Akurat

Mengapa Perempuan Jadi Lebih Sensitif Saat Menstruasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Herry Supriyatna | 20 September 2025, 23:04 WIB
Mengapa Perempuan Jadi Lebih Sensitif Saat Menstruasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

AKURAT.CO Menstruasi bukan hanya tentang perubahan fisik, tetapi juga perubahan emosional yang sering kali terasa cukup signifikan.

Banyak perempuan merasa lebih mudah tersinggung, sedih, atau bahkan menangis tanpa alasan jelas. Kondisi ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan ada penjelasan ilmiah yang mendasarinya.

Dikutip dari Healthline, perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron setelah ovulasi berperan besar dalam fluktuasi emosi.

Kedua hormon ini mengalami penurunan drastis menjelang menstruasi, yang kemudian memengaruhi kadar serotonin di otak.

Serotonin dikenal sebagai “hormon bahagia” karena mengatur suasana hati, tidur, dan rasa nyaman.

Ketika kadarnya menurun, tubuh menjadi lebih rentan terhadap perasaan cemas, sedih, dan mudah marah. Inilah sebabnya banyak perempuan merasa lebih emosional menjelang atau saat menstruasi.

Perubahan suasana hati biasanya muncul pada fase luteal, yaitu periode setelah ovulasi hingga menstruasi dimulai.

Baca Juga: CISDI Minta Pemerintah Perkuat Regulasi dan Pengawasan Program MBG

Pada fase ini, penurunan hormon memengaruhi pusat pengatur emosi di otak. Akibatnya, perempuan bisa merasa mudah marah, cepat lelah, atau kehilangan semangat.

Keluhan ini sering hadir bersamaan dengan gejala fisik, seperti kram perut, sakit kepala, dan gangguan tidur, sehingga memperburuk suasana hati.

Alasan Perempuan Jadi Lebih Sensitif Saat Menstruasi

  1. Fluktuasi Hormon

    Penurunan estrogen dan progesteron membuat suasana hati berubah drastis. Estrogen yang biasanya membantu meningkatkan serotonin menjadi berkurang, sehingga perempuan lebih rentan merasa sedih, cemas, atau mudah marah.

  2. Turunnya Serotonin

    Rendahnya serotonin berdampak pada perasaan gelisah, lelah, hingga sulit tidur. Hal ini menjelaskan mengapa perempuan sering merasa sensitif atau menangis tanpa alasan jelas selama menstruasi.

  3. Gangguan Tidur

    Kram perut atau rasa tidak nyaman saat menstruasi sering mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur sendiri sudah terbukti memperburuk suasana hati, sehingga emosi lebih mudah tersulut.

  4. Rasa Nyeri dan Ketidaknyamanan Fisik

    Nyeri menstruasi, sakit kepala, atau perut kembung dapat menguras energi dan menambah beban emosional. Rasa sakit yang berulang setiap bulan membuat tubuh lebih rentan terhadap stres.

  5. Faktor Psikologis dan Lingkungan

    Stres harian, beban kerja, atau kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar juga memperkuat gejala emosional. Kombinasi faktor biologis dan psikologis inilah yang membuat sensitivitas perempuan saat menstruasi semakin terasa.

Saat Sensitivitas Jadi Lebih Berat

Pada sebagian perempuan, gejala ini bisa berkembang lebih serius hingga disebut Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga berdampak pada hubungan sosial, produktivitas, hingga kesehatan mental.

Baca Juga: RUU BPIP Harus Jadi Pedoman Nyata, Bukan Sekadar Kelembagaan

Sensitivitas saat menstruasi adalah hal yang normal, namun bisa dikelola. Beberapa langkah yang bisa membantu antara lain:

  • Menjaga pola tidur dan mengurangi konsumsi kafein serta gula.

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang kaya serat dan magnesium.

  • Rutin berolahraga ringan untuk melancarkan peredaran darah dan meningkatkan endorfin.

  • Mengelola stres dengan relaksasi, meditasi, atau aktivitas yang menyenangkan.

  • Mencari dukungan dari orang terdekat agar tidak merasa sendirian menghadapi perubahan emosi.

Sensitivitas emosional saat menstruasi bukanlah kelemahan, melainkan reaksi alami tubuh akibat kombinasi faktor hormonal, kimia otak, rasa sakit fisik, hingga pengaruh lingkungan.

Dengan memahami penyebabnya, perempuan bisa lebih bijak dalam menghadapi perubahan suasana hati dan menemukan cara tepat untuk tetap nyaman selama periode menstruasi.

Laporan: Salsabilla Nur Wahdah/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.