menjaga keseimbangan antara nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebangsaan.

Para tokoh seperti Soekarno dan Hatta menekankan bahwa Pancasila, meskipun berakar pada nilai-nilai agama, khususnya Islam, tetap harus menjadi dasar negara yang melayani seluruh rakyat Indonesia, baik yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, maupun yang menganut kepercayaan lokal.

Pandangan Tokoh Terhadap Pancasila dan Islam

Beberapa tokoh penting memberikan pandangan yang berbeda mengenai hubungan Pancasila dengan Islam.

Soekarno, sebagai salah satu perumus Pancasila, menyatakan bahwa Pancasila mencerminkan kesatuan nasional yang memadukan berbagai unsur agama dan kepercayaan di Indonesia, termasuk Islam.

Dalam pandangannya, Pancasila adalah bentuk kompromi yang luhur antara berbagai aliran pemikiran, termasuk Islam dan sekularisme.

Di sisi lain, tokoh-tokoh Islam seperti Mohammad Natsir dan Ki Bagus Hadikusumo berpendapat bahwa Pancasila tetap bisa sejalan dengan ajaran Islam selama Pancasila dipahami sebagai landasan moral yang berlandaskan nilai-nilai universal, seperti keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan.

Baca Juga: 15 Link Twibbon Hari Kesaktian Pancasila 2024, Gratis dan Estetik

Mereka menganggap bahwa sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa," masih sesuai dengan prinsip tauhid dalam Islam, yang menekankan keesaan Tuhan.

Pancasila, sebagai dasar negara, memang memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai Islam, terutama dalam proses perumusan awalnya. Namun, ia dirancang untuk menampung semua agama dan kepercayaan di Indonesia.

Perubahan pada sila pertama dari Piagam Jakarta menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" merupakan simbol dari upaya menciptakan dasar negara yang inklusif dan menjaga persatuan nasional.

Oleh karena itu, Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober menjadi momen penting untuk merayakan Pancasila sebagai perekat bangsa, yang walaupun memiliki elemen-elemen Islam dalam sejarah pembentukannya, tetap mencerminkan semangat kebangsaan dan keindonesiaan yang inklusif bagi semua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.