Akurat

Tanda Awal TBC yang Sering Tidak Disadari

Eko Krisyanto | 19 November 2025, 18:15 WIB
Tanda Awal TBC yang Sering Tidak Disadari

 

AKURAT.CO Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit infeksi paling berbahaya di dunia.

Termasuk di Indonesia yang selama bertahun-tahun masuk dalam negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi.

Meski pengobatannya tersedia dan tingkat kesembuhan cukup tinggi, banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi yang sudah parah. Penyebab utamanya adalah gejala awal TBC yang sering kali tidak dikenali, baik oleh penderita itu sendiri maupun oleh orang-orang di sekitarnya.

Pada tahap awal, TBC berkembang secara perlahan. Bakteri Mycobacterium tuberculosis memperbanyak diri dan menyebabkan peradangan tanpa gejala yang mencolok.

Itulah mengapa tanda-tanda awalnya sering dikira sebagai keluhan ringan seperti flu, masuk angin, stres, atau kecapekan.

Pemahaman yang kurang tentang gejala awal TBC membuat banyak orang menunda pemeriksaan, sehingga risiko penularan semakin besar dan kondisi tubuh semakin lemah.

Memahami tanda awal TBC adalah langkah penting untuk mendeteksi penyakit ini sedini mungkin.

Semakin cepat dikenali, semakin cepat pula pengobatan dimulai, dan pengobatan dini terbukti mampu mencegah komplikasi berat serta memutus rantai penularan.

Tanda Awal TBC yang Sering Tidak Disadari

1. Batuk Lebih dari Dua Minggu

Batuk kronis adalah gejala klasik TBC. Bakteri TBC menyerang jaringan paru-paru, menyebabkan peradangan yang terus-menerus memicu refleks batuk.

Pada awalnya, batuk mungkin hanya berupa batuk kering ringan atau batuk berdahak tipis. Banyak orang mengira ini hanya sisa flu atau alergi.

Namun, ketika batuk tidak membaik setelah dua minggu, bahkan setelah minum obat batuk, itu adalah peringatan serius. Pada fase yang lebih lanjut, dahak bisa bercampur darah akibat pembuluh darah halus di paru-paru yang rusak.

2. Kelelahan Kronis yang Tidak Jelas Penyebabnya

Tubuh penderita TBC bekerja ekstra untuk melawan infeksi. Ini menyebabkan energi terkuras bahkan ketika penderita tidak melakukan banyak aktivitas.

Kelelahan pada TBC berbeda dengan lelah biasa:
• berlangsung terus menerus,
• tidak membaik setelah istirahat,
• membuat penderitanya tampak loyo sepanjang hari.

Karena gejalanya tidak spesifik, banyak orang menghubungkannya dengan stres, kurang tidur, atau beban kerja.

3. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab

TBC mengubah banyak proses metabolisme tubuh. Peradangan kronis menyebabkan tubuh membakar lebih banyak energi, sementara nafsu makan menurun, sehingga tubuh mulai kehilangan massa lemak dan otot.

Penurunan berat badan yang terjadi perlahan-lahan sering dianggap sebagai perubahan pola makan atau aktivitas, padahal ini adalah salah satu tanda yang paling kuat pada infeksi TBC aktif.

4. Demam Rendah yang Hilang Timbul

Demam ringan, terutama pada sore atau malam hari, adalah ciri khas infeksi TBC. Bakteri memicu respon imun yang menyebabkan suhu tubuh naik sedikit.

Karena demamnya tidak tinggi, banyak orang mengabaikannya atau menganggapnya sebagai efek kelelahan.

Padahal, demam yang konsisten setiap hari adalah indikator bahwa ada infeksi laten di dalam tubuh.

5. Berkeringat di Malam Hari

Keringat malam pada TBC bersifat berlebihan, hingga pakaian atau seprai bisa basah.
Ini terjadi karena sistem imun memicu pelepasan zat kimia tertentu sebagai respons terhadap bakteri.

Banyak orang tidak mengaitkan keluhan ini dengan penyakit serius, karena mengira penyebabnya suhu ruangan panas, selimut tebal, atau hormon.

6. Nafsu Makan Menurun Drastis

Bakteri TBC dapat mengganggu hormon pengatur rasa lapar. Selain itu, tubuh yang sedang berjuang melawan infeksi kronis secara alami mengurangi keinginan makan.

Akibatnya, penderita bisa kehilangan minat pada makanan favorit sekalipun. Jika berlangsung lama, kondisi ini akan memperburuk penurunan berat badan.

7. Nyeri Dada atau Sesak Napas

Ketika bakteri semakin merusak jaringan paru-paru, rongga paru menjadi meradang.
Nyeri dada bisa dirasakan saat:
• menarik napas dalam
• batuk
• atau saat beraktivitas

Sesak napas muncul ketika kapasitas paru menurun atau ketika terjadi penumpukan cairan di rongga pleura (efusi pleura). Banyak orang salah mengira gejala ini sebagai asam lambung, kecemasan, atau kelelahan.

Mengapa Tanda-tanda Ini Sering Tidak Disadari?

• Perkembangan gejalanya lambat, sehingga tubuh seolah “menyesuaikan”.
• Mirip dengan penyakit ringan, seperti flu atau masuk angin.
• Minimnya pengetahuan masyarakat tentang gejala awal TBC.
• Stigma terhadap TBC, membuat orang takut memeriksakan diri dan memilih menunggu gejala parah muncul dulu.
• Pola hidup sibuk, sehingga keluhan ringan sering diabaikan.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Kamu sebaiknya segera melakukan pemeriksaan TBC jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, atau batuk disertai salah satu gejala pendukung seperti penurunan berat badan, keringat malam, juga demam ringan.

Pemeriksaan biasanya meliputi tes dahak, rontgen dada, tes cepat molekuler (TCM) yang dapat mendeteksi bakteri secara akurat. Semakin cepat diperiksa, semakin cepat pengobatan dimulai, dan pengobatan TBC memerlukan kedisiplinan minum obat selama minimal 6 bulan.

Laporan: Bunga Adinda/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK