AKURAT.CO Dalam ajaran Islam, menghormati sesama manusia, termasuk pemimpin atau tokoh agama dari kalangan lain, merupakan bagian dari akhlak mulia yang sangat dianjurkan.
Prinsip ini selaras dengan nilai-nilai universal Islam yang menekankan kasih sayang, toleransi, dan saling menghormati di antara umat manusia, meskipun berbeda keyakinan.
Dalil Al-Qur'an Tentang Toleransi dan Penghormatan
Islam menekankan pentingnya sikap adil dan penuh penghormatan terhadap semua orang, tanpa melihat perbedaan agama. Salah satu dalil yang sering dikutip dalam konteks ini adalah firman Allah dalam Al-Qur'an:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Baca Juga: Tangan Nasaruddin Umar Dicium Paus Fransiskus, Siapa Sosok Imam Besar Masjid Istiqlal Itu?
Ayat ini menegaskan bahwa seorang Muslim tidak hanya boleh berbuat baik, tetapi juga harus berlaku adil terhadap semua manusia, termasuk mereka yang berbeda keyakinan, selama mereka tidak memerangi atau menindas kaum Muslim.
Hadis Tentang Penghormatan
Selain Al-Qur'an, terdapat hadis Nabi Muhammad SAW yang juga menekankan penghormatan terhadap orang lain, terlepas dari latar belakang agama. Salah satu hadis yang relevan adalah:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyakiti tetangganya." (HR. Bukhari)
Dalam konteks ini, tetangga yang dimaksud bisa mencakup siapa saja, termasuk mereka yang beragama lain. Hadis ini menegaskan pentingnya hidup rukun, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan antar umat beragama.
Menjaga Hubungan Baik dan Menghormati Pemimpin Agama Lain
Islam mengajarkan bahwa kita harus menghormati otoritas dan pemimpin, termasuk pemimpin agama dari kalangan lain.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, para pemimpin agama sering kali berperan dalam menjaga kedamaian dan harmoni di tengah masyarakat yang beragam.
Oleh karena itu, menghormati mereka adalah bagian dari menjaga persatuan dan kerukunan, yang juga sangat dianjurkan dalam Islam.
Dalam surat Al-Hujurat ayat 13, Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal dan menghormati satu sama lain:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)
Baca Juga: Misa Akbar yang Dipimpin Paus Fransiskus Selesai, Jemaat Bubarkan Diri
Dari dalil-dalil di atas, jelas bahwa Islam menganjurkan sikap saling menghormati dan berlaku adil terhadap semua orang, termasuk pemimpin dan tokoh agama lain.
Selama mereka tidak memusuhi atau menindas umat Islam, sikap saling menghormati dan menghargai sangat dianjurkan.
Ini merupakan cerminan dari prinsip-prinsip keadilan, toleransi, dan kasih sayang yang menjadi inti ajaran Islam.