AKURAT.CO Penyakit demam berdarah (DBD) dan tipes merupakan dua jenis penyakit yang cukup sering muncul di tengah masyarakat, terutama saat terjadi perubahan musim, seperti memasuki musim hujan.
Kondisi lingkungan yang lembap dan banyak genangan air menjadi faktor yang memicu peningkatan kasus kedua penyakit ini.
DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam tinggi mendadak dan gejala khas lainnya seperti nyeri otot atau ruam kemerahan di kulit.
Sementara itu, tipes atau typhoid fever disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Penularannya umumnya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Meski sama-sama diawali dengan demam, tipes memiliki gejala dan pola penyakit yang berbeda dari DBD, sehingga penting untuk mengenal perbedaannya agar penanganannya tepat.
Baca Juga: Soroti Penanganan DBD di Jakarta, DPRD: Fogging Baru Dilakukan Jika Sudah Ada Korban
Gejala Demam Berdarah (DBD)
Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Gejala umumnya meliputi demam tinggi, nyeri otot, hingga tanda-tanda perdarahan pada tubuh.
Berikut beberapa gejala umum DBD yang perlu diwaspadai:
1. Demam Tinggi Mendadak Suhu tubuh penderita bisa mencapai 40°C dan muncul secara tiba-tiba. Demam biasanya berlangsung selama 2–7 hari, seringkali tidak mereda meski sudah diberi obat penurun panas.
2. Sakit Kepala dan Nyeri Otot Penderita sering merasakan nyeri di sekitar dahi, belakang mata, serta di otot dan persendian. Rasa sakit ini biasanya meningkat setelah dua hari pertama demam.
3. Ruam Kemerahan pada Kulit Munculnya bintik atau ruam merah pada kulit terutama di wajah, dada, dan telapak tangan menjadi tanda khas DBD. Ini menunjukkan fase kritis yang harus diwaspadai.
4. Mual dan Tubuh Terasa Lemas Selain demam, penderita juga bisa mengalami mual, muntah, dan hilang nafsu makan. Kondisi ini membuat tubuh terasa sangat lemas dan tidak bertenaga.
5. Terjadi Perdarahan Jika sudah memasuki fase berat, DBD dapat menyebabkan perdarahan, seperti mimisan, gusi berdarah, atau bercak merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah kapiler.
Gejala Tipes (Typhoid Fever)
Berbeda dengan DBD yang disebabkan virus, tipes disebabkan oleh bakteri salmonella typhi.
Penularan umumnya terjadi melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi bakteri tersebut.
Bakteri kemudian masuk ke saluran pencernaan mulai dari mulut, lambung, hingga usus sebelum menyebar ke seluruh tubuh.
Baca Juga: Cara Mengatur Pola Makan untuk Percepat Sembuh dari Tipes
Berikut gejala tipes yang perlu diperhatikan:
1. Demam atau Suhu Tubuh Meningkat
Gejala paling umum tipes adalah demam tinggi bertahap yang bisa mencapai 40°C. Hal ini disebabkan oleh peradangan akibat infeksi bakteri salmonella typhi.
2. Sakit Kepala dan Pusing
Infeksi bakteri dapat memengaruhi sistem saraf, sehingga penderita sering merasa pusing dan nyeri kepala yang cukup mengganggu.
3. Sakit Perut dan Tidak Nyaman di Bagian Pencernaan
Nyeri perut biasanya terasa di bagian kiri bawah akibat infeksi pada usus halus. Beberapa penderita juga mengalami mual, muntah, bahkan perut kembung.
4. Diare atau Konstipasi (Sembelit)
Gangguan pencernaan umum terjadi pada penderita tipes.
Ada yang mengalami diare berkepanjangan, sementara sebagian lainnya justru mengalami sembelit. Kondisi ini tergantung pada respon tubuh terhadap infeksi.
5. Nafsu Makan Menurun
Penderita tipes sering kehilangan nafsu makan akibat rasa mual dan peradangan pada saluran pencernaan.
Mulut terasa pahit, perut terasa penuh, dan tubuh semakin lemah karena kekurangan asupan makanan.
Cara Membedakan Tipes dan DBD
1. Bintik atau Ruam Merah
Salah satu perbedaan paling mencolok antara tipes dan DBD bisa dilihat dari munculnya bintik merah di kulit.
Pada penderita DBD, bintik merah khas biasanya muncul di bawah permukaan kulit akibat pendarahan kapiler.
Ciri khasnya, bintik merah ini tidak hilang saat ditekan.
Selain itu, penderita DBD juga kerap mengalami mimisan atau pendarahan ringan pada gusi.
Sementara itu, bintik merah pada penderita tipes bukan disebabkan oleh pendarahan, melainkan akibat infeksi bakteri salmonella typhi.
Bintiknya juga tidak sebanyak pada kasus DBD dan biasanya muncul di area dada atau perut.
2. Waktu Kejadian
DBD termasuk penyakit musiman, umumnya meningkat saat musim hujan tiba.
Kondisi lingkungan yang lembap dan banyak genangan air menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
Sebaliknya, tipes bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun, karena penularannya lebih dipengaruhi oleh kebersihan makanan dan lingkungan, bukan oleh faktor cuaca.
3. Rasa Nyeri yang Muncul
Penderita DBD biasanya mengalami nyeri otot, sendi, dan tulang yang terasa hebat setelah demam muncul, disertai sakit kepala parah, mual, hingga muntah.
Sedangkan penderita tipes akan lebih sering mengalami gangguan pada sistem pencernaan, seperti sakit perut, diare, atau sembelit, karena penyakit ini menyerang saluran pencernaan.
4. Kemungkinan Terjadi Syok
Pada penderita DBD, syok atau kehilangan cairan secara drastis bisa terjadi jika tidak segera ditangani, dan kondisi ini bisa berbahaya.
Sementara itu, pada penderita tipes, syok jarang terjadi, kecuali bila penyakitnya sudah menimbulkan komplikasi serius.
Meski kedua penyakit tersebut gejalanya tampak mirip, pemeriksaan medis tetap dibutuhkan untuk memastikan diagnosis.
Pemeriksaan darah oleh dokter akan membantu menentukan apakah seseorang menderita DBD atau tipes, sehingga bisa diberikan penanganan yang tepat dan cepat.
Nadia Nur Anggraini (Magang)