Furosemide: Dosis, Cara Kerja Obat, dan Efek Samping

AKURAT Furosemide merupakan obat diuretik yang berfungsi mengatasi penumpukan cairan (edema) dari dalam tubuh melalui air mani pada penderita gagal jantung kongestif, penyakit hati, atau gangguan ginjal kronis.
Tidak hanya berfungsi sebagai obat diuretik, obat furosemide juga seringkali digunakan dalam mengobati hipertensi.
Obat furosemide seringkali digabung bersama obat diuretik lainnya, seperti amilorida, frumil, spironolakton, dan triamterene.
Baca Juga: Furosemide: Obat Penguras Cairan untuk Edema dan Gagal Ginjal, Ini Dosis Serta Efek Sampingnya
Cara Obat Furosemide Bekerja
Obat furosemide tersedia dalam bentuk tablet dan cairan injeksi di rumah sakit. Cara kerja obat ini adalah dengan meningkatkan jumlah urine dalam tubuh pasien untuk mengurangi pembengkakan dan gejala retensi cairan.
Umumnya, obat ini mulai bekerja sekitar satu jam setelah diminum, dan efeknya untuk peningkatan frekuensi buang air kecil dalam beberapa menit atau jam berikutnya.
Oleh karena itu, obat furosemide juga seringkali disebut sebagai pil air, karena cara kerjanya yang meningkatkan frekuensi buang air kecil.
Obat ini juga berfungsi dalam mengobati hipertensi dengan memecah kadar natrium dan mineral lainnya.
Dosis dan Cara Konsumsi Obat Furosemide
Dosis konsumsi furosemide memerlukan anjuran dari dokter yang disesuaikan berdasarkan tujuan, usia, serta kondisi pasien, sehingga tidak dapat dikonsumsi secara asal.
Bagi ibu hamil atau sedang menyusui, alangkah baiknya untuk konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu, karena obat ini dapat mengganggu pertumbuhan janin dan dapat meresap serta menghambat produksi ASI.
Untuk mengobati edema
Dosis dewasa: Dosisnya mencapai 20-80 mg sekali sehari. Namun, jika efeknya belum tercapai, maka obatnya dapat diminum kembali dengan dosis yang sama atau ditingkatkan sebanyak 20-40 mg, dengan jarak waktu 6-8 jam dari dosis sebelumnya.
Khusus untuk edema paru (pulmonary edema), dosisnya sebanyak 40 mg dan dilakukan dengan cara disuntik perlahan selama 1-2 menit. Jika dalam 1 jam masih belum ada respons, maka dosis dapat dinaikkan menjadi 80 mg.
Dosis anak-anak: Dosisnya akan menyesuaikan dengan berat badan pasien serta ketentuan dari dokter. Biasanya, dosis mencapai 2 mg/kg berat badan, tetapi dapat ditambah sebanyak 1-2 mg/kg berat badan jika tidak mendapat respons. Namun, dosis tidak akan mencapai lebih dari 6 mg/kg berat badan.
Untuk mengobati hipertensi
Dosis dewasa: Dosisnya mencapai 80 mg per hari. Namun, takaran minumnya dibagi menjadi dua kali sehari, menjadi 40 mg setiap dua kali sehari.
Biasanya orang-orang akan mengonsumsi obat furosemide pada pagi hari, dan akan mengonsumsi kembali pada siang hari jika anjuran konsumsinya menjadi dua kali sehari.
Sebaiknya hindari mengonsumsi furosemide setelah pukul 16.00 agar tidak mengganggu waktu tidur untuk membuang air kecil.
Baca Juga: Hipertensi, Diabetes, dan Masalah Gigi Dominasi Temuan Program Cek Kesehatan Gratis Kemenkes
Efek Samping Obat Furosemide
Penggunaan furosemide memiliki beberapa efek samping.
Umumnya, efek samping yang biasa dirasakan meliputi sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, diare, kehilangan nafsu makan, kesemutan, hingga mati rasa.
Walaupun begitu, segera hubungi bantuan medis jika mengalami tanda-tanda reaksi alergi atau reaksi kulit yang parah setelah konsumsi furosemide. Furosemide juga memiliki efek samping serius, seperti
- Pusing hingga ingin pingsan.
- Gangguan pendengaran, seperti telinga berdenging.
- Kejang atau kontraksi otot.
- Kulit pucat, mudah memar, pendarahan yang tidak biasa.
- Gula darah tinggi: rasa haus dan buang air kecil meningkat dan mulut kering.
- Masalah ginjal: pembengkakan, jarang buang air kecil, merasa lelah, sesak napas.
- Masalah hati atau pankreas.
- Tanda ketidakseimbangan elektrolit.
Dewi Triana R. (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









