Mengapa Cuaca Panas Bisa Tingkatkan Risiko Demam Berdarah? Begini Penjelasan Ilmiahnya!
Ratu Tiara | 23 Oktober 2025, 18:36 WIB

AKURAT.CO Musim panas sering kali identik dengan matahari terik dan aktivitas luar ruangan yang menyenangkan. Tetapi, di balik cuaca hangat yang tampak biasa, tersimpan ancaman kesehatan yang serius: meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD).
Cuaca panas tidak hanya memengaruhi kenyamanan hidup manusia, tetapi juga mengubah pola ekologi dan perilaku nyamuk penular virus dengue. Kondisi ini membuat penyakit DBD semakin mudah menyebar, terutama di daerah tropis seperti Indonesia.
Cuaca panas ternyata memiliki hubungan erat dengan meningkatnya kasus DBD di berbagai wilayah dunia.
Dilansir dari situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), nyamuk pembawa virus dengue berkembang biak lebih cepat pada suhu hangat, karena proses metamorfosis dari telur menjadi dewasa berlangsung lebih singkat dan masa hidup nyamuk menjadi lebih panjang.
Suhu tinggi juga mempercepat replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk sehingga penularan ke manusia terjadi dalam waktu lebih cepat. Kondisi ini telah diamati di berbagai kota di Indonesia ketika musim kemarau yang lebih panjang menyebabkan peningkatan suhu udara dan lonjakan kasus DBD serta menunjukkan bahwa perubahan iklim dan suhu ekstrem tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan masyarakat secara langsung.
Perubahan cuaca yang ekstrem membuat nyamuk lebih mudah berkembang biak di genangan air akibat curah hujan tak menentu.
Kelembapan tinggi dan peningkatan suhu menjadi kombinasi ideal bagi aedes aegypti, nyamuk pembawa virus dengue, untuk bertahan hidup dan memperluas area penyebarannya. Hal ini berdampak pada wilayah yang dulunya jarang mengalami kasus DBD kini mulai terjangkit karena populasi nyamuk yang terus meningkat.
Alasan mengapa cuaca panas bisa meningkatkan risiko demam berdarah
1. Siklus hidup nyamuk lebih cepat
Suhu hangat mempercepat perkembangan nyamuk aedes aegypti dari telur menjadi dewasa. Dalam kondisi normal, proses ini membutuhkan sekitar 10 hari, namun ketika suhu meningkat hingga di atas 30°C, nyamuk bisa mencapai fase dewasa hanya dalam 6–7 hari. Hal ini berarti populasi nyamuk meningkat lebih cepat dan risiko penularan semakin besar.
2. Virus dengue bereplikasi lebih cepat
Pada suhu yang lebih tinggi, virus dengue di dalam tubuh nyamuk berkembang dengan laju yang lebih cepat. Hal ini mengakibatkan nyamuk yang baru terinfeksi bisa menularkan virus ke manusia dalam waktu yang lebih singkat. Semakin cepat virus bereplikasi, semakin tinggi potensi terjadinya wabah di suatu wilayah.
3. Kelembapan memperpanjang umur nyamuk
Kelembapan tinggi yang sering menyertai cuaca panas memungkinkan nyamuk bertahan hidup lebih lama. Masa hidup yang panjang memberi kesempatan lebih besar bagi nyamuk untuk menggigit manusia berulang kali, sehingga memperbesar peluang penularan virus dengue di komunitas padat penduduk.
4. Lebih banyak habitat berkembang biak
Musim panas yang panjang sering kali diikuti dengan kekeringan, yang mendorong masyarakat menampung air di wadah terbuka. Wadah-wadah inilah yang menjadi tempat favorit nyamuk untuk bertelur. Selain itu curah hujan yang tidak menentu menciptakan genangan di sekitar rumah, memperluas area perkembangbiakan nyamuk.
Baca Juga: Demam Berdarah Juga Penyakit yang Belum Ada Obatnya, Waspada di Masa Pandemi COVID-19 Ini
5. Ekspansi geografis dan musim penularan yang lebih panjang
Suhu yang lebih hangat memungkinkan nyamuk aedes hidup di daerah yang sebelumnya terlalu dingin, bahkan di wilayah dataran tinggi. Hal ini memperpanjang musim penularan demam berdarah dan memperluas wilayah berisiko yang sudah diamati dalam laporan ilmiah yang menunjukkan peningkatan kasus global di berbagai negara tropis dan subtropis.
Cuaca panas adalah masalah tentang kenyamanan serta ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
Dengan pemahaman ilmiah tentang hubungan suhu tinggi dan penyebaran DBD, masyarakat diharapkan lebih waspada dan aktif melakukan tindakan pencegahan seperti menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, serta memantau kondisi cuaca dari BMKG.
Salsabilla Nur Wahdah (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









