7 Cara Mengatasi Ketidakpastian dan Merasa Lebih Terkendali, Menurut Psikolog

AKURAT.CO Inilah jawaban mengenai informasi 7 cara mengatasi ketidakpastian serta merasa lebih terkendali berdasarkan psikolog.
Rasa tidak pasti, ketidakmampuan untuk memegang kendali, serta absennya jawaban yang jelas sering kali menjadi bahan bakar alami bagi munculnya kecemasan.
Meskipun tidak menyenangkan, respons ini sebenarnya bagian dari sistem pertahanan biologis kita dibentuk untuk membantu, bukan menyakiti.
Baca Juga: Kata Psikolog Samanta Elsener Soal Korban Pelecehan Seksual: Sembuhnya Bisa Tahunan
Menurut psikolog klinis Dr. Amelia Aldao, ketakutan terhadap hal-hal yang belum jelas adalah reaksi yang sangat wajar.
“Ketika kita tak tahu apa yang akan terjadi, wajar jika rasa cemas muncul. Kecemasan itu seperti alarm internal yang mempersiapkan kita untuk segala kemungkinan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kecemasan bisa memperkuat kewaspadaan dan memicu insting bertahan hidup.
Setiap Orang Merespons Ketidakpastian Secara Berbeda
Semua orang pasti pernah merasa tidak yakin dengan masa depan, tapi intensitas respons terhadap ketidakpastian sangat bervariasi. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kecemasan tinggi biasanya lebih sulit menoleransi ketidakpastian.
Bagi mereka, bahkan acara sosial sederhana bisa memunculkan kekhawatiran yang berlebihan: Siapa yang akan datang? Apa yang harus saya pakai? Apakah saya akan terlihat aneh?
Sebaliknya, mereka yang cenderung santai mungkin tak ambil pusing: Nanti juga lihat sendiri. Jalanin aja.
Ada pula orang yang justru menikmati ketidakpastian sebagai bentuk petualangan: Saya penasaran apa yang akan terjadi!
Namun, reaksi kita baru dianggap bermasalah ketika tingkat kecemasan tak sebanding dengan situasi yang sebenarnya. Mengkhawatirkan hal yang di luar kendali secara terus-menerus bisa berdampak buruk, bukan hanya secara mental tetapi juga fisik.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
1. Saring Kekhawatiran: Mana yang Berguna, Mana yang Tidak
Tak semua rasa cemas buruk beberapa bahkan mendorong kita untuk bertindak. Tapi bila kekhawatiran membuat kita makin panik tanpa solusi, itu justru kontraproduktif.
Misalnya, memikirkan menu makan malam bisa jadi produktif, tapi begadang membayangkan kemungkinan terburuk besok tidak akan menolong. Kuncinya adalah menyadari kekhawatiran mana yang pantas diladeni dan mana yang harus dilepas.
2. Latih Kesadaran Penuh (Mindfulness)
Hadir sepenuhnya di momen sekarang dapat membungkam kebisingan pikiran tentang masa depan.
Anda bisa memulainya dari hal kecil merasakan tekstur makanan, meresapi suara di sekitar, atau sekadar menyadari napas Anda. Untuk hasil yang lebih dalam, praktik meditasi kesadaran sangat direkomendasikan.
3. Bangun Struktur Harian
Rutinitas bisa jadi jangkar yang menjaga kita tetap stabil saat segalanya terasa goyah. Entah itu dengan memasak, olahraga ringan, atau mengganti baju setiap pagi kegiatan kecil yang konsisten memberi rasa aman dan pencapaian.
Menyusun kalender kegiatan, baik untuk pekerjaan maupun hiburan, bisa membantu menjaga ritme dan semangat.
4. Temukan Hal yang Bisa Disyukuri
Mengalihkan fokus dari apa yang hilang ke apa yang masih ada dapat memperbaiki suasana hati. Rasa syukur mengingatkan bahwa di balik ketidakpastian, masih banyak hal yang layak dihargai.
5. Sisipkan Humor dalam Hidup
Tertawa bukan hanya obat, tapi juga perisai. Menonton komedi, membaca cuitan lucu, atau berbagi candaan dengan teman dapat menjaga pikiran dari terus-menerus melompat ke masa depan yang penuh tanda tanya.
6. Hindari Pelarian Sementara
Menghindari rasa tidak nyaman dengan alkohol, makanan berlebih, atau menutup mata terhadap realitas bukanlah solusi. Pelarian ini mungkin memberikan ketenangan sejenak, namun justru memperpanjang rasa terjebak dalam ketidakpastian.
7. Terima Bahwa Tidak Semua Bisa Dikendalikan
Semakin kita mencoba mengendalikan segala hal, semakin besar tekanan mental yang kita rasakan. Menerima bahwa ada hal-hal yang berada di luar kuasa kita tanpa menyerah adalah langkah penting menuju ketenangan. Konsumsi informasi seperlunya; terlalu banyak justru bisa memperburuk kecemasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









