Mengapa TBC Bisa Kambuh Meski Sudah Selesai Minum Obat? Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya

AKURAT.CO Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang membutuhkan pengobatan jangka panjang dan penanganan yang konsisten.
Banyak pasien yang berhasil sembuh setelah menjalani terapi selama enam bulan atau lebih. Namun, sebagian orang dapat mengalami kondisi di mana TBC muncul kembali setelah dinyatakan sembuh. Kondisi ini tentu membuat cemas, terutama karena TBC termasuk penyakit menular dan bisa menimbulkan komplikasi bila tidak ditangani dengan cepat.
Untuk menjawabnya, penting memahami bagaimana kekambuhan TBC terjadi, apa saja penyebabnya, serta langkah pencegahan agar infeksi tidak kembali.
Baca Juga: Tanda Awal TBC yang Sering Tidak Disadari
Penyebab TBC Bisa Kambuh Setelah Sembuh
Meskipun setiap kasus berbeda, ada beberapa faktor utama yang meningkatkan risiko kekambuhan TBC, seperti:
1. Ketidakpatuhan dalam Menjalani Pengobatan
Ketidakpatuhan merupakan salah satu penyebab paling umum dari kambuhnya TBC.
Terapi TBC membutuhkan durasi yang panjang, biasanya minimal enam bulan. Meskipun gejala seperti batuk dan demam sudah membaik, bakteri mycobacterium tuberculosis belum tentu hilang sepenuhnya. Pada kondisi ini, sebagian pasien merasa sudah sembuh lalu mulai melewatkan obat, menghentikan terapi sendiri, atau tidak lagi mengikuti jadwal kontrol.
Saat obat tidak diminum sesuai jadwal, kadar obat dalam tubuh menjadi tidak stabil dan tidak cukup kuat untuk membunuh semua bakteri.
Bakteri yang tersisa bisa masuk dalam fase “dormant” atau tidur, dan kembali aktif setelah beberapa waktu. Inilah yang memicu kondisi TBC kambuh.
Selain itu, ketidakpatuhan juga meningkatkan risiko terjadinya resistensi obat, yang membuat pengobatan berikutnya menjadi lebih sulit, lebih panjang, dan lebih mahal.
2. Sistem Imun yang Melemah
Daya tahan tubuh berperan besar dalam menjaga bakteri TBC tetap tidak aktif. Ketika sistem imun melemah, tubuh kehilangan kemampuan untuk menekan perkembangan bakteri yang mungkin masih tersisa.
Penurunan imun dapat terjadi pada berbagai kondisi, seperti stres kronis, kelelahan berat, infeksi ulang lainnya, hingga gaya hidup yang tidak sehat.
Pada pasien dengan penyakit tertentu seperti diabetes, HIV, atau malnutrisi, penurunan fungsi imun dapat terjadi lebih cepat dan lebih berat.
Penderita HIV, misalnya, memiliki risiko TBC berulang jauh lebih tinggi karena sistem kekebalan yang sangat lemah. Sementara pada pasien diabetes, kadar gula yang tidak terkontrol menurunkan kemampuan sel imun untuk melawan bakteri. Kondisi-kondisi ini dapat memicu bakteri TBC yang sebelumnya tidak aktif menjadi aktif kembali dan menyebabkan kekambuhan.
3. TBC Resisten Obat
Kambuhnya TBC juga dapat terjadi karena bakteri sudah mengalami resistensi terhadap obat.
Pada kasus MDR-TB (multi-drug resistant), bakteri resisten terhadap obat lini pertama seperti isoniazid dan rifampisin. Sementara pada XDR-TB (extensively drug resistant), resistensi bahkan terjadi terhadap obat lini kedua.
Resistensi ini biasanya muncul karena pengobatan yang tidak optimal, seperti dosis yang tidak tepat, kualitas obat yang rendah, atau ketidakpatuhan pasien. Akibatnya, meskipun pasien menjalani pengobatan hingga selesai, bakteri yang kebal tetap bertahan dan berkembang biak kembali.
TBC resisten obat tidak hanya lebih sulit diobati, tetapi juga memiliki risiko kekambuhan yang lebih tinggi dan durasi pengobatan yang lebih panjang, bisa mencapai 18–24 bulan.
4. Kerusakan Paru yang Berat atau Adanya Kavitas
Pada beberapa pasien, TBC dapat menyebabkan kerusakan struktur paru, seperti terbentuknya kavitas (rongga) atau jaringan parut.
Paru yang sudah rusak membuat bakteri lebih mudah bersembunyi di area yang sulit dijangkau oleh obat. Hal ini menyebabkan eradikasi bakteri tidak sepenuhnya tuntas meskipun terapi telah selesai.
Pasien yang memiliki kavitas cenderung memiliki jumlah bakteri yang lebih banyak saat infeksi aktif.
Semakin besar beban bakteri, semakin besar pula risiko bakteri bertahan dalam jumlah kecil setelah terapi.
Ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri-bakteri ini dapat kembali berkembang dan memicu kekambuhan.
5. Infeksi Ulang dari Lingkungan
Kambuhnya TBC tidak selalu berasal dari bakteri lama yang kembali aktif.
Pada daerah dengan angka penularan tinggi, seseorang dapat mengalami TBC kembali karena terinfeksi ulang dari orang lain. Infeksi ulang ini tidak selalu berarti pengobatan sebelumnya gagal justru menunjukkan bahwa lingkungan pasien masih memiliki risiko penularan tinggi.
Infeksi ulang lebih sering terjadi pada orang yang tinggal di area padat penduduk, ventilasi rumah buruk, atau sering berinteraksi dengan pasien TBC aktif tanpa pelindung yang memadai.
Orang yang daya tahan tubuhnya sedang turun juga lebih rentan tertular kembali meskipun sebelumnya sudah pernah menjalani terapi lengkap.
6. Faktor Gaya Hidup dan Lingkungan
Gaya hidup yang tidak sehat dapat memperburuk kondisi paru dan menurunkan imun.
Kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor terbesar yang meningkatkan risiko TBC kambuh, karena merokok merusak jaringan paru dan melemahkan sistem pertahanan lokal di saluran napas.
Konsumsi alkohol berlebihan juga dapat menurunkan daya tahan tubuh secara signifikan.
Lingkungan tempat tinggal yang padat, lembap, dan kurang ventilasi meningkatkan risiko paparan bakteri TBC.
Semakin sering seseorang berada dalam ruangan tertutup dengan sirkulasi udara buruk, semakin tinggi kemungkinan menghirup droplet yang mengandung bakteri TBC.
Baca Juga: Mendagri Minta Pemda Prioritaskan Penanganan TBC
Bagaimana Gejala TBC yang Kambuh Muncul?
Gejala TBC kambuh sering serupa dengan infeksi pertama, tetapi bisa muncul lebih cepat atau lebih berat.
Batuk lebih dari dua minggu, keringat malam, penurunan berat badan, dan demam ringan biasanya menjadi tanda awal.
Pada pasien dengan kerusakan paru parah, gejala berupa sesak napas atau nyeri dada bisa muncul lebih dominan.
Karena gejalanya sering dianggap sebagai flu atau kelelahan biasa, kekambuhan sering kali terlambat terdeteksi.
Padahal, deteksi dini sangat penting agar pengobatan cepat dimulai dan risiko penularan dapat ditekan.
Cara Mendiagnosis TBC yang Kambuh
Untuk memastikan apakah TBC benar-benar kambuh atau pasien mengalami infeksi ulang, dokter akan melakukan pemeriksaan seperti:
-
Uji dahak dan GeneXpert untuk mendeteksi bakteri serta resistensinya
-
Rontgen dada untuk melihat kondisi paru
-
CT-scan bila diperlukan untuk melihat kerusakan lebih detail
-
Pemeriksaan darah untuk menilai kondisi imun dan penyakit penyerta
Diagnosis yang tepat sangat penting agar pengobatan bisa disesuaikan, terutama bila terdapat resistensi obat.
Bagaimana Cara Mencegah TBC Kambuh?
Mencegah TBC kambuh membutuhkan kombinasi antara pengobatan yang tepat dan pola hidup sehat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan meliputi:
-
Patuh minum obat hingga dinyatakan selesai oleh dokter
-
Melakukan kontrol rutin
-
Menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan sehat dan istirahat cukup
-
Mengelola penyakit penyerta seperti diabetes
-
Menghindari paparan rokok dan alkohol
-
Memastikan ventilasi rumah baik untuk mencegah infeksi ulang
TBC bisa kambuh karena berbagai faktor, mulai dari ketidakpatuhan pengobatan, daya tahan tubuh menurun, resistensi obat, kerusakan paru, infeksi ulang, hingga faktor gaya hidup dan lingkungan.
Meskipun demikian, kekambuhan dapat dicegah dengan pengobatan yang tepat, pola hidup sehat, serta pemantauan rutin.
Bila gejala kembali muncul, segera temui dokter agar diagnosis dan penanganan dapat diberikan sedini mungkin.
Nadira Maia Arziki (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









