Akurat

Kenali Penyebab Panas Dalam pada Ibu Hamil, PAFI Beri Solusi Pengobatan

Ratu Tiara | 30 April 2025, 13:43 WIB
Kenali Penyebab Panas Dalam pada Ibu Hamil, PAFI Beri Solusi Pengobatan

AKURAT.CO Berbicara tentang gangguan kesehatan pada ibu hamil, salah satunya yang sering dialami adalah panas dalam.

Panas dalam adalah kondisi umum yang dapat dialami oleh siapa saja, termasuk ibu hamil. Panas dalam selama kehamilan dapat menyebabkan sakit tenggorokan, sakit kepala, sulit menelan makanan hingga kehilangan nafsu makan. Prevalensi panas dalam di Indonesia mencapai 30%-80% selama kehamilan, dengan 2-3 dari 10 wanita hamil mengalaminya.

PAFI dengan alamat website pafikabupatenbangka.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan farmasi, menjaga etika serta standar praktik kefarmasian, mengembangkan profesionalisme serta riset di bidang farmasi.

Baca Juga: Kenali Penyebab Rahang Sakit Saat Mengunyah, PAFI Beri Solusi Pengobatan

Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab panas dalam selama kehamilan, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.

Apa saja faktor penyebab terjadinya panas dalam pada ibu hamil?

Secara umum, panas dalam pada ibu hamil dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di tenggorokan, sakit saat menelan, bibir pecah-pecah, sariawan, bau mulut, dan sensasi panas di dalam tubuh.

Ibu hamil lebih rentan mengalami panas dalam karena penurunan fungsi sistem imun selama kehamilan serta perubahan hormon yang mempengaruhi daya tahan tubuh dan menyebabkan iritasi tenggorokan. Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya panas dalam selama kehamilan yang perlu diperhatikan meliputi:

1. Adanya refluks asam lambung (GERD)

Selama kehamilan, hormon progesteron meningkat signifikan yang menyebabkan relaksasi otot sfingter esofagus bagian bawah, yaitu otot yang memisahkan lambung dan kerongkongan. Akibatnya, asam lambung mudah naik kembali ke kerongkongan (refluks), menyebabkan iritasi dan sensasi terbakar di tenggorokan dan dada. Selain itu, rahim yang membesar memberikan tekanan pada lambung sehingga memperparah kondisi ini. Refluks asam lambung ini merupakan penyebab utama panas dalam yang sering dialami ibu hamil.

2. Adanya infeksi virus dan bakteri

Ibu hamil mengalami penurunan fungsi sistem imun agar tubuh tidak menolak janin. Penurunan daya tahan tubuh ini membuat ibu hamil lebih rentan terhadap infeksi virus (seperti flu, pilek, dan virus penyebab radang tenggorokan) dan infeksi bakteri (seperti streptokokus). Infeksi ini menyebabkan peradangan pada tenggorokan, amandel, dan saluran pernapasan atas yang menimbulkan gejala panas dalam seperti sakit tenggorokan, demam, dan sulit menelan.

3. Alergi dan iritasi lingkungan

Paparan terhadap alergen seperti debu, serbuk sari, polusi udara, asap rokok, atau bahan kimia tertentu dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan tenggorokan. Iritasi ini memicu peradangan dan rasa panas di tenggorokan.

Ibu hamil yang memiliki riwayat alergi lebih rentan mengalami gejala ini, apalagi jika lingkungan sekitar tidak bersih atau banyak polusi.

4. Adanya ketegangan otot pada tenggorokan

Faktor selanjutnya yang menyebabkan panas dalam selama kehamilan adalah berbicara terlalu keras, berteriak, atau berbicara dalam waktu lama tanpa istirahat. Hal ini dapat menyebabkan otot-otot di tenggorokan menjadi tegang dan iritasi. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa panas dan tidak nyaman di tenggorokan.

5. Perubahan hormon selama kehamilan

Perubahan hormon yang sangat signifikan selama kehamilan tidak hanya mempengaruhi sistem imun, tetapi juga mempengaruhi produksi lendir dan kondisi membran mukosa di saluran pernapasan. Hal ini dapat menyebabkan tenggorokan menjadi lebih kering, mudah iritasi, dan rentan terhadap peradangan.

6. Kekurangan vitamin dan nutrisi

Ibu hamil yang mengalami kekurangan vitamin tertentu, terutama vitamin B12, asam folat, dan vitamin C, berisiko mengalami gangguan kesehatan mulut dan tenggorokan. Kekurangan vitamin-vitamin ini dapat menyebabkan sariawan, radang tenggorokan, dan memperlambat proses penyembuhan luka di mulut dan tenggorokan.

7. Stres dan kondisi fisik yang tidak stabil

Faktor terakhir yang menyebabkan panas dalam pada ibu hamil adalah stres. Stres yang dialami ibu hamil dapat mempengaruhi sistem imun dan memperburuk gejala panas dalam. Selain itu, kondisi fisik yang kurang fit, kelelahan, atau kurang tidur juga dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga memudahkan terjadinya infeksi dan peradangan.

Baca Juga: Jalani Puasa Lebih Nyaman Bebas Panas Dalam dan Sariawan dengan Kuldon

Apa saja obat yang tepat untuk mengobati panas dalam pada ibu hamil?

PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama panas dalam pada ibu hamil. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala panas dalam selama kehamilan serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:

1. Paracetamol

Paracetamol adalah obat yang paling direkomendasikan untuk mengatasi panas dalam selama kehamilan. Jika panas dalam disertai nyeri atau demam, paracetamol aman digunakan untuk meredakan keluhan tersebut. Dosis yang aman akan diresepkan langsung oleh apoteker.

2. Antibiotik

Jika panas dalam disebabkan oleh infeksi bakteri dan tidak membaik dengan pengobatan alami, apoteker dapat meresepkan antibiotik yang aman untuk ibu hamil seperti amoxicillin, cephalexin, atau penicillin. Penggunaan antibiotik harus sesuai resep dari apoteker untuk menghindari risiko bagi ibu dan janin.

Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi panas dalam selama kehamilan adalah lebih banyak mengonsumsi air putih serta minum air jahe hangat.

Memperbanyak minum air putih sangat penting untuk menjaga hidrasi dan meredakan iritasi tenggorokan. Selain itu, air jahe memiliki sifat anti-inflamasi, antibakteri, dan antioksidan yang membantu meredakan iritasi tenggorokan dan masalah pencernaan yang dapat memperparah panas dalam. Air jahe aman dikonsumsi selama kehamilan. 

Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.