Akurat

Frekuensi Buang Air Kecil Meningkat, Kenali Penyebab dan Tandanya

Ratu Tiara | 19 Januari 2026, 13:56 WIB
Frekuensi Buang Air Kecil Meningkat, Kenali Penyebab dan Tandanya

AKURAT.CO Sering bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil kerap dianggap sepele.

Banyak orang mengaitkannya dengan kebiasaan minum air putih yang berlebihan atau efek cuaca dingin.

Dalam kondisi normal, orang dewasa umumnya buang air kecil sekitar empat hingga delapan kali dalam sehari. Angka ini bisa berbeda-beda, tergantung asupan cairan, aktivitas fisik, suhu lingkungan, hingga kondisi tubuh masing-masing.

Masalah mulai perlu dicermati ketika seseorang merasa ingin berkemih terus-menerus, bahkan saat cairan yang diminum tidak banyak, atau ketika dorongan tersebut disertai rasa tidak nyaman. Fenomena ini tidak berdiri sendiri.

Ada beragam faktor yang bisa memicu seseorang lebih sering buang air kecil, mulai dari reaksi alami tubuh hingga kondisi medis yang memerlukan perhatian khusus.

Baca Juga: Kenali Penyebab Sulit Buang Air Kecil, IDI Dompu Berikan Informasi Pengobatan yang Tepat

Mengapa Tubuh Bisa Lebih Sering Mengeluarkan Urine?

Secara biologis, ginjal bekerja menyaring darah dan membuang sisa metabolisme dalam bentuk urine. Proses ini sangat dipengaruhi oleh keseimbangan cairan dan suhu tubuh.

Saat cuaca dingin, misalnya, pembuluh darah cenderung menyempit sehingga aliran darah ke ginjal meningkat. Akibatnya, produksi urine pun bertambah.

Inilah sebabnya mengapa banyak orang merasa lebih sering kencing saat berada di ruangan ber-AC atau daerah bersuhu rendah. Kondisi ini umumnya masih tergolong normal selama tidak disertai keluhan lain.

Namun, di luar faktor lingkungan, sering buang air kecil juga bisa dipicu oleh gangguan pada saluran kemih.

Infeksi saluran kemih menjadi salah satu penyebab yang paling sering dijumpai.

Peradangan akibat infeksi membuat kandung kemih lebih sensitif, sehingga meski volume urine sedikit, dorongan untuk berkemih terasa kuat. Keluhan ini biasanya diiringi rasa perih, anyang-anyangan, atau nyeri di perut bagian bawah.

Ada pula kondisi yang dikenal sebagai kandung kemih overaktif. Pada situasi ini, otot kandung kemih berkontraksi sebelum waktunya, memunculkan rasa ingin kencing yang sulit ditahan.

Tak jarang, penderitanya harus terbangun beberapa kali di malam hari hanya untuk ke toilet.

Masalah pada ginjal juga tidak boleh diabaikan.

Batu ginjal atau infeksi ginjal dapat mengganggu aliran urine dan memicu frekuensi buang air kecil meningkat. Biasanya, kondisi ini disertai nyeri pinggang, urine keruh, hingga perubahan warna urine.

Peran Penyakit Sistemik dan Kondisi Khusus

Sering buang air kecil juga kerap menjadi tanda awal penyakit tertentu. Diabetes, misalnya, membuat tubuh berusaha membuang kelebihan gula darah melalui urine. Akibatnya, produksi urine meningkat dan penderita merasa cepat haus sekaligus sering kencing.

Pada pria, pembesaran prostat dapat menekan saluran kemih. Tekanan ini membuat kandung kemih tidak bisa kosong sepenuhnya, sehingga muncul keinginan berkemih berulang kali, terutama pada malam hari.

Sementara pada perempuan, kehamilan bisa meningkatkan frekuensi buang air kecil karena perubahan hormon dan tekanan rahim pada kandung kemih.

Faktor lain yang sering luput disadari adalah penggunaan obat-obatan tertentu.

Obat diuretik, yang biasa diresepkan untuk tekanan darah tinggi atau gangguan jantung, memang dirancang untuk meningkatkan pengeluaran cairan dari tubuh.

Dampaknya, frekuensi buang air kecil pun otomatis bertambah.

Baca Juga: Polisi Gelar Tes Urine di Terminal Gayatri, Satu Sopir Bus Positif Narkoba

Seperti Apa Ciri-ciri Urine yang Sehat?

Selain frekuensi, kondisi urine juga bisa menjadi petunjuk kesehatan tubuh. Urine yang sehat umumnya berwarna kuning muda hingga bening, tidak berbau menyengat, dan tidak menimbulkan rasa nyeri saat dikeluarkan.

Jika warna urine terlalu pekat, berbusa berlebihan, keruh, atau bahkan bercampur darah, kondisi tersebut patut diwaspadai.

Perubahan warna dan bau urine sering kali berkaitan dengan hidrasi, makanan, atau obat tertentu. Namun, jika perubahan itu berlangsung lama dan disertai sering buang air kecil, sebaiknya tidak diabaikan.

Kapan Harus Waspada dan Mencari Bantuan Medis?

Sering buang air kecil yang masih tergolong normal biasanya tidak mengganggu aktivitas dan tidak menimbulkan keluhan lain. Namun, bila kondisi ini berlangsung terus-menerus, disertai nyeri, demam, penurunan berat badan, atau gangguan tidur akibat sering terbangun di malam hari, pemeriksaan medis menjadi langkah yang bijak.

Penanganan sangat bergantung pada penyebabnya.

Ada kondisi yang cukup diatasi dengan perubahan gaya hidup, seperti mengatur waktu minum atau membatasi kafein. Namun, ada pula yang membutuhkan terapi medis khusus agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme cerdas untuk memberi sinyal ketika ada yang tidak seimbang.

Sering buang air kecil adalah salah satu sinyal yang patut didengarkan, bukan sekadar diabaikan.

Dengan memahami penyebabnya, mengenali ciri urine yang sehat, serta peka terhadap perubahan yang terjadi, seseorang bisa lebih cepat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatannya.

Mutiara MY (Magang) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R