AKURAT.CO Stres bukan hanya sekadar perasaan tertekan atau lelah karena beban hidup.
Di balik gejala emosionalnya, stres ternyata dapat memberi dampak nyata terhadap kesehatan tubuh, terutama jantung.
Banyak orang tidak menyadari bahwa tekanan psikologis yang terus-menerus bisa memengaruhi kerja sistem kardiovaskular dan bahkan memicu berbagai penyakit jantung serius.
Dilansir dari Mayo Clinic Healthcare, stres dapat memicu reaksi tubuh yang disebut fight or flight response. Reaksi alami yang membuat tubuh mengeluarkan hormon seperti adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan menyebabkan pembuluh darah menyempit.
Bila kondisi ini terjadi terlalu sering atau dalam jangka panjang, pembuluh darah bisa rusak dan memicu penyakit jantung.
Para ahli juga menekankan bahwa stres kronis tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga memengaruhi perilaku, seperti kebiasaan makan tidak sehat, merokok, dan kurang tidur, yang semuanya memperbesar risiko penyakit jantung.
Studi menunjukkan bahwa mereka yang mengalami stres berkepanjangan cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi, denyut jantung lebih cepat, dan risiko peradangan pembuluh darah meningkat.
Dampak ini bisa terjadi di mana saja, baik di tempat kerja, rumah, maupun lingkungan sosial yang penuh tekanan.
Jika stres tidak diatasi dengan baik, maka dalam jangka panjang dapat memperburuk kondisi jantung seseorang dan memicu serangan jantung mendadak.
Maka dari itu, penting untuk memahami bagaimana stres bisa memicu penyakit jantung serta cara mengendalikannya dengan tepat.
Tahapan Stres Bisa Memicu Penyakit Jantung
1. Aktivasi hormon stres
Ketika seseorang merasa tertekan, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Hormon ini berfungsi mempersiapkan tubuh menghadapi bahaya dengan meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
Jika stres terjadi terus-menerus, peningkatan ini menjadi tidak sehat dan memberi beban berlebih pada jantung.
2. Tekanan darah meningkat secara berulang
Stres kronis membuat tekanan darah naik berkali-kali, sehingga dinding pembuluh darah mengalami penebalan dan kehilangan elastisitasnya. Aliran darah menjadi tidak lancar dan risiko penyumbatan arteri meningkat.
3. Terjadi peradangan pembuluh darah
Reaksi hormon stres juga dapat memicu peradangan di pembuluh darah. Proses ini berperan besar dalam pembentukan plak kolesterol yang menyebabkan penyempitan arteri (atherosclerosis) salah satu penyebab utama serangan jantung dan stroke.
4. Gangguan aliran darah ke jantung
Stres berat, baik akut maupun kronis dapat mengurangi suplai darah ke otot jantung. Kondisi ini membuat jantung bekerja lebih keras dan menurunkan fungsinya, terutama pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung.
5. Perubahan perilaku tidak sehat akibat stres
Selain efek fisiologis, stres juga memengaruhi pola hidup seseorang. Orang yang stres sering kali mengabaikan pola makan sehat, kurang tidur, jarang berolahraga, dan cenderung merokok atau mengonsumsi alkohol. Semua kebiasaan ini memperburuk kondisi jantung dari waktu ke waktu.
Cara Menangani Stres agar Tidak Memicu Penyakit Jantung
1. Rutin berolahraga
Aktivitas fisik seperti jalan kaki, yoga, atau berenang membantu menurunkan hormon stres dan meningkatkan sirkulasi darah. Olahraga juga memperkuat jantung dan menjaga tekanan darah tetap stabil.
2. Terapkan teknik relaksasi
Meditasi, pernapasan dalam, atau latihan mindfulness dapat membantu menenangkan pikiran dan menurunkan kadar kortisol. Aktivitas sederhana seperti mendengarkan musik atau melakukan hobi juga efektif untuk mengurangi stres.
3. Jaga pola tidur yang cukup
Tidur yang cukup membantu tubuh memperbaiki diri dan menyeimbangkan sistem hormonal. Kurang tidur justru meningkatkan stres dan risiko hipertensi yang berdampak buruk pada jantung.
4. Konsumsi makanan bergizi
Asupan makanan kaya serat, buah, sayur, dan lemak sehat dapat menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol tetap normal. Hindari makanan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh karena dapat memperburuk kondisi jantung.
5. Hindari kebiasaan buruk
Batasi konsumsi alkohol dan berhenti merokok karena keduanya memperbesar risiko penyakit jantung. Kebiasaan buruk sering kali menjadi pelarian stres, padahal justru memperparah kondisi tubuh.
6. Bangun dukungan sosial
Berinteraksi dengan keluarga, teman, atau komunitas dapat membantu seseorang merasa lebih tenang dan tidak tertekan.
Dukungan emosional terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan menjaga kesehatan jantung tetap optimal.
Stres memang tak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi cara mengelolanya menentukan seberapa besar dampaknya terhadap jantung.
Stres yang tidak dikendalikan dapat memicu reaksi hormonal dan perilaku yang berujung pada gangguan jantung.
Kendalikan stres karena jantung sehat berawal dari pikiran yang tenang.