Akurat

Model Mental Baru dalam Keselamatan Pasien, Mengubah Cara Pandang Pelayanan Kesehatan

Sultan Tanjung | 11 Maret 2024, 20:00 WIB
Model Mental Baru dalam Keselamatan Pasien, Mengubah Cara Pandang Pelayanan Kesehatan

AKURAT.CO Tahukah anda bahwa keselamatan pasien atau patient safety menjadi prioritas utama di rumah sakit?

Nah, biar pasien yang ditangani aman selama dirawat, kita harus ubah dulu model mental atau cara pandang kita tentang patient safety ini. Apa itu model mental?

Jadi, model mental itu kayak kerangka berpikir kita dalam memahami suatu hal.

Nah, artikel ini bakal bahas model mental baru yang perlu diterapkan agar patient safety di rumah sakit bisa tercapai. Siap?

1. Shared Mental Model: Satu Persepsi, Satu Tujuan!

Konsep pertama nih, shared mental model atau model mental bersama. Intinya, semua tim kesehatan, mulai dari dokter, perawat, bidan, hingga cleaning service harus punya persepsi dan pemahaman yang sama terkait:

  • Urutan tugas yang harus dilakukan
  • Pembagian tanggung jawab masing-masing
  • Rencana penanganan pasien

Biar bisa tercapai, kita harus komunikasi dengan efektif ya. Salah satu metodenya pake SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation).

Contohnya gini, misal ada pasien yang harus dapat obat dalam waktu tertentu.

Nah, dengan shared mental model, dokter, perawat, dan farmasi bakal sama-sama paham situasi pasien, riwayat kesehatannya, penilaian kondisi saat itu, dan rekomendasi tindakan selanjutnya.

Jadi, nggak akan ada miss komunikasi yang bisa membahayakan pasien.

2. Budaya Keselamatan Pasien: Jadi Prioritas Utama!

Selanjutnya, kita harus bangun budaya keselamatan pasien di rumah sakit kita. Budaya ini meliputi:

  • Tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan pasien
  • Memprioritaskan keselamatan pasien di atas segalanya
  • Keterbukaan dalam melaporkan insiden terkait keselamatan
  • Belajar dari insiden untuk mencegah terulang
  • Penyediaan sumber daya yang memadai untuk keselamatan pasien

Contohnya, kalau ada perawat yang lupa memberikan obat ke pasien, dia harus dengan terbuka melaporkan kejadian ini tanpa rasa takut dihukum.

Nah, dari laporan ini, kita bisa menganalisis akar masalahnya, apakah karena kelebihan beban kerja atau mungkin prosedur yang kurang jelas. Setelah itu, kita evaluasi dan perbaiki sistem agar insiden serupa tidak terulang.

Atau misal ada unit yang berhasil mencapai zero accident selama setahun. Nah, kita bisa apresiasi dengan reward agar memotivasi unit lain juga untuk terus meningkatkan budaya keselamatan pasien.

3. Keterlibatan dan Kepemimpinan Klinisi

Poin selanjutnya, keselamatan pasien nggak akan berjalan maksimal kalau nggak ada keterlibatan dan kepemimpinan dari para klinisi, yakni dokter dan perawat. Mereka harus berperan aktif dalam:

  • Perencanaan program keselamatan pasien
  • Pengambilan keputusan terkait keselamatan
  • Evaluasi penerapan keselamatan pasien

Kenapa harus klinisi? Karena merekalah yang paling paham proses klinis dan berinteraksi langsung dengan pasien.

Kesimpulannya, dengan mengadopsi model mental baru ini, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Mari bersama-sama berkomitmen untuk keselamatan pasien! 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.