Mengapa Rokok Bisa Membuat Candu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

AKURAT.CO Banyak perokok merasa sangat sulit berhenti, meskipun mereka menyadari risiko kesehatan serius yang mengintai.
Kondisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang membuat rokok bersifat sangat adiktif.
Lantas, apa yang membuat rokok begitu candu? Berikut penjelasan lengkapnya.
Penyebab Rokok Menyebabkan Kecanduan
Rokok dapat menimbulkan kecanduan terutama karena kandungan nikotin, yaitu zat yang secara langsung memengaruhi kerja otak dan tubuh.
Nikotin memicu rasa senang sesaat, sehingga mendorong seseorang untuk terus merokok. Kecanduan ini terbentuk melalui beberapa faktor utama berikut.
1. Faktor Biologis
Nikotin bekerja dengan menempel pada reseptor tertentu di otak yang berperan dalam sistem kesenangan (reward system). Ketika nikotin masuk, otak akan melepaskan dopamin, zat kimia yang menimbulkan perasaan senang dan puas.
Rasa nyaman inilah yang membuat seseorang terdorong untuk merokok berulang kali. Beberapa reseptor di otak, seperti α4, β2, α5, dan β4, diketahui memiliki peran penting dalam proses kecanduan nikotin.
Selain itu, nikotin juga memengaruhi suasana hati, tingkat kewaspadaan, dan nafsu makan. Efek ini membuat perokok merasa lebih fokus, lebih waspada, dan tidak cepat lapar, sehingga muncul perasaan “membutuhkan” rokok, terutama saat stres atau kelelahan.
Baca Juga: Pejabat OJK dan BEI Mundur di Tengah Gejolak Pasar, Hasto: Ini Teladan Kepemimpinan
2. Faktor Genetik
Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap kecanduan rokok. Faktor genetik turut berperan dalam menentukan seberapa mudah seseorang menjadi kecanduan nikotin.
Beberapa gen, seperti CHRNA5, CHRNA3, dan CHRNB4, diketahui meningkatkan risiko kecanduan.
Individu dengan variasi gen tersebut cenderung mulai merokok lebih dini, merokok lebih banyak, dan mengalami kesulitan lebih besar saat mencoba berhenti.
Penelitian pada hewan juga menunjukkan hasil serupa. Tikus dengan perubahan gen tertentu memperlihatkan respons berbeda terhadap nikotin dibandingkan tikus normal, yang menegaskan bahwa faktor genetik berpengaruh terhadap tingkat kecanduan.
3. Faktor Psikologis
Aspek psikologis juga berperan besar dalam kebiasaan merokok. Banyak orang menggunakan rokok sebagai cara untuk mengurangi stres, menenangkan diri, atau meningkatkan konsentrasi.
Nikotin memberikan rasa nyaman sementara. Namun, ketika asupan nikotin dihentikan, muncul berbagai gejala tidak nyaman seperti gelisah, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi.
Untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut, seseorang kembali merokok, sehingga kebiasaan ini terus berulang.
4. Faktor Lingkungan
Lingkungan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap kebiasaan merokok. Teman, keluarga, dan komunitas tempat seseorang berada dapat menentukan apakah ia mulai merokok atau berhasil berhenti.
Studi Framingham Heart Study menunjukkan bahwa individu yang dikelilingi oleh teman atau keluarga yang tidak merokok atau telah berhenti merokok memiliki peluang lebih besar untuk ikut berhenti.
Sebaliknya, berada di lingkungan yang mayoritas perokok membuat seseorang lebih sulit melepaskan kebiasaan tersebut.
Hal ini menegaskan bahwa kecanduan rokok tidak hanya dipengaruhi faktor biologis dan genetik, tetapi juga oleh dukungan atau tekanan sosial di sekitarnya.
Baca Juga: Restaurant Kelapa Gading London Catat Pertumbuhan Positif, Siap Tingkatkan Kapasitas Dine-In
Rokok bersifat candu karena kandungan nikotin yang memengaruhi kerja otak, tubuh, dan suasana hati. Kecanduan ini diperkuat oleh faktor biologis, genetik, psikologis, serta lingkungan sosial.
Oleh karena itu, upaya berhenti merokok sering kali membutuhkan pendekatan menyeluruh, termasuk dukungan lingkungan, pendampingan psikologis, dan strategi medis yang tepat.
Laporan: Lilis Anggraeni/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










