Akurat

Begini Cara Dokter Menentukan Diagnosis Penyakit: Dari Wawancara hingga Tes Penunjang

Herry Supriyatna | 20 Oktober 2025, 23:50 WIB
Begini Cara Dokter Menentukan Diagnosis Penyakit: Dari Wawancara hingga Tes Penunjang

AKURAT.CO Dalam dunia medis, diagnosis merupakan langkah krusial untuk mengetahui penyakit yang diderita pasien sekaligus menentukan arah pengobatan yang tepat.

Diagnosis yang akurat membantu dokter memahami sumber keluhan dan memberikan penanganan sesuai kondisi pasien.

Sebaliknya, kesalahan diagnosis dapat membuat pengobatan tidak efektif, bahkan memperburuk kondisi kesehatan.

Lalu, bagaimana sebenarnya dokter menentukan diagnosis suatu penyakit?

Berikut tahapan penting yang dilakukan dokter sebelum menetapkan keputusan medis.

1. Wawancara Medis (Anamnesis): Menggali Cerita dari Pasien

Langkah pertama dalam menentukan diagnosis adalah anamnesis, yakni proses wawancara medis antara dokter dan pasien. Di tahap ini, dokter menggali informasi mendetail mengenai:

  • Keluhan utama: seperti demam, batuk, nyeri dada, atau pusing.

  • Riwayat kesehatan: apakah pasien pernah mengalami penyakit tertentu.

  • Riwayat keluarga: misalnya apakah ada keturunan diabetes, hipertensi, atau jantung.

  • Gaya hidup: pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan sebagainya.

Sebagai contoh, jika pasien mengeluh nyeri dada, dokter akan menanyakan kapan rasa nyeri muncul, seberapa lama berlangsung, dan apakah disertai sesak napas atau mual.

Baca Juga: GP Ansor Keluarkan Maklumat Bandung, Sebut Ada Gerakan Khusus Serang Kiai dan NU

Dari tahap ini, dokter mulai memperkirakan kemungkinan penyebab penyakit dan menentukan pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan.

2. Pemeriksaan Fisik: Mendeteksi Tanda-Tanda Klinis

Setelah wawancara, dokter melanjutkan dengan pemeriksaan fisik sesuai keluhan pasien. Pemeriksaan ini bisa mencakup:

  • Pemeriksaan umum: mengukur tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan berat badan.

  • Pemeriksaan organ spesifik: seperti mendengarkan detak jantung dan paru-paru dengan stetoskop, memeriksa perut, mata, atau kulit.

Hasil pemeriksaan fisik membantu dokter menemukan tanda klinis yang dapat memperkuat atau menyingkirkan dugaan penyakit tertentu. Misalnya, bunyi napas abnormal bisa mengarah ke infeksi paru-paru atau asma.

3. Pemeriksaan Penunjang: Memastikan dengan Bukti Medis

Jika hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik belum cukup jelas, dokter akan meminta pemeriksaan penunjang. Tujuannya untuk mendapatkan data objektif. Pemeriksaan ini bisa berupa:

  • Tes laboratorium: darah, urine, atau feses untuk mendeteksi infeksi, kadar gula, kolesterol, serta fungsi hati dan ginjal.

  • Pemeriksaan radiologi: seperti rontgen, USG, CT scan, atau MRI untuk melihat kondisi organ dalam tubuh.

  • Pemeriksaan elektrofisiologi: misalnya EKG (mendeteksi gangguan jantung) atau EEG (menganalisis aktivitas otak).

Hasil dari pemeriksaan ini menjadi dasar ilmiah bagi dokter untuk menegakkan diagnosis dengan tingkat akurasi yang tinggi.

4. Analisis dan Penegakan Diagnosis

Setelah semua data terkumpul, dokter akan menganalisis hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis akhir.
Analisis dilakukan berdasarkan standar medis dan kriteria klinis yang berlaku.

Jika masih ada keraguan, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan atau merujuk pasien ke dokter spesialisyang lebih berpengalaman di bidang terkait.

5. Menyusun Rencana Pengobatan yang Tepat

Begitu diagnosis ditegakkan, dokter akan menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya—termasuk penyebab, mekanisme terjadinya, dan langkah perawatan yang disarankan.
Rencana pengobatan dapat meliputi:

Baca Juga: Beri Catatan, Imparsial Desak Pemerintah Perbaiki Sektor Pertahanan

  • Pemberian obat-obatan.

  • Terapi fisik atau rehabilitasi.

  • Tindakan medis tertentu.

  • Saran perubahan gaya hidup (seperti diet dan olahraga).

Selain itu, dokter juga memberikan edukasi kesehatan agar pasien memahami penyakitnya dan mampu mencegah kekambuhan di masa depan.

Menentukan diagnosis bukan proses instan. Dokter harus menggabungkan pengetahuan medis, pengalaman klinis, dan hasil pemeriksaan ilmiah agar keputusan yang diambil benar-benar akurat.

Diagnosis yang tepat menjadi fondasi utama bagi pengobatan yang efektif, membantu pasien pulih lebih cepat dan mencegah komplikasi di masa mendatang.

Laporan: Vania Tri Yuniar/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.