AKURAT.CO Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang telah lama dipraktikkan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia.
Setiap tahunnya, umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada beliau.
Namun, ada sebagian kalangan yang mempertanyakan keabsahan peringatan Maulid Nabi, bahkan menganggapnya sebagai bid'ah.
Apakah peringatan Maulid Nabi tergolong bid'ah atau tidak? Mari kita telusuri lebih lanjut dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an, Hadis, dan pandangan para ulama.
Pengertian Bid'ah
Secara bahasa, bid'ah berarti sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya. Dalam konteks agama, bid'ah didefinisikan sebagai setiap bentuk ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:
Baca Juga: 45 Kata-kata Selamat Memperingati Maulid 2024, Sambut Kelahiran Rasulullah SAW
"مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ"
"Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami yang tidak berasal darinya, maka itu tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sering dijadikan landasan oleh mereka yang menolak peringatan Maulid Nabi. Mereka berpendapat bahwa peringatan ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, atau generasi pertama Islam (Salaf), sehingga dianggap sebagai bid'ah.
Pendapat Ulama Tentang Peringatan Maulid Nabi
Namun, ada pula ulama yang memandang bahwa peringatan Maulid Nabi tidak dapat langsung dianggap sebagai bid'ah yang tercela. Mereka membagi bid'ah menjadi dua kategori: bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dhalalah (sesat). Imam Asy-Syafi’i, salah satu imam mazhab yang besar, berkata:
"البدعة بدعتان، بدعة محمودة وبدعة مذمومة، فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم"
"Bid'ah terbagi menjadi dua: bid'ah yang terpuji dan bid'ah yang tercela. Apa yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji, dan apa yang bertentangan dengan sunnah adalah tercela." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi)
Menurut ulama yang mendukung Maulid, selama peringatan tersebut diisi dengan hal-hal yang baik, seperti membaca Al-Qur'an, bershalawat kepada Nabi, dan mengenang sejarah hidup Rasulullah, maka hal tersebut masuk dalam kategori bid'ah hasanah.
Dalil yang Mendukung Peringatan Maulid Nabi
Salah satu dalil yang digunakan untuk mendukung peringatan Maulid Nabi adalah firman Allah dalam Al-Qur'an:
"وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ"
"Dan ingatkanlah mereka pada hari-hari Allah." (QS. Ibrahim: 5)
Ayat ini dianggap oleh sebagian ulama sebagai perintah untuk mengingat dan memperingati hari-hari bersejarah dalam Islam, termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana Allah berfirman:
Baca Juga: 15 Ucapan Maulid Nabi 16 September 2024 untuk Baginda Rasulullah SAW, Penuh Kerinduan dan Cinta
"وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ"
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)
Dalam konteks ini, memperingati Maulid Nabi dianggap sebagai bentuk syukur atas rahmat yang diberikan Allah kepada umat manusia dengan diutusnya Rasulullah SAW.
Kesimpulannya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak secara eksplisit diperintahkan dalam Al-Qur'an atau Hadis, tetapi tidak pula dilarang.
Selama peringatan ini diisi dengan amalan-amalan yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti membaca Al-Qur'an, shalawat, dan mengenang kehidupan Rasulullah, maka sebagian ulama menganggapnya sebagai bid'ah hasanah yang tidak tercela.
Namun, penting untuk diingat bahwa setiap amalan yang dilakukan harus tetap sesuai dengan syariat dan tidak menambah-nambah perkara yang dilarang dalam agama.
Jadi, apakah peringatan Maulid Nabi bid'ah atau bukan? Jawabannya sangat tergantung pada bagaimana peringatan tersebut dilakukan dan pandangan mazhab atau ulama yang diikuti.