Akurat

Gen Z Harus Tahu Tentang Doomscrolling: Apa Itu dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Shalli Syartiqa | 4 Desember 2024, 14:43 WIB
Gen Z Harus Tahu Tentang Doomscrolling: Apa Itu dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

AKURAT.CO Pada era digital yang serba terhubung ini, kita sering kali merasa tidak bisa lepas dari media sosial dan berita online.

Namun, bagi Gen Z, ada satu fenomena yang semakin sering muncul yakni doomscrolling.

Istilah ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi bagi banyak pengguna media sosial, terutama generasi muda, doomscrolling sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihentikan.

Apa sebenarnya doomscrolling itu, mengapa hal ini bisa menjadi masalah?

Apa Itu Doomscrolling?

Dikutip dari berbagai sumber, Doomscrolling merujuk pada kebiasaan menggulir (scrolling) media sosial atau membaca berita secara terus-menerus, terutama yang berkaitan dengan informasi negatif atau mengkhawatirkan seperti bencana alam, krisis politik, pandemi, atau berita tragis lainnya.

Meskipun informasi tersebut bisa sangat mengguncang dan mempengaruhi perasaan kita, banyak orang terutama Gen Z, merasa kesulitan untuk berhenti dan terus melanjutkan scroll tanpa henti.

Baca Juga: Bawaslu Sampaikan Catatan Penting dalam Rekapitulasi Pilkada Serentak 2024

Kebiasaan ini sangat umum terjadi di berbagai platform media sosial, seperti Twitter, Instagram, TikTok, dan bahkan Facebook.

Namun, seiring dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas konsumsi informasi negatif, dampaknya terhadap kesehatan mental menjadi semakin terasa.

Mengapa Gen Z Cenderung Melakukan Doomscrolling?

Gen Z yang dikenal dengan kecanggihan teknologi dan ketergantungan pada perangkat digital, merupakan generasi yang selalu terhubung dengan dunia maya.

Beberapa faktor yang membuat doomscrolling begitu mengikat bagi Gen Z antara lain.

1. Ketersediaan berita 24/7

Media sosial dan aplikasi berita memberi kita akses tak terbatas pada informasi.

Gen Z sering merasa perlu mengikuti berita terbaru, bahkan jika itu tentang hal-hal yang sangat negatif.

Keinginan untuk tetap update dengan apa yang terjadi di dunia seakan menjadi dorongan yang kuat untuk terus menggulirkan layar ponsel mereka.

 

2. FOMO (Fear of Missing Out)

Tak ingin ketinggalan informasi atau peristiwa penting, banyak dari Gen Z merasa tertekan untuk selalu mengikuti apa yang sedang dibicarakan orang lain, bahkan jika itu berita buruk.

FOMO ini bisa membuat seseorang lebih rentan terjebak dalam siklus doomscrolling.

 

3. Reaksi algoritma media sosial

Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter dirancang dengan algoritma yang menyesuaikan konten yang ditampilkan berdasarkan perilaku pengguna.

Ketika pengguna mulai mengklik atau berinteraksi dengan konten negatif, algoritma akan memperlihatkan lebih banyak konten serupa, memperkuat siklus doomscrolling.

Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental Gen Z

1. Meningkatkan kecemasan

Berita negatif yang terus-menerus dapat memicu kecemasan yang berlebihan.

Terus-menerus melihat informasi tentang pandemi, krisis sosial, atau bencana alam bisa membuat seseorang merasa dunia berada dalam keadaan darurat, yang akhirnya menambah stres.

 

 

2. Gangguan tidur

oomscrolling sebelum tidur bisa mengganggu kualitas tidur.

Paparan terhadap informasi negatif, terutama dari media sosial dapat meningkatkan kecemasan dan merangsang sistem saraf, membuat otak kesulitan untuk relaksasi dan tidur dengan tenang.

 

3. Meningkatkan perasaan kesepian

Meskipun berada dalam dunia maya yang penuh dengan interaksi sosial, doomscrolling justru bisa membuat seseorang merasa lebih kesepian.

Berfokus pada berita buruk dapat memperburuk perasaan terisolasi, terutama ketika tidak ada solusi nyata yang ditemukan.

 

4. Kehilangan perspektif positif

Terus-menerus mengonsumsi konten negatif membuat seseorang sulit melihat sisi positif dari kehidupan.

Perasaan pesimis atau tidak bahagia dapat muncul, mengaburkan perspektif terhadap hal-hal baik yang mungkin ada di sekitar mereka.

Dengan mengatur batasan dalam konsumsi media sosial dan lebih fokus pada konten positif, Anda bisa mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebiasaan ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.