Akurat

Apakah Anemia Berbahaya? Ini Penjelasan Lengkap Jenis, Penyebab, hingga Risikonya

Naufal Lanten | 16 Desember 2025, 19:38 WIB
Apakah Anemia Berbahaya? Ini Penjelasan Lengkap Jenis, Penyebab, hingga Risikonya
AKURAT.CO Apakah anemia berbahaya? Anemia sering dianggap sepele karena gejalanya mirip kelelahan biasa. Padahal, kondisi ini bisa menjadi sinyal gangguan kesehatan serius, bahkan berisiko mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan tepat. Lalu, sebenarnya apakah anemia berbahaya, dan kapan kondisi ini perlu diwaspadai?

Artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu anemia, jenis-jenisnya, penyebab, gejala, hingga berbagai risiko kesehatan yang bisa muncul jika anemia dibiarkan tanpa pengobatan.


Apa Itu Anemia dan Mengapa Tidak Boleh Dianggap Remeh?

Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah sehat atau kadar hemoglobin (Hb) dalam tubuh berada di bawah normal. Padahal, sel darah merah berperan penting dalam mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Ketika oksigen tidak tercukupi, organ-organ vital tidak dapat bekerja secara optimal.

Inilah alasan mengapa penderita anemia sering merasa lemas, cepat lelah, pusing, hingga sulit berkonsentrasi. Dalam kondisi tertentu, anemia bisa bersifat sementara, tetapi pada kasus lain dapat berlangsung jangka panjang dan berbahaya.

Tidak semua anemia bisa diatasi hanya dengan minum teh manis hangat atau sekadar makan. Setiap jenis anemia memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda.


Kapan Anemia Dikatakan Berbahaya?

Anemia menjadi berbahaya ketika kadar hemoglobin turun jauh di bawah batas normal atau ketika anemia merupakan tanda dari penyakit serius. Secara umum, kadar Hb di bawah 8 g/dL sudah termasuk anemia berat (anemia gravis).

Sebagai gambaran, berikut kisaran Hb normal:

  • Laki-laki dewasa: sekitar 13 g/dL

  • Wanita dewasa: sekitar 12 g/dL

  • Ibu hamil: 11 g/dL

  • Bayi: 11 g/dL

  • Anak 1–6 tahun: 11,5 g/dL

  • Anak dan remaja 6–18 tahun: 11–12 g/dL

Semakin rendah kadar Hb, semakin besar risiko komplikasi yang dapat terjadi.


Jenis Anemia yang Berpotensi Mengancam Jiwa

Tidak semua anemia bersifat ringan. Beberapa jenis anemia berikut dikenal memiliki risiko serius jika tidak ditangani dengan baik.

Anemia Aplastik

Anemia aplastik terjadi ketika sumsum tulang mengalami kerusakan sehingga tubuh berhenti memproduksi sel darah baru. Kondisi ini bisa muncul tiba-tiba atau memburuk secara perlahan. Penyebabnya beragam, mulai dari pengobatan kanker, paparan bahan kimia beracun, infeksi virus, gangguan autoimun, hingga kehamilan. Dalam banyak kasus, penyebabnya tidak diketahui dan disebut sebagai anemia aplastik idiopatik.

Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal (PNH)

PNH adalah penyakit langka yang dapat mengancam nyawa. Kondisi ini menyebabkan penghancuran sel darah merah, pembentukan gumpalan darah, serta kerusakan sumsum tulang. Biasanya terdiagnosis pada usia dewasa, dan sering berkaitan dengan anemia aplastik.

Sindrom Myelodysplastic

Sindrom ini merupakan gangguan pada sumsum tulang yang membuat sel pembentuk darah menjadi abnormal. Akibatnya, tubuh kekurangan sel darah sehat. Kondisi ini tergolong kanker darah dan berpotensi berkembang menjadi leukemia myeloid akut.

Anemia Hemolitik

Pada anemia hemolitik, sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksinya. Kondisi ini bisa bersifat genetik atau didapat akibat infeksi, obat-obatan tertentu, gangguan autoimun, kanker darah, hingga reaksi transfusi.

Penyakit Sel Sabit

Penyakit sel sabit merupakan anemia bawaan yang menyebabkan sel darah merah berbentuk sabit, kaku, dan mudah menyumbat pembuluh darah kecil. Akibatnya, aliran darah dan suplai oksigen ke jaringan terganggu, memicu nyeri hebat, pembengkakan, dan infeksi berulang.

Thalassemia

Thalassemia adalah kelainan genetik yang memengaruhi produksi hemoglobin. Tanpa hemoglobin yang cukup, sel darah merah cepat rusak dan mati. Tingkat keparahannya bervariasi, dari ringan hingga berat, tergantung jumlah gen yang diwarisi.

Anemia akibat Malaria

Pada malaria, parasit menyerang sel darah merah dan menghancurkannya. Kondisi ini diperparah oleh faktor seperti kekurangan gizi dan gangguan sumsum tulang, sehingga anemia menjadi salah satu komplikasi utama malaria.


Penyebab Umum Anemia yang Perlu Diketahui

Secara garis besar, anemia terjadi karena tiga mekanisme utama: produksi sel darah merah yang menurun, kehilangan darah berlebihan, atau penghancuran sel darah merah yang terlalu cepat.

Beberapa penyebab anemia yang paling sering ditemui antara lain kekurangan zat besi, anemia pada kehamilan, perdarahan kronis atau akut, gangguan sumsum tulang, penyakit kronis seperti gagal ginjal atau kanker, hingga faktor genetik seperti anemia sel sabit dan thalassemia.


Gejala Anemia yang Sering Diabaikan

Gejala anemia tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Pada tahap awal, banyak orang tidak menyadarinya. Namun seiring kondisi memburuk, keluhan bisa semakin jelas, seperti:

  • Tubuh terasa lemas dan cepat lelah

  • Pusing atau sakit kepala

  • Mudah mengantuk, termasuk setelah makan

  • Kulit tampak pucat atau kekuningan

  • Jantung berdebar atau berdetak tidak teratur

  • Napas terasa pendek

  • Nyeri dada

  • Tangan dan kaki terasa dingin

Jika gejala-gejala ini berlangsung lama, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.


Bahaya Anemia Jika Tidak Diobati

Anemia yang dibiarkan tanpa penanganan bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius.

Gangguan Pendengaran

Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery menunjukkan bahwa anemia defisiensi zat besi berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan pendengaran. Salah satu jenis yang paling berbahaya adalah gangguan pendengaran sensorineural, yang umumnya bersifat permanen.

Risiko Kehamilan

Pada ibu hamil, anemia meningkatkan risiko komplikasi serius seperti kematian ibu, bayi lahir dengan berat badan rendah, infeksi, keguguran, hingga kelahiran prematur. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar hemoglobin sejak awal kehamilan sangat penting.

Penyakit Jantung

Anemia membuat jantung bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan aritmia, pembesaran jantung, hingga gagal jantung.

Depresi

Beberapa jenis anemia, seperti anemia pernisiosa atau anemia defisiensi zat besi, dikaitkan dengan gangguan saraf dan peningkatan risiko depresi, termasuk depresi pascamelahirkan.

Gangguan Tumbuh Kembang Anak

Anemia kronis pada anak dapat menghambat perkembangan mental, kognitif, dan motorik. Zat besi berperan penting dalam perkembangan otak, sehingga kekurangannya berdampak besar pada masa depan anak.

Risiko Kematian

Pada kondisi ekstrem, anemia berat—terutama yang disebabkan oleh kelainan genetik atau perdarahan hebat—dapat berujung pada kematian jika tidak segera ditangani.


Apakah Anemia Bisa Dicegah?

Banyak kasus anemia sebenarnya dapat dicegah dengan langkah sederhana, seperti menjaga asupan nutrisi seimbang, mengonsumsi makanan kaya zat besi, vitamin B12, dan asam folat, serta menjalani gaya hidup aktif. Jika memiliki penyakit tertentu atau gejala yang mencurigakan, pemeriksaan kesehatan rutin sangat dianjurkan.


Kesimpulan: Jadi, Apakah Anemia Berbahaya?

Jawabannya, ya—anemia bisa berbahaya, tergantung pada jenis, penyebab, dan tingkat keparahannya. Anemia ringan mungkin hanya menimbulkan keluhan lelah, tetapi anemia berat atau yang disebabkan penyakit serius dapat memicu komplikasi jangka panjang hingga mengancam nyawa.

Mengenali gejala sejak dini dan memahami jenis anemia adalah langkah awal untuk mencegah dampak yang lebih buruk. Jika kamu merasa sering lemas, pucat, atau mudah pusing tanpa sebab jelas, jangan ragu untuk memeriksakan diri.

Kalau kamu tertarik membaca topik kesehatan lainnya atau ingin tahu update terbaru seputar dunia medis, pantau terus artikel informatif berikutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Kasus Anemia pada Perempuan Indonesia Tinggi, Kalbe Dorong Edukasi Pentingnya Suplemen Zat Besi Sejak Dini

Baca Juga: 23 Persen Balita Alami Anemia, Menteri PPPA Minta Orang Tua Perhatikan Asupan Zat Besi

FAQ

1. Apakah anemia berbahaya bagi kesehatan?

Anemia bisa berbahaya, tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Anemia ringan mungkin hanya menyebabkan lelah, tetapi anemia berat atau yang disebabkan penyakit serius dapat memicu komplikasi seperti gangguan jantung, masalah kehamilan, hingga risiko kematian jika tidak diobati.

2. Apakah anemia bisa menyebabkan kematian?

Ya, pada kondisi tertentu anemia dapat berakibat fatal. Anemia berat akibat perdarahan hebat, kelainan genetik seperti anemia sel sabit, atau gangguan sumsum tulang dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

3. Kapan anemia harus segera diperiksakan ke dokter?

Anemia perlu segera diperiksakan jika disertai gejala berat seperti pusing hebat, nyeri dada, napas pendek, jantung berdebar tidak teratur, atau tubuh sangat lemas hingga sulit beraktivitas. Pemeriksaan juga penting jika gejala berlangsung lama atau semakin memburuk.

4. Apakah semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi?

Tidak. Kekurangan zat besi memang penyebab anemia yang paling umum, tetapi anemia juga bisa disebabkan oleh perdarahan, penyakit kronis, gangguan sumsum tulang, infeksi, penyakit autoimun, hingga faktor genetik seperti thalassemia dan anemia sel sabit.

5. Apakah anemia bisa sembuh total?

Sebagian besar anemia dapat diatasi jika penyebabnya diketahui dan ditangani dengan benar. Anemia akibat kekurangan zat besi atau perdarahan biasanya bisa sembuh. Namun, anemia genetik atau akibat penyakit kronis umumnya memerlukan pengelolaan jangka panjang.

6. Apa tanda anemia sudah masuk kategori berat?

Anemia disebut berat jika kadar hemoglobin berada di bawah 8 g/dL. Pada kondisi ini, penderita biasanya mengalami kelelahan ekstrem, pucat, sesak napas, pusing berat, dan berisiko mengalami komplikasi serius.

7. Apakah anemia berbahaya bagi ibu hamil?

Anemia pada ibu hamil sangat berisiko. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kematian ibu, bayi lahir dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, infeksi, hingga keguguran jika tidak ditangani sejak dini.

8. Apakah anemia bisa memengaruhi fungsi jantung?

Ya. Anemia membuat jantung bekerja lebih keras untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan irama jantung, pembesaran jantung, hingga gagal jantung.

9. Apakah anemia bisa menyebabkan gangguan pendengaran?

Penelitian menunjukkan bahwa anemia defisiensi zat besi dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran, termasuk gangguan pendengaran sensorineural yang bersifat permanen akibat kerusakan sel telinga bagian dalam.

10. Bagaimana cara mencegah anemia sejak dini?

Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya zat besi, vitamin B12, dan asam folat, menjaga pola hidup sehat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama bagi kelompok berisiko.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.