Akurat

Tafsir Surah An-Nisa’ Ayat 58: Pemimpin Yang Amanah, Ini Yang Harus Dilakukan Kepada Rakyatnya

Lufaefi | 29 November 2023, 17:38 WIB
Tafsir Surah An-Nisa’ Ayat 58: Pemimpin Yang Amanah, Ini Yang Harus Dilakukan Kepada Rakyatnya

AKURAT.CO - Amanah merujuk pada sesuatu yang percayakan kepada pihak lain untuk dijaga dan dikembalikan ketika dibutuhkan atau diminta oleh pemiliknya. 

Amanah hanya diberikan kepada orang  yang dianggap mampu menjaga dengan baik apa yang telah dipercayakan kepadanya. 

Contohnya dalam konteks pemerintahan, rakyat memberikan amanah kepemimpinan kepada presiden dan wakilnya untuk menjalankan tugas-tugas pemerintahan dengan adil.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 54: Orang-orang Palestina Yang Wafat Terbunuh Oleh Israel Ternyata Tidak Mati

Dalam Surah An-Nisa Ayat 58 Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا 

Artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (memerintahkan kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia untuk menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat,” (Surat An-Nisa’ ayat 58).

Mengutip dari NU Online, Beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan terkait peristiwa Fathu Makkah, yaitu saat Kota Mekah berhasil dikuasai dengan aman dan damai.

Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW meminta kunci Ka'bah yang dipegang oleh Utsman bin Talhah Al-Hajabi Al-Abdari dan Syaibah bin Utsman bin Abi Talhah, saudara sepupu yang menjabat sebagai penjaga kunci Ka'bah.

Beberapa riwayat mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan secara khusus untuk Nabi Muhammad SAW dalam konteks permintaan kunci Ka'bah. 

Kisahnya menceritakan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib meminta kunci tersebut dari Utsman dan Syaibah. Awalnya, Syaibah merasa ragu untuk menyerahkan kunci itu karena khawatir tidak akan dikembalikan. 

Namun, akhirnya kunci itu diserahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan menggunakan kunci tersebut, Nabi masuk ke dalam Ka'bah, melakukan shalat dua rakaat, dan menghancurkan berhala yang ada di dalamnya. 

Setelah keluar dari Ka'bah, Nabi Muhammad membaca ayat yang disebutkan di atas (An-Nisa’ ayat 58).

Beliau kemudian memanggil Utsman dan Syaibah, lantas berkata kepada keduanya sebagai berikut:

 خذاها خالدة تالدة لا ينزعها منكم إلا ظالم 

Artinya, “Silakan ambil kunci ini. Pegang selamanya secara turun-temurun. Tidak akan ada yang boleh mengambil kunci ini dari kalian kecuali orang yang zalim.”

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Ma'idah Ayat 21: Yerussalem Bukan Milik Zionis Israel, Tetapi Milik Orang-orang Mukmin

Pesan dari ayat An-Nisa’ ayat 58 berlaku secara umum, menekankan bahwa amanah atau jabatan harus diberikan kepada orang yang layak, kapan pun dan di mana pun itu terjadi. 

Dalam  pemerintahan, hal ini menekankan pentingnya proses legal seperti demokrasi dalam penunjukan jabatan. 

Oleh karena itu, dalam pemilihan umum, rakyat diwajibkan menyerahkan jabatan seperti presiden, gubernur, dan lainnya kepada pemenang kontestasi pemilihan tersebut, kemudian taat pada keputusan tersebut.

Sebenarnya dalam surah An-Nisa’ ayat 58 mencakup pesan dua arah. Pertama, kewajiban rakyat untuk memberikan jabatan kepemimpinan kepada orang yang berhak dan pantas.

Kedua, kewajiban pemimpin untuk memenuhi janji-janji dan hak-hak rakyat.

Ini adalah inti dari amanah yang harus dilaksanakan oleh siapapun, dan memiliki karakter wajib dalam ajaran Islam.

Perintah menjaga amanah dan sikap adil dalam Surat An-Nisa’ ayat 58 berlaku secara universal, mencakup setiap individu. 

Dalam Tafsir Al-Khawatir karya Syekh Mutawalli As-Sya’rawi, dijelaskan bahwa sikap adil ini penting bagi setiap individu, bahkan dalam hal-hal yang dianggap remeh sekalipun.

Keadilan merupakan perintah Allah kepada seluruh umat manusia. Dalam Surat An-Nisa’ ayat 58, disoroti bahwa kewajiban memiliki sikap adil berlaku untuk semua manusia, tidak hanya terbatas pada golongan atau kelompok tertentu, termasuk agama atau suku.[]

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

T
Lufaefi
Editor
Lufaefi