Gangguan Mental Bukan Tren, Stop Mengklaim Diri Sendiri

AKURAT.CO Gangguan mental atau mental illness adalah kondisi kesehatan mental yang mengganggu pikiran, perasaan, perilaku atau fungsi sosial seseorang.
Ini dapat mengakibatkan perubahan yang signifikan dalam cara individu berpikir, merasa atau berperilaku. Dan dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik.
Ada berbagai jenis gangguan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan makan dan banyak lagi.
Setiap jenis gangguan mental memiliki gejala, penyebab, dan tingkat keparahan yang berbeda.
Baca Juga: Orangtua yang Sakit Mental Bisakah Mengurus Anak? Ini Penjelasan Ahli
Gangguan mental adalah masalah kesehatan yang serius dan dapat memerlukan perawatan medis, psikoterapi, dukungan sosial atau kombinasi dari berbagai pendekatan untuk mengatasi gejalanya.
Mental illness dianggap sebagai sebuah tren bahkan dengan bangganya mengklaim diri sendiri punya mental illness tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Padahal mental illness sendiri dapat sangat mengganggu dan tidak bisa dianggap remeh.
1. Anxiety Disorder
Anxiety Disorder bukan sekadar merasa stress atau cemas yang kemudian bisa diatasi dengan menghindari situasi yang disebabkan oleh stress.
Anxiety disorder kategori gangguan mental yang mencakup berbagai kondisi di mana individu mengalami tingkat kecemasan yang tidak proporsional atau berlebihan terhadap situasi atau perasaan tertentu.
Kecemasan dalam tingkat yang wajar adalah respons alami terhadap stres atau ancaman tetapi gangguan kecemasan melibatkan reaksi kecemasan yang berlebihan, kronis atau yang tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Kecemasan berlebihan yang terjadi hampir dialami setiap hari secara terus menerus.
Dampaknya, penderita akan sulit untuk mengendalikan kekhawatirannya sendiri, hingga membuat mereka menjadi lebih stres dan dapat mengganggu kemampuan mereka dalam beraktivitas.
2. Bipolar
Bipolar bukan hanya sekadar suasana hati yang berubah-ubah. Bipolar merupakan gangguan mental yang ditandai oleh fluktuasi ekstrem antara episode mania dan depresi.
Individu dengan gangguan bipolar mengalami perubahan suasana hati yang signifikan, yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk suasana hati, energi, pola tidur, pemikiran dan perilaku.
Perubahan suasana yang dialami oleh penderita bisa sangat ekstrem dan bisa terjadi selama beberapa hari, minggu, atau sampai beberapa bulan.
Pengalaman ini sangat melelahkan untuk penderita dan dalam beberapa kasus membutuhkan rawat inap singkat di rumah sakit.
Baca Juga: Hari Kesehatan Mental, Ini Tantangan Dan Cara Mengatasinya Di Era Digital
3. Depresi
Perasaan sedih atau duka yang mendalam akibat suatu peristiwa tidak langsung bida dikatakan depresi. Depresi bisa terjadi sebab perasaan keputusasaan, kesedihan, dan kelesuan yang tidak bisa dijelaskan.
Penderita ini rentan melakukan bunuh diri, karena perasaan yang dimiliki bisa berlangsung lama dan kadang muncul secara tiba-tiba, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan individu dalam beraktivitas sehari-hari.
Depresi adalah gangguan yang serius dan memerlukan perhatian medis dan melibatkan terapi psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku (CBT) serta penggunaan obat-obatan antidepresan dalam beberapa kasus.
4. NPD
NPD adalah singkatan dari Narcissistic Personality Disorder, dalam bahasa dikenal sebagai Gangguan Kepribadian Narsistik.
NPD bukan hanya perihal rasa percaya diri yang tinggi, gangguan ini adalah salah satu jenis gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola perilaku yang menonkolkan rasa percaya diri yang berlebihan, kebutuhan akan perhatian yang berlebihan, sampai kurangnya empati terhadap orang lain dan selalu ingin diakui sebagai individu yang paling istimewa.
Penderita ini sering kali memiliki pandangan diri yang sngat tinggi dan cenderung mencari perhatian serta mengharapkan perlakuan khusus yang dibarengi dengan sikap sombong atau meremhkan orang lain.
Baca Juga: 20 Link Twibbon Serta Ucapan Hari Kesehatan Mental Sedunia Bahasa Indonesia Dan Inggris
Sebelumnya, mental illness sering kali mendapat stigma negatif dalam kehidupan masyarakat, sehingga penderita kadang dikucilkan, dijauhi dalam lingkungan pertemanan, bahkan diperlakukan seperti orang gila.
Namun saat ini, mental illness justru dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk membenarkan perilaku dirinya sendiri, bahkan yang lebih parah menjadikannya sebagai lelucon.
Padahal tidak ada seorang pun yang menginginkan penyakit mental. Semua individu pasti ingin kesehatan dalam fisik dan mentalnya terjaga.
Maka, jangan asal menjadikan mental illness menjadi sebuah tren atau lelucon, di mana langsung mendiagnosis dirinya sendiri mempunyai depresi akut, bipolar dan lain sebagainya. (Ami Fatimatuz Zahro')
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









