Insomnia saat Detoks Alkohol: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

AKURAT.CO Mengalami insomnia saat menjalani detoks alkohol adalah hal yang sangat umum. Ketika seseorang berhenti mengonsumsi alkohol, tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi baru tanpa zat tersebut.
Proses pemulihan ini sering memicu gangguan tidur seperti sulit tidur, sering terbangun, atau tidur tidak nyenyak. Kabar baiknya, kondisi ini dapat diatasi dengan cara yang sehat dan alami.
Mengapa Detoks Alkohol Menyebabkan Insomnia?
Dikutip dari Coastal Detox, insomnia merupakan salah satu gejala yang paling sering muncul selama fase detoks alkohol.
Hal ini terjadi karena tubuh sedang memulihkan keseimbangan alami setelah terbiasa dengan efek alkohol.
Alkohol bertindak sebagai depresan yang menekan aktivitas sistem saraf pusat sehingga membuat tubuh merasa tenang dan mengantuk.
Untuk menyeimbangkan efek tersebut, otak meningkatkan produksi zat kimia yang merangsang aktivitas seperti glutamat dan dopamin.
Saat konsumsi alkohol dihentikan, tubuh masih memproduksi zat perangsang tersebut dalam jumlah tinggi. Akibatnya, otak menjadi terlalu aktif, tubuh sulit rileks, dan muncul gangguan tidur—termasuk insomnia.
Baca Juga: Apa Peran Utama Uang dan Lembaga Keuangan dalam Sistem Perkonomian Masyarakat? Ini Penjelasannya!
Gejala Insomnia Saat Detoks Alkohol
Selama masa detoks, tubuh mengalami penyesuaian besar yang memengaruhi pola tidur. Beberapa gejala yang umum terjadi antara lain:
-
Sulit memulai tidur
-
Sering terbangun di malam hari
-
Mimpi intens dan terasa nyata
-
Bangun tidur dalam kondisi masih lelah
Reaksi ini merupakan bentuk adaptasi tubuh ketika tidak lagi mendapat efek sedatif dari alkohol.
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keparahan Insomnia
Menurut Parmer Lake Recovery, beberapa faktor yang memengaruhi berat ringannya insomnia saat detoks alkohol meliputi:
-
Riwayat konsumsi alkohol: semakin lama dan sering seseorang minum, semakin berat gejala tidur yang muncul.
-
Kondisi fisik: sakit atau tubuh tidak fit dapat memperburuk insomnia.
-
Kesehatan mental: stres, kecemasan, dan depresi membuat proses tidur semakin sulit.
-
Lingkungan: tempat tidur yang tidak nyaman atau bising menghambat pemulihan.
-
Dukungan sosial: kehadiran keluarga/teman yang suportif membantu mengurangi stres dan memperbaiki kualitas tidur.
Cara Mengatasi Insomnia saat Detoks Alkohol
Baca Juga: Bank Artha Graha Sosialisasikan Kredit Program Perumahan untuk Perkuat UMKM dan Properti
-
Tetapkan Pola Tidur yang Konsisten
Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari membantu tubuh membangun ritme alami.
Lakukan rutinitas menenangkan sebelum tidur seperti membaca, meditasi, atau mandi air hangat.
-
Jaga Aktivitas dan Pola Makan Seharian
Hindari kafein dan makanan berat menjelang tidur. Tetap aktif di siang hari melalui olahraga ringan agar tubuh lebih siap beristirahat di malam hari. -
Ciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman
Gunakan kasur dan bantal yang nyaman, atur pencahayaan lebih redup, dan jaga suhu ruangan tetap sejuk.Hindari penggunaan gadget sebelum tidur untuk mencegah gangguan hormon melatonin.
-
Rutin Berolahraga
Aktivitas fisik membantu tubuh tidur lebih cepat dan lelap, sekaligus meredakan stres yang sering memperburuk insomnia.
-
Pertimbangkan Terapi CBT-I
Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I) efektif untuk memperbaiki pola pikir dan kebiasaan yang mengganggu tidur, terutama bagi individu yang mengalami gangguan tidur akibat faktor mental dan emosional.
-
Lakukan Teknik Relaksasi
Teknik napas dalam, meditasi, atau relaksasi otot progresif dapat membantu menenangkan pikiran dan mempersiapkan tubuh untuk tidur.
-
Konsultasi dengan Tenaga Medis
Jika insomnia tidak membaik meski sudah mencoba berbagai cara, berkonsultasilah dengan dokter atau ahli tidur untuk penanganan lebih lanjut.
Insomnia saat detoks alkohol adalah kondisi yang umum dan terjadi karena tubuh sedang menyesuaikan diri tanpa efek sedatif dari alkohol.
Baca Juga: Harga Pesawat Airbus A400M yang Dibeli Prabowo, Ini Spesifikasi dan Keunggulannya
Meski terasa mengganggu, kondisi ini bersifat sementara dan bisa diatasi melalui pola tidur yang sehat, manajemen stres, olahraga, serta dukungan medis dan sosial.
Dengan pendekatan yang konsisten, kualitas tidur akan membaik seiring berjalannya proses pemulihan.
Laporan: Shera Amalia Ghaitsa/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










