Cara Menangani Anak Kejang: Penjelasan Lengkap, Praktis, dan Terpercaya

AKURAT.CO Ketika seorang anak mengalami kejang, banyak orang tua panik dan bingung harus berbuat apa. Padahal, cara penanganan yang tepat bisa menentukan keselamatan si kecil sekaligus membantu dokter dalam menentukan langkah lanjutan. Kejang pada anak, khususnya yang disebabkan demam, cukup sering terjadi. Data medis mencatat sekitar 2–5 persen anak pernah mengalaminya, terutama pada rentang usia enam bulan hingga lima tahun (NCBI).
Dalam artikel ini, kamu akan menemukan panduan lengkap tentang apa itu kejang pada anak, penyebabnya, langkah pertolongan pertama yang benar, tanda bahaya yang harus segera dibawa ke IGD, sampai panduan praktis untuk pencegahan dan perawatan jangka panjang. Semua penjelasan didukung sumber terpercaya seperti CDC, Epilepsy Foundation, Hopkins Medicine, hingga konsensus IDAI.
Apa Itu Kejang pada Anak?
Kejang pada anak terjadi ketika otak mengalami lonjakan aktivitas listrik abnormal sehingga tubuh menunjukkan gerakan tak terkendali, tatapan kosong, atau hilang kesadaran sementara. Jenis paling umum yang sering ditemui adalah kejang demam (febrile seizure), yaitu kejang yang muncul saat anak mengalami demam di atas 38°C tanpa ada tanda infeksi sistem saraf pusat.
Ada dua tipe penting yang perlu dikenali:
-
Simple febrile seizure: kejang bersifat umum, berlangsung singkat kurang dari 15 menit, dan hanya terjadi sekali dalam 24 jam. (Hopkins Medicine)
-
Complex febrile seizure: kejang berlangsung lebih lama dari 15 menit, bisa terjadi berulang dalam sehari, atau hanya mengenai sebagian tubuh (fokal). Kondisi ini membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Meskipun menakutkan, mayoritas anak dengan kejang demam sederhana memiliki prognosis baik dan tidak menimbulkan kerusakan otak jangka panjang (NCBI).
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab paling umum kejang pada anak adalah demam akibat infeksi, misalnya infeksi saluran pernapasan, flu, atau radang telinga. Selain itu, faktor genetik juga berperan—anak dengan riwayat keluarga yang pernah mengalami kejang lebih berisiko (PMC).
Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan kejang berulang atau berkembang menjadi epilepsi antara lain:
-
Usia onset yang lebih muda
-
Kejang kompleks (lama atau fokal)
-
Riwayat keluarga dengan epilepsi
-
Adanya gangguan neurologis sebelumnya
Meski demikian, risiko jangka panjang berkembang menjadi epilepsi tetap tergolong kecil pada sebagian besar anak (Hopkins Medicine).
Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang
Menghadapi anak kejang membutuhkan ketenangan. Berikut langkah praktis yang direkomendasikan CDC dan Epilepsy Foundation:
-
Catat waktu mulai kejang. Durasi sangat menentukan apakah perlu tindakan darurat.
-
Amankan lingkungan sekitar. Pindahkan benda keras atau tajam, dan baringkan anak di lantai dengan posisi miring untuk menjaga jalan napas tetap terbuka.
-
Jangan masukkan apa pun ke mulut. Termasuk sendok atau jari, karena bisa melukai gigi dan jalan napas.
-
Jangan menahan tubuh anak. Biarkan gerakan terjadi, cukup lindungi kepala dari benturan.
-
Amati pernapasan dan warna kulit. Jika setelah kejang berhenti anak tidak bernapas normal, segera lakukan resusitasi dasar (CPR) bila mampu, dan hubungi ambulans.
Kapan Harus ke IGD atau Panggil Ambulans?
Ada kondisi tertentu yang menandakan kejang sudah masuk kategori darurat dan perlu segera ditangani tenaga medis:
-
Kejang berlangsung lebih dari 5 menit (status epilepticus) (Epilepsy Foundation)
-
Kejang berulang tanpa anak sempat sadar di antaranya
-
Anak mengalami kesulitan bernapas, bibir kebiruan, atau cedera serius
-
Kejang pertama kali dalam hidup anak
-
Demam disertai kaku leher, mengantuk ekstrem, atau muncul ruam bercak merah (kemungkinan meningitis) (IDAI)
Di Indonesia, nomor darurat yang dapat dihubungi antara lain 118, 119, atau 112. Namun, sebaiknya orang tua juga menyimpan nomor IGD rumah sakit terdekat untuk antisipasi cepat (detikcom).
Penggunaan Obat Darurat di Rumah
Jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, dokter bisa meresepkan obat penolong (rescue medication) untuk digunakan di rumah. Obat yang biasa dipakai adalah benzodiazepin dalam bentuk diazepam rektal atau midazolam buccal/intranasal.
Penelitian menunjukkan obat-obat ini efektif menghentikan kejang sebelum bantuan medis datang (PMC). Namun, penggunaannya harus berdasarkan resep dan instruksi jelas dari dokter. Orang tua juga disarankan untuk meminta pelatihan cara pemberian dan menyusun “rencana aksi kejang” bersama dokter anak (childrensmercy.org).
Setelah Kejang Berhenti
Anak biasanya tampak mengantuk atau lelah setelah kejang. Biarkan ia beristirahat sambil tetap diawasi. Orang tua perlu mencatat detail kejadian, misalnya:
-
Lama kejang
-
Jenis gerakan (umum atau fokal)
-
Warna kulit (pucat/biru)
-
Apakah ada muntah atau demam
-
Waktu pemulihan kesadaran
Informasi ini akan sangat membantu dokter saat pemeriksaan lanjutan. Pada kejang demam sederhana, biasanya tidak perlu pemeriksaan EEG, CT, atau MRI segera, kecuali ada indikasi khusus (PubMed).
Pencegahan dan Perawatan Jangka Panjang
Banyak orang tua memberikan obat penurun panas (paracetamol/ibuprofen) untuk mencegah kejang berulang. Namun, penelitian menunjukkan antipiretik tidak terbukti efektif mencegah kejang demam, meskipun tetap bermanfaat untuk membuat anak lebih nyaman (Cochrane Library).
Penggunaan obat antikejang jangka panjang sebagai pencegahan biasanya tidak disarankan karena efek sampingnya. Dalam kasus tertentu dengan kejang sangat sering, dokter bisa mempertimbangkan terapi intermiten saat anak demam (PubMed).
Prognosis: Apa yang Bisa Diharapkan?
Secara umum, anak dengan kejang demam sederhana tumbuh sehat tanpa gangguan otak jangka panjang. Risiko berkembang menjadi epilepsi memang sedikit meningkat, terutama jika ada faktor risiko seperti kejang kompleks atau riwayat keluarga epilepsi.
Sebuah studi populasi panjang melaporkan risiko kumulatif epilepsi sekitar 6–7 persen pada kelompok anak dengan kejang demam (PubMed). Meski begitu, angka ini masih tergolong kecil, dan mayoritas anak tidak mengalami masalah serius di kemudian hari.
Kontroversi dan Tren Penelitian Terbaru
Dulu, semua anak dengan kejang demam dianjurkan menjalani pungsi lumbal untuk memastikan tidak ada meningitis. Namun, dengan berkembangnya vaksinasi, pedoman kini lebih selektif: LP hanya dilakukan bila ada kecurigaan klinis (PubMed, IDAI).
Selain itu, penggunaan midazolam intranasal semakin populer karena lebih mudah diberikan dibanding diazepam rektal, terutama saat darurat di rumah atau sekolah (PMC). Penelitian terbaru juga mulai menyoroti faktor genetik yang membuat sebagian anak lebih rentan terhadap kejang, meski penanganan akut tetap fokus pada keselamatan.
Kesimpulan
Menghadapi anak yang kejang memang menakutkan, tapi dengan pengetahuan yang tepat, orang tua bisa memberikan pertolongan pertama yang aman dan efektif. Ingat untuk tetap tenang, catat waktu kejang, amankan lingkungan, jangan memasukkan apa pun ke mulut anak, dan segera cari bantuan medis jika durasi kejang lebih dari lima menit atau muncul tanda bahaya lain.
Buatlah rencana aksi kejang bersama dokter dan pastikan semua pengasuh memahami langkah pertolongan pertama. Dengan begitu, kamu bisa lebih siap menghadapi kondisi ini dengan tenang.
Baca Juga: 7 Penyebab Kejang Pada Anak, Hati-Hati Infeksi Otak
Baca Juga: Cara Mengatasi Perut Kembung yang Ampuh dan Aman: Panduan Lengkap untuk Meredakan Gas Berlebih
FAQ
1. Apa yang harus dilakukan saat anak tiba-tiba kejang?
Tetap tenang, catat waktu mulai kejang, amankan lingkungan sekitar, baringkan anak di lantai dengan posisi miring, dan jangan masukkan apa pun ke mulutnya. Jika kejang lebih dari 5 menit, segera hubungi ambulans atau bawa ke IGD (CDC, Epilepsy Foundation).
2. Apakah anak kejang harus selalu dibawa ke rumah sakit?
Tidak semua kejang perlu ke IGD, terutama bila kejang berlangsung singkat (<15 menit) dan anak cepat pulih. Namun, segera bawa ke rumah sakit jika kejang pertama kali, berlangsung lebih dari 5 menit, berulang tanpa sadar di antaranya, atau ada tanda infeksi serius seperti kaku leher dan ruam (IDAI).
3. Benarkah obat penurun panas bisa mencegah kejang demam?
Obat antipiretik seperti paracetamol atau ibuprofen memang membantu menurunkan demam dan membuat anak nyaman, tetapi tidak terbukti mencegah kejang demam berulang (Cochrane Library).
4. Apakah kejang demam berbahaya bagi otak anak?
Mayoritas kejang demam sederhana tidak menyebabkan kerusakan otak jangka panjang. Prognosisnya baik, dan sebagian besar anak tumbuh normal. Risiko komplikasi meningkat bila kejang lama, berulang, atau ada kelainan neurologis sebelumnya (NCBI, PubMed).
5. Apa bedanya kejang demam sederhana dan kompleks?
-
Sederhana: kejang umum, berlangsung kurang dari 15 menit, hanya sekali dalam 24 jam.
-
Kompleks: berlangsung lebih dari 15 menit, terjadi berulang dalam sehari, atau hanya mengenai sebagian tubuh (Hopkins Medicine).
6. Kapan anak dengan kejang perlu obat darurat di rumah?
Dokter bisa meresepkan obat penolong seperti diazepam rektal atau midazolam intranasal untuk anak dengan riwayat kejang lama. Obat ini hanya boleh diberikan sesuai instruksi dokter dan menjadi bagian dari “rencana aksi kejang” (PMC, childrensmercy.org).
7. Apakah anak yang pernah kejang demam pasti akan kena epilepsi?
Tidak. Risiko epilepsi pada anak dengan riwayat kejang demam memang sedikit meningkat, tetapi tetap relatif kecil. Studi jangka panjang mencatat sekitar 6–7 persen anak dengan kejang demam berkembang menjadi epilepsi, terutama bila ada faktor risiko tambahan (PubMed).
8. Apa yang tidak boleh dilakukan saat anak kejang?
Jangan menahan tubuh anak secara paksa, jangan memasukkan benda ke mulut, dan jangan memberi minum atau obat oral saat kejang masih berlangsung (CDC, Epilepsy Foundation).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









