5 Fakta Virus Nipah, Dapat Menular Lewat Makanan Yang Terkontaminasi

AKURAT.CO Hingga saat ini terdapat enam orang warga negara di wilayah Kerala India yang positif terkena virus nipah dan dua diantara harus meregang nyawa akibat terinfeksi virus tersebut.
Virus nipah yang menyebar di wilayah tersebut lantas mengakibatkan pemerintah wilayah setempat untuk menutup sekolah dan institusi pendidikan di distrik Kozhikode hingga 24 September.
Virus nipah yang melanda India lantas menjadi perhatian dunia yang masih dibayang-bayangi trauma covid-19.
Baca Juga: Apa Itu Virus Nipah Yang Melanda Kerala, India? Sekolah Dan Kantor Diisolasi
Diketahui, virus tersebut dapat mengancam Asia, terutama di wilayah yang terdapat interaksi dekat antara manusia dan kelelawar buah. Pasalnya, hewan liar merupakan inang alami virus itu.
Tidak hanya itu, virus nipah juga masuk daftar 10 besar patogen yang dapat menyebabkan keadaan darurat kesehatan masyarakat versi WHO.
5 Fakta Virus Nipah
Dirangkum dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (18/9/2023) berikut ini ini 5 fakta virus nipah yang perlu diketahui.
1. Pertama kali teridentifikasi di Malaysia
Virus Nipah pertama kali dikenali pada tahun 1999 saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia. Wabah yang terjadi juga berdampak pada Singapura.
Penyakit ini juga teridentifikasi di Bangladesh pada 2001 dan hampir setiap tahun menjadi wabah di negara tersebut. Kasusnya juga dilaporkan secara berkala di India bagian timur.
Baca Juga: KN Pulau Nipah-321 Bakamla Ikut IMDEX 2023 Di Singapura
Kelelawar buah dari famili Pteropodidae, terutama spesies yang termasuk dalam genus Pteropus, adalah inang alami virus Nipah.
Sejumlah wilayah selain Malaysia dan Bangladesh pun memiliki risiko terinfeksi karena bukti virus telah ditemukan di habitat alami spesies kelelawar Pteropus dan spesies kelelawar di sejumlah negara lainnya, termasuk Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand.
2. Dapat menular ke hewan lainnya
Wabah virus nipah pada babi dan hewan peliharaan lainnya, seperti kuda, kambing, domba, kucing, dan anjing, pertama kali dilaporkan selama wabah awal di Malaysia pada 1999.
Virus ini sangat menular pada babi. Babi pun dapat menularkan virus selama masa inkubasi yang berlangsung dari 4 hingga 14 hari.
Baca Juga: Virus Langya Masih Satu Kelompok dengan Virus Nipah dan Hendra
Babi yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, beberapa mengalami penyakit demam akut, sesak napas, dan gejala neurologis, seperti gemetaran, kedutan, dan kejang otot.
Umumnya, angka kematian rendah, kecuali pada anak babi.
Gejala ini tak jauh berbeda dari penyakit pernapasan dan neurologis babi lainnya. Jadi, virus Nipah perlu dicurigai jika babi mengalami batuk yang tak biasa atau jika ada kasus ensefalitis pada manusia.
3. Cara penularan
Selama wabah pertama yang dilaporkan di Malaysia, kebanyakan infeksi pada manusia disebabkan oleh kontak langsung dengan babi yang sakit atau jaringannya yang terkontaminasi.
Penularannya diperkirakan terjadi melalui paparan kotoran babi yang tak terlindungi, atau kontak langsung tanpa pelindung dengan jaringan hewan yang sakit.
Dalam wabah berikutnya di Bangladesh dan India, konsumsi buah-buahan atau produk buah-buahan (seperti jus kurma tanpa dimasak) yang terkontaminasi dengan urin atau air liur kelelawar buah yang terinfeksi diduga kuat sebagai sumber infeksi.
Penularan virus nipah dari manusia ke manusia juga dilaporkan di antara keluarga dan perawat pasien yang terinfeksi.
Selama wabah selanjutnya di Bangladesh dan India, virus nipah menyebar langsung dari manusia ke manusia melalui kontak dekat dengan sekresi serta ekskresi manusia.
4. Gejala
Infeksi virus nipah pada manusia berkisar dari tanpa gejala (asimtomatik) hingga infeksi saluran pernapasan (ringan sampai akut) dan ensefalitis, pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kejang dan kematian.
Orang yang terinfeksi awalnya mengalami gejala termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Ini dapat disertai dengan pusing, mengantuk, berkurangnya kesadaran, dan gangguan saraf yang mengindikasikan ensefalitis akut.
Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut.
Ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus yang parah dan berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Sementara itu, masa inkubasi virus diyakini berkisar 4 hingga 14 hari. Namun, ada juga satu kasus yang melaporkan masa inkubasi sampai 45 hari.
Tingkat kematian kasus diperkirakan 40 persen hingga 75 persen. Angka ini dapat bervariasi berdasarkan tingkat keparahan wabah yang tergantung pada kemampuan lokal dalam mengatasi epidemi dan manajemen klinis.
5. Pengobatan dan pencegahan
Saat ini belum ada obat atau vaksin khusus untuk infeksi virus nipah. Meski begitu, WHO telah mengidentifikasinya sebagai prioritas dalam Cetak Biru Penelitian dan Pengembangan WHO.
Berdasarkan pengalaman selama wabah nipah di peternakan babi pada 1999, pembersihan dan desinfeksi peternakan babi secara rutin dan menyeluruh mungkin efektif dalam mencegah infeksi. Jika dicurigai terjadi wabah, hewan itu harus segera dikarantina.
Pemusnahan hewan mungkin diperlukan untuk mengurangi risiko penularan ke manusia. Membatasi atau melarang perpindahan hewan dari peternakan yang terinfeksi ke daerah lain juga dapat mengurangi penyebaran penyakit.
Karena wabah virus Nipah melibatkan babi dan kelelawar buah, perlu dibangun sistem pengawasan kesehatan hewan atau satwa liar.
Selain itu, diperlukan peningkatan kesadaran tentang faktor risiko dan mendidik masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi paparan virus Nipah.
Sementara itu, risiko penularan melalui buah-buahan atau produk buah-buahan yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar buah dapat dicegah dengan mencuci hingga bersih dan mengupasnya sebelum dikonsumsi. Buah dengan tanda gigitan kelelawar juga harus dibuang.
Itulah fakta-fakta penting dari virus nipah. Semoga bermanfaat.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










