Akurat

Temuan Baru SEANUTS II: Minum Susu Saat Sarapan Dukung Penuhi Asupan Mikronutrien Anak Indonesia

Wahyu SK | 8 November 2024, 21:15 WIB
Temuan Baru SEANUTS II: Minum Susu Saat Sarapan Dukung Penuhi Asupan Mikronutrien Anak Indonesia

AKURAT.CO Studi South East Asian Nutrition Surveys II (SEANUTS II) merilis temuan baru yang menunjukkan bahwa konsumsi susu saat sarapan meningkatkan asupan mikronutrien esensial bagi anak-anak.

SEANUTS II yang dirilis tahun 2022 merupakan kelanjutan dari SEANUTS I yang dilaksanakan pada 2013 di empat negara Asia Tenggara.
 
Isu tiga beban malnutrisi pada anak menjadi perhatian serius FrieslandCampina, penyelenggara SEANUTS.

Bersama akademisi dan pakar gizi di empat negara tempat berlangsungnya penelitian yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam, FrieslandCampina mempelajari tantangan pemenuhan gizi pada anak-anak.
 
Peneliti Utama SEANUTS II di Indonesia dan Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), mengatakan, SEANUTS telah mempelajari tantangan pemenuhan gizi pada anak-anak yang sangat penting bagi kesehatan dan tumbuh kembang yang optimal.

Pada SEANUTS II telah mempelajari tentang kebiasaan sarapan yang ternyata berperan besar dalam menyediakan nutrisi penting untuk pertumbuhan anak.

Di Indonesia, hanya 32 persen anak berusia dua hingga 12 tahun yang mengonsumsi sarapan memadai.

"Dengan asupan sarapan yang cukup terdiri dari menu yang beragam dan menurut temuan SEANUTS II, ditemukan bahwa konsumsi susu saat sarapan memiliki hubungan erat dengan peningkatan kualitas diet anak-anak. Secara umum, anak-anak yang mengonsumsi susu pada saat sarapan memiliki asupan mikronutrien esensial lebih tinggi, terutama untuk Kalsium dan Vitamin D," paparnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (8/11/2024).

Berdasarkan studi SEANUTS II, anak-anak di Indonesia ditemukan belum memenuhi rekomendasi kebutuhan rata-rata harian untuk Kalsium atau 78 persen dan Vitamin D (92 persen).

Sehingga menimbulkan risiko yang serius bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Studi ini juga menyoroti pentingnya konsumsi susu pada saat sarapan, yang dapat memenuhi asupan harian Vitamin D 4.4 kali dan Kalsium 2.6 kali lebih tinggi bagi anak-anak Indonesia.

Baca Juga: Susu Formula sebagai Solusi: Ketika Pemberian ASI Eksklusif Tidak Memungkinkan
 
Secara keseluruhan, SEANUTS II menunjukkan bahwa stunting dan anemia masih terjadi di Asia Tenggara. Terutama di kalangan anak-anak yang lebih muda.

Namun, di antara anak-anak yang lebih tua, terdapat prevalensi lebih tinggi untuk kelebihan berat badan dan obesitas.

Selain itu, sebanyak 27 persen anak-anak mengalami kekurangan Vitamin D, dengan 46 persen di antaranya terjadi di kelompok usia yang lebih tua.

Tiga beban malnutrisi ini menyoroti perlunya intervensi gizi yang ditargetkan dan program pendidikan.

Temuan tambahan dari SEANUTS II juga menunjukkan bahwa sarapan dengan produk susu dapat berperan dalam meningkatkan asupan mikronutrien harian anak-anak.
 
Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan, studi lanjutan dari SEANUTS II menekankan pentingnya konsumsi susu saat sarapan.

"Temuan SEANUTS II menunjukkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi produk susu saat sarapan memiliki asupan mikronutrien harian yang lebih tinggi secara signifikan untuk vitamin A, B12 dan D serta Kalsium. Dibandingkan anak-anak yang tidak mengonsumsi susu saat sarapan. Hal ini kemudian mengukuhkan kebaikan susu untuk membantu mengurangi beban gizi yang dihadapi anak-anak Indonesia," jelasnya.

Produk susu bernutrisi mengandung mikronutrien yang dibutuhkan untuk perkembangan otak dan sumber energi untuk anak-anak belajar dan beraktivitas.

"Saya percaya bahwa temuan studi ini menunjukkan peluang susu untuk meningkatkan status gizi anak-anak Indonesia, dimulai dari rumah. SEANUTS II dan temuannya memperkuat komitmen kami yaitu nourishing Indonesia to progress. Mewujudkan tujuan kami untuk menyediakan gizi lebih baik, sehingga membantu anak-anak Indonesia membangun kekuatan untuk menang," ujar Andrew.
 
SEANUTS II, diprakarsai FrieslandCampina bekerja sama dengan Universitas Indonesia, menyoroti persoalan tiga beban malnutrisi yang dialami oleh anak-anak Indonesia, yaitu kekurangan gizi, kelebihan gizi dan kekurangan mikronutrien.

Penelitian yang melibatkan 3.456 anak berusia 0,5 tahun hingga 12 tahun ini menunjukkan bahwa asupan nutrisi, khususnya Vitamin D dan Kalsium di Indonesia belum mencapai target angka yang direkomendasikan.

Hasil studi ini juga diharapkan dapat mempromosikan pentingnya diet seimbang dan gaya hidup aktif melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, swasta dan sekolah.
 
SEANUTS II juga mendapati bahwa prevalensi stunting pada anak di bawah usia lima tahun di Jawa-Sumatera mencapai 28,3 persen.

Artinya, tiga dari 10 anak berperawakan pendek.

Baca Juga: Pentingnya Peran Susu dalam Menurunkan Angka Stunting

Adapun, prevalensi anemia adalah 17,9 persen.

Sementara itu, 16 persen anak usia 7-12 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
 
Lebih dalam, SEANUTS II mendefinisikan sarapan sebagai makan pertama setelah tidur semalaman, dikonsumsi setelah bangun tidur dan sebelum pukul 12 siang, termasuk semua makanan yang dikonsumsi kecuali air putih, teh dan kopi tanpa susu.

Sementara, susu meliputi produk susu hewani baik cair atau bubuk, yoghurt dan keju dengan ketentuan satu porsi per hari.
 
Temuan SEANUTS II menjadi informasi tentang pentingnya sarapan ditambah minum susu.

Agar anak mendapat asupan mikronutrien esensial harian yang jauh lebih tinggi.

Temuan ini dapat menjadi rekomendasi dan dorongan bagi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, tenaga kesehatan profesional, sekolah-sekolah, industri dan utamanya untuk keluarga Indonesia.

Bahwa minum susu minimal satu kali sehari saat sarapan dapat membantu pemenuhan nutrisi anak yang penting bagi pertumbuhan.
 
Pemenuhan gizi pada anak-anak menjadi fokus pemerintah Indonesia dan merupakan salah satu aspek kunci bagi kemajuan bangsa, melalui pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat meningkatkan prestasi belajar dan produktivitas kerja.

Pembangunan SDM ini akan memutus siklus kemiskinan dan kesenjangan antargenerasi.
 
"FrieslandCampina melalui FFI akan terus meningkatkan pengetahuan tentang peningkatan gizi keluarga Indonesia dan bagaimana kebaikan susu dapat berkontribusi secara nyata. Melalui SEANUTS, kami bekerja sama dengan akademisi dan pakar gizi untuk mengenali tantangan terbesar dari beban gizi pada anak-anak. Selanjutnya, FFI berkolaborasi dengan berbagai kalangan masyarakat untuk menggelar edukasi dan literasi tentang kebaikan susu dan gaya hidup sehat," Andrew menerangkan.

Sejak tahun 2013, FFI menggelar Gerakan Nusantara dan menjangkau serta mengedukasi gizi ke lebih dari 5.000 SD, lebih dari 2,5 juta siswa dan 8.000 guru.

Frisian Flag Indonesia juga menyiapkan Gerakan Sekolah Sehat untuk meningkatkan literasi nutrisi dan kesehatan di sekolah-sekolah.

Hingga tahun 2024, program ini telah menjangkau 148 guru dari 30 sekolah di Surabaya, Sidoarjo, Kota Malang dan Kabupaten Malang, yang manfaatnya telah dirasakan 10 ribu siswa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK