Akurat

Ketentuan Puasa bagi Penderita Asma dan Cara Menjalankannya dengan Aman

Redaksi Akurat | 14 Februari 2026, 16:33 WIB
Ketentuan Puasa bagi Penderita Asma dan Cara Menjalankannya dengan Aman

AKURAT.CO Bulan Ramadan selalu menjadi momen yang dinantikan umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, termasuk menjalankan puasa selama sebulan penuh. Namun, bagi sebagian orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti asma, muncul pertanyaan besar tentang kewajiban berpuasa dan keabsahan ibadah tersebut.

Banyak penderita asma merasa ragu, terutama ketika harus menggunakan obat atau inhaler untuk menjaga pernapasan tetap stabil.

Kondisi ini sering menimbulkan dilema. Di satu sisi, mereka ingin tetap menjalankan kewajiban puasa sebagaimana umat Islam lainnya.

Di sisi lain, ada kekhawatiran mengenai kesehatan serta status sah atau tidaknya puasa ketika menggunakan pengobatan asma.

Baca Juga: Kenali Gejala Penyakit Asma Pada Anak, IDI Kabupaten Cilacap Berikan Rekomendasi Obat

Apakah Penderita Asma Wajib Berpuasa?

Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan diwajibkan bagi setiap muslim yang sehat dan mampu menjalankannya. Namun, terdapat keringanan bagi mereka yang mengalami sakit, terutama jika kondisi tersebut dapat membahayakan kesehatan apabila tetap berpuasa.

Penderita asma termasuk dalam kategori yang penilaiannya bergantung pada kondisi masing-masing individu.

Tidak semua pengidap asma memiliki tingkat keparahan yang sama. Ada yang masih dapat beraktivitas normal tanpa gangguan berarti, tetapi ada pula yang membutuhkan pengobatan rutin untuk menjaga saluran pernapasan tetap terbuka.

Bagi penderita asma yang kondisi kesehatannya stabil dan tidak membahayakan jika berpuasa, maka ibadah puasa tetap sah dan diperbolehkan untuk dijalankan. Namun, jika puasa berpotensi memperburuk kondisi pernapasan atau memicu serangan asma berat, Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di waktu lain ketika kondisi sudah membaik.

Sahkah Puasa Jika Menggunakan Inhaler?

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengenai penggunaan inhaler selama puasa. Inhaler merupakan alat bantu yang digunakan untuk melegakan saluran pernapasan dengan cara dihirup melalui mulut atau hidung.

Dalam pembahasan fikih, penggunaan inhaler masih menjadi perbincangan karena cara kerjanya yang berbeda dengan obat minum.

Sebagian ulama berpendapat bahwa inhaler tidak membatalkan puasa karena zat yang masuk hanya menuju saluran pernapasan dan bukan ke sistem pencernaan. Selain itu, jumlah partikel obat yang masuk juga sangat kecil dan digunakan untuk kebutuhan medis mendesak.

Namun, ada pula pandangan lain yang menilai bahwa penggunaan inhaler berpotensi membatalkan puasa karena memasukkan sesuatu ke dalam tubuh melalui rongga mulut.

Perbedaan pendapat ini membuat sebagian penderita asma memilih berhati-hati dengan menggunakan inhaler di luar waktu puasa, seperti saat sahur dan setelah berbuka.

Apa yang Terjadi Jika Asma Kambuh Saat Puasa?

Serangan asma dapat muncul secara tiba-tiba, terutama ketika tubuh mengalami kelelahan, dehidrasi, atau paparan pemicu seperti debu dan udara dingin.

Jika serangan asma terjadi saat puasa dan menyebabkan sesak napas yang mengganggu, keselamatan dan kesehatan menjadi prioritas utama.

Dalam kondisi darurat, penderita asma diperbolehkan menggunakan inhaler atau mengonsumsi obat meskipun harus membatalkan puasa.

Islam menempatkan keselamatan jiwa sebagai hal yang harus didahulukan dibandingkan menjalankan ibadah dalam kondisi yang membahayakan.

Puasa yang batal karena alasan kesehatan dapat diganti di hari lain setelah kondisi tubuh kembali stabil. Keringanan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang kemudahan bagi umatnya tanpa mengabaikan nilai ibadah.

Baca Juga: 4 Tips Berolahraga Untuk Penderita Asma

Bagaimana Cara Penderita Asma Menjalani Puasa dengan Aman?

Banyak penderita asma tetap dapat menjalankan puasa dengan nyaman apabila mempersiapkan kondisi kesehatan dengan baik.

Mengatur jadwal konsumsi obat saat sahur dan berbuka menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan pernapasan selama berpuasa.

Selain itu, menjaga asupan cairan saat malam hari juga berperan besar dalam mencegah kekambuhan asma.

Dehidrasi dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan asma.

Penderita asma juga dianjurkan untuk menghindari aktivitas berat yang dapat memicu kelelahan berlebihan.

Lingkungan yang bersih dari debu dan polusi udara juga membantu mengurangi risiko kambuh selama menjalankan ibadah puasa.

Kapan Penderita Asma Sebaiknya Tidak Berpuasa?

Ada beberapa kondisi yang membuat penderita asma disarankan untuk menunda puasa, seperti ketika serangan asma sering terjadi, membutuhkan penggunaan inhaler berulang kali dalam sehari, atau ketika dokter menyatakan puasa berpotensi membahayakan kesehatan.

Dalam situasi tersebut, penderita asma dapat memanfaatkan keringanan syariat dengan mengganti puasa di lain waktu ketika kondisi sudah memungkinkan.

Jika penyakit berlangsung dalam jangka panjang dan sulit untuk sembuh, terdapat ketentuan lain yang dapat dilakukan sesuai ajaran Islam.

Setiap penderita asma memiliki kondisi yang berbeda, sehingga keputusan untuk berpuasa sebaiknya disesuaikan dengan keadaan tubuh masing-masing.

Dengan menjaga kesehatan, mengatur pola pengobatan, serta memahami ketentuan agama, penderita asma tetap dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang dan penuh keberkahan.

Arika Yafi Fawazzain (Magang) 

 

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.