PAFI Gunungkidul Bantu Masyarakat Kembangkan Tanaman Obat

AKURAT.CO Tumbuh-tumbuhan telah lama dikenal memiliki banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Selain berfungsi untuk menyerap karbondioksida dan untuk keindahan, banyak tanaman yang ternyata bermanfaat untuk kesehatan, baik dalam fungsinya untuk mencegah dari risiko terkena penyakit, maupun untuk mengobati.
Pada zaman dahulu, masyarakat telah menggunakan tumbuh-tumbuhan untuk kepentingan pencegahan atau penyembuhan dari penyakit. Sayangnya, pengetahuan tersebut perlahan-lahan hilang, di antaranya karena arus modernisasi.
Baca Juga: Apa Peran Hewan dalam Perkembangbiakan Tumbuhan Kelas 4?
Namun dalam beberapa waktu terakhir, kesadaran untuk kembali ke alam (back to nature) kembali tumbuh. Banyak warga yang mencoba kembali menggali pemanfaatan tanaman untuk kesehatan. Apalagi masih banyak daerah yang mengalami kesulitan dalam hal akses transportasi, sehingga kehadiran tanaman obat dirasakan perlu.
Melihat hal itu, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Gunungkidul berinisiatif untuk memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai pemanfaatan tanaman untuk kesehatan kepada masyarakat. Sosialisasi ini dilakukan dengan mengenalkan kepada masyarakat mengenai ciri-ciri tanaman yang dapat digunakan untuk kesehatan dan jenis tumbuhan yang dapat dikonsumsi.
PAFI Gunungkidul (pafigunungkidul.org) menyebutkan bahwa Kementerian Kesehatan juga telah menerbitkan buku mengenai tanaman obat di Indonesia. Melalui buku itu, masyarakat dapat mengenali jenis-jenis tanaman obat yang aman untuk dikonsumsi dan cara menggunakannya.
Ada ratusan bahkan ribuan jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai tanaman obat, baik yang berfungsi sebagai pencegah maupun untuk mendukung proses pengobatan dan penyembuhan.
PAFI Gunungkidul melihat bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami jenis dan pemakaian tanaman obat ini. Dan jikalau mereka sudah mengetahui, masih ada kekhawatiran mengenai dampak yang ditimbulkannya.
Oleh karena itu, jajaran pengurus dan anggota PAFI Gunungkidul turun ke lapangan untuk mengenalkan kepada masyarakat mengenai tanaman obat. Dalam edukasi dan sosialisasi ini, PAFI Gunungkidul juga menjelaskan kepada masyarakat kandungan zat-zat pada tanaman obat yang bermanfaat untuk kesehatan.
Edukasi dan sosialisasi ini dilakukan PAFI Gunungkidul bersama dengan stakeholder lainnya, seperti pemerintah setempat, rumah sakit dan puskesmas, industri farmasi, dokter dan perawat, pemuka masyarakat dan agama serta stakeholder lainnya. Sedangkan metode yang digunakan ada dua, yakni tatap muka (komunikasi langsung) dan melalui sarana media massa, seperti media massa elektronik, cetak dan internet.
Adapun beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan di antaranya adalah:
1. Temulawak
Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang pada tahun 2023 lalu telah ditetapkan sebagai tanaman obat unggulan. Tanaman yang memiliki nama ilmiah Curcuma zanthorrhiza ini sejak lama digunakan masyarakat untuk pengobatan.
Temulawak mengandung banyak zat yang bermanfaat bagi tubuh. Seperti zat besi, vitamin, kalsium, sodium dan asam folat. Selain itu, temulawak juga mengandung banyak zat aktif salah satunya kurkuminoid yang berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit hati seperti fatty liver, sirosis bahkan kanker hati.
2. Serai
Serai atau yang dikenal nama latinnya dengan Cymbopogon citratus ini juga merupakan tanaman obat. Tanaman yang dikenal sebagai rempah-rempah ini ternyata memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Beberapa manfaat yang sudah diketahui di antaranya adalah untuk mengatasi masuk angin dan perut kembung, mengatasi bakteri dan jamur, mengobati anemia, anti kanker, mengatasi diabetes, menurunkan kolesterol jahat dan masih banyak lagi.
3. Daun Sirih
Daun sirih merupakan salah satu jenis tanaman herbal. Tumbuhan yang memiliki nama latin Piper Betle L ini juga mengandung protein, yodium, sodium, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, asam nikotinat, flavonoid, fenol, tanin, saponin, polifenol, serta minyak atsiri.
Daun sirih sering digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit dan gangguan kesehatan. Seperti menyembuhkan luka, mengatasi gangguan pencernaan, menjaga kesehatan gigi dan gusi, mencegah penyakit kanker, mencegah infeksi yang disebabkan bakteri dan masih banyak lagi manfaat lainnya.
4. Kunyit
Tanaman yang memiliki nama latin Curcuma Longa Linn. syn. Curcuma domestica Val ini merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Tanaman ini juga digunakan sebagai rempah-rempah untuk masakan.
Kunyit mengandung senyawa kurkuminoid dan minyak atsiri. Senyawa ini mengandung khasiat sebagai antioksidan, antitumor, antikanker, antimikroba, dan anti racun. Dalam pengobatan tradisional, kunyit digunakan untuk mengatasi penyakit mikroba, gigitan serangga, cacar, sakit perut, gangguan pencernaan, gangguan hati, asma, gatal, penyakit kulit, dan nyeri.
5. Jahe
Tanaman yang memiliki nama latin Zingiber Officinale ini ternyata juga merupakan salah satu tumbuhan yang dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit. Bahkan penggunaannya diketahui telah berlangsung sangat lama, yakni sejak abad ke-8, yakni sebagai salah satu bahan pembuat jamu.
Jahe dipercaya mampu mengatasi berbagai penyakit seperti menyembuhkan penyakit pencernaan, meredakan nyeri sendi dan otot, mengurangi timbulnya alergi, meningkatkan kekebalan tubuh dan masih banyak lagi manfaatnya.
6. Jeruk Nipis
Tanaman yang memiliki nama latin Citrus Aurantiifolia ini dikenal sebagai salah satu bumbu dapur.
Ternyata jeruk nipis juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Jeruk nipis mengandung energi, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, zat besi, natrium, Vitamin B1 hingga B3, vitamin C, kalium, beta karoten dan masih banyak lagi.
Selain keenam tumbuhan tersebut, masih banyak lagi tanaman yang dapat digunakan sebagai tanaman obat oleh masyarakat.
PAFI Gunungkidul terus melakukan edukasi dan sosialisasi mengenai tanaman obat tersebut, agar masyarakat dapat mengetahui pemakaiannya secara aman. Sehingga tanaman obat ini dapat bekerja dengan maksimal saat digunakan.
PAFI Gunungkidul berharap melalui edukasi ini, maka pengetahuan masyarakat mengenai tanaman obat dapat semakin meningkat. Khususnya pada masyarakat yang berada di daerah pelosok yang mengalami kendala dalam akses transportasi.
Baca Juga: Pemuda Pecinta Seni Tradisi Gunungkidul Deklarasikan Gibran Cawapres 2024
Keberadaan ahli farmasi Indonesia telah ada sejak Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Para ahli farmasi telah berjuang bahu membahu dengan semua golongan masyarakat, untuk melenyapkan penjajahan dari muka bumi Indonesia, serta turut aktif mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemudian ikut serta dalam Pembangunan Masyarakat dan Negara.
Oleh karena itu, ahli farmasi Indonesia merupakan salah satu potensi pembangunan yang tidak pernah absen dalam perjuangan pembangunan begara. Sebagai salah satu potensi pembangunan sesuai fungsinya, ahli farmasi Indonesia disamping tugas keseharian, tetap ikut serta mempertinggi taraf kesejahteraan umum, khususnya dibidang kesehatan masyarakat dan farmasi.
Kemudian pada tanggal 13 Februari 1946, di Yogyakarta dibentuklah suatu organisasi yang dinamakan “Persatuan Ahli Farmasi Indonesia “ sebagai wadah untuk menghimpun semua tenaga yang bakti karyanya di bidang farmasi, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia selanjutnya disingkat “PAFI."
PAFI dan Pengurus Pusat PAFI berkedudukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila. PAFI adalah organisasi profesi yang bersifat kekaryaan dan pengabdian.
Adapun tujuan PAFI adalah :
- Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
- Mewujudkan Derajat Kesehatan yang Optimal bagi Masyarakat Indonesia.
- Mengembangkan dan meningkatkan Pembangunan Farmasi Indonesia.
- Meningkatkan Kesejahteraan Anggota.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









