AKURAT.CO Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.
Bagi umat Islam, peringatan ini merupakan momentum untuk mengingat keluhuran akhlak dan perjuangan Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam.
Namun, peringatan ini sering kali menimbulkan pertanyaan tentang dasar hukumnya, terutama dari segi dalil syar’i. Lalu, apa saja dalil yang mendukung peringatan Maulid Nabi?
Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan peringatan Maulid dalam Al-Qur'an, terdapat beberapa ayat yang dapat dijadikan landasan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Kumpulan Doa Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Salah satunya adalah perintah Allah untuk bersyukur atas rahmat yang diberikan, termasuk di dalamnya kelahiran Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam:
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
(QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. Oleh karena itu, memperingati kelahiran beliau adalah bentuk rasa syukur atas rahmat yang besar tersebut.
Selain itu, Allah juga memerintahkan umat Islam untuk bergembira atas rahmat-Nya:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
"Katakanlah: 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.'"
(QS. Yunus: 58)
Menurut para ulama, "rahmat" dalam ayat ini dapat diartikan sebagai Nabi Muhammad SAW. Maka, bergembira dan memperingati Maulid Nabi merupakan bentuk perwujudan dari perintah ayat ini.
Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, tidak ada larangan langsung mengenai peringatan Maulid. Bahkan, terdapat beberapa hadis yang menunjukkan kebolehan memperingati hal-hal baik yang berkaitan dengan Nabi Muhammad. Salah satunya adalah riwayat tentang puasa hari Senin:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ: فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ
"Dari Abu Qatadah al-Anshari berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab: 'Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.'"
(HR. Muslim No. 1162)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada hari kelahirannya dengan melakukan ibadah puasa. Dengan demikian, memperingati hari kelahiran beliau, termasuk dengan bentuk ibadah lainnya, bisa dianggap sebagai sesuatu yang dianjurkan.
Baca Juga: 15 Link Download Poster Maulid Nabi 2024, Desain Keren dan Cocok Dibagikan di Medsos
Mayoritas ulama dari berbagai mazhab seperti Syafi’i, Maliki, dan Hanafi, juga menganggap peringatan Maulid Nabi sebagai sesuatu yang baik selama tidak disertai dengan hal-hal yang melanggar syariat. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya Husnul Maqsid fi Amalil Maulid menyebutkan bahwa:
"Menurutku, memperingati Maulid Nabi SAW yang dilakukan dengan berkumpulnya orang-orang, membaca Al-Qur'an, menyebut kisah-kisah yang berhubungan dengan kelahiran Nabi Muhammad, dan menyantuni fakir miskin adalah salah satu bentuk ibadah yang membawa kebaikan dan pahala bagi pelakunya."
Selain itu, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani juga berpendapat bahwa Maulid Nabi adalah bentuk ibadah yang dibolehkan selama dilakukan dengan tata cara yang baik.
Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur'an, hadis, dan pendapat para ulama, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dapat dianggap sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Peringatan ini juga merupakan kesempatan untuk mengingat dan meneladani akhlak mulia Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penting untuk selalu menjaga agar peringatan Maulid tidak diiringi dengan amalan-amalan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Semoga kita dapat terus meneladani sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW dan meraih keberkahan dari peringatan Maulid yang kita lakukan.