Akurat

Kenali Mastitis pada Ibu Menyusui, IDI Bandung Barat Beri Informasi Pengobatan

Annisa Fadhilah | 13 Desember 2024, 13:00 WIB
Kenali Mastitis pada Ibu Menyusui, IDI Bandung Barat Beri Informasi Pengobatan

AKURAT.CO Berbicara tentang penyakit, salah satu penyakit yang banyak diderita bagi sebagian wanita di Indonesia adalah mastitis. Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang sering terjadi pada ibu menyusui, biasanya terjadi pada salah satu payudara, maupun kedua payudara. Mastitis dapat menyebabkan rasa nyeri dan kesulitan saat menyusui.

IDI Bandung Barat dengan alamat website idibandungbarat.org adalah cabang dari organisasi profesi kedokteran yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.

IDI menjelaskan bahwa mastitis dapat terjadi karena saluran susu tersumbat, yang dapat terjadi ketika payudara tidak dikosongkan dengan benar. IDI Bandung Barat berkomitmen untuk memberikan pendidikan dan konsultasi kesehatan gratis kepada individu yang mengalami gangguan kesehatan.

Baca Juga: Profil Orang Tua Kamala Harris, Ayah Ekonom - Ibu Peneliti Kanker Payudara

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bandung Barat saat ini adalah dr. Wishnu Pramulo Ady, M.H.Kes menjelaskan bahwa dirinya terlibat dalam penyelesaian berbagai isu yang berkaitan dengan etika medis dan pengawasan terhadap praktek dokter di wilayah tersebut. IDI Bandung Barat saat ini fokus untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait masalah penyakit mastitis serta pengobatan yang tepat bagi penderitanya.

Apa saja penyebab terjadinya mastitis pada ibu menyusui?

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bandung Barat menjelaskan mastitis pada ibu menyusui adalah kondisi peradangan pada jaringan payudara yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut adalah penyebab utama terjadinya mastitis meliputi:

1. Kelebihan produksi ASI

Produksi ASI yang berlebihan tanpa pengosongan yang memadai dapat menyebabkan penyumbatan saluran ASI, sehingga meningkatkan risiko mastitis 

2. Saluran ASI yang tersumbat

Gangguan aliran ASI yang menyebabkan penumpukan susu di kelenjar payudara adalah penyebab paling umum. Hal ini dapat terjadi akibat posisi mulut bayi yang tidak tepat saat menyusui, menyusui hanya dari satu sisi payudara, atau tidak mengosongkan payudara secara teratur 

3. Kekurangan asupan nutrisi

Mengatur dan mengonsumsi makanan bergizi sangat penting untuk menjaga kesehatan, terutama payudara, karena kekurangan nutrisi pada ibu menyusui dapat menyebabkan mastitis.

4. Penggunaan bra yang ketat

Penggunaan bra yang terlalu ketat, juga dapat berdampak buruk. Bra yang terlalu ketat dapat meningkatkan tekanan pada payudara dan mengganggu aliran ASI, meningkatkan risiko mastitis.

5. Luka pada puting susu 

Luka atau lecet pada puting dapat mempermudah bakteri untuk masuk dan menyebabkan infeksi. Ini seringkali disebabkan oleh teknik menyusui yang tidak benar atau penggunaan pompa ASI.

Baca Juga: Susu Formula sebagai Solusi: Ketika Pemberian ASI Eksklusif Tidak Memungkinkan

Apa saja obat yang direkomendasikan untuk mengatasi mastitis?

IDI Bandung Barat telah merangkum obat yang direkomendasikan untuk mengobati mastitis umumnya meliputi analgesik untuk meredakan nyeri dan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Berikut adalah rincian obat yang sering digunakan meliputi:

1. Paracetamol

Paracetamol adalah obat pertama untuk mengatasi gejala mastitis karena dapat menyebabkan demam dan rasa nyeri pada area sekitar susu. Digunakan untuk meredakan nyeri dan demam. Tersedia dalam berbagai merek seperti Sanmol, Panadol, dan Mirasic. Dosis umumnya adalah 500 mg, bisa dikonsumsi 1-2 tablet hingga 4 kali sehari.

2. Ibuprofen

Ibuprofen merupakan obat yang dapat mengatasi masalah peradangan pada mastitis. Obat ini termasuk dalam obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) yang efektif dalam mengurangi nyeri peradangan. Dosis yang dianjurkan bisa mencapai 1,6 gram per hari dan tidak terdeteksi dalam ASI, sehingga aman untuk ibu menyusui.

Diharapkan bagi Anda untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai pengobatan agar memastikan keamanan dan efektivitasnya sesuai dengan kondisi individu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.