Mengenal Stroke Non Hemoragik dan Perbedaannya dengan Stroke Hemoragik
AKURAT.CO Stroke merupakan salah satu penyakit yang menyerang sistem saraf dan menjadi penyebab utama kecacatan serta kematian di dunia.
Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi.
Akibatnya, jaringan otak mengalami kerusakan yang dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan bicara, hingga penurunan kesadaran.
Salah satu jenis stroke yang paling sering terjadi adalah stroke non hemoragik. Jenis stroke ini berbeda dengan stroke hemoragik—yang kerap disebut stroke berat—karena memiliki penyebab, tingkat keparahan, serta penanganan medis yang berbeda.
Apa Itu Stroke Non Hemoragik?
Stroke non hemoragik adalah stroke yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah di otak, sehingga aliran darah ke jaringan otak terhambat.
Penyumbatan ini menyebabkan sel-sel otak tidak mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang cukup.
Jenis stroke ini terbagi menjadi dua, yaitu:
-
Stroke trombotik, terjadi akibat pembentukan gumpalan darah di pembuluh darah otak, biasanya karena penumpukan plak kolesterol (aterosklerosis).
-
Stroke embolik, terjadi ketika gumpalan darah berasal dari bagian tubuh lain, seperti jantung, lalu terbawa aliran darah ke otak dan menyumbat pembuluh darah.
Stroke non hemoragik merupakan jenis yang paling umum, mencakup sekitar 80–85 persen dari seluruh kasus stroke.
Baca Juga: 2.603 Hunian Tetap Korban Banjir Sumatera Dibangun dengan Dana Non-APBN
Gejala Stroke Non Hemoragik
Gejala stroke non hemoragik biasanya muncul secara mendadak dan bergantung pada bagian otak yang terkena. Beberapa tanda yang umum meliputi:
-
Kelemahan atau kelumpuhan mendadak pada satu sisi tubuh
-
Wajah tampak menurun di salah satu sisi
-
Kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan
-
Gangguan keseimbangan dan koordinasi
-
Pandangan kabur atau ganda
-
Sakit kepala mendadak tanpa sebab yang jelas
Gejala-gejala tersebut merupakan kondisi darurat medis. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah kerusakan otak yang lebih luas.
Apa Itu Stroke Hemoragik (Stroke Berat)?
Berbeda dengan stroke non hemoragik, stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak. Darah yang keluar akan menekan jaringan otak di sekitarnya dan menyebabkan kerusakan yang lebih parah.
Stroke hemoragik dibagi menjadi dua jenis:
-
Perdarahan intraserebral, yaitu perdarahan di dalam jaringan otak
-
Perdarahan subaraknoid, yaitu perdarahan di ruang antara otak dan selaput pelindungnya
Jenis stroke ini sering disebut stroke berat karena gejalanya muncul tiba-tiba, cepat memburuk, dan berisiko tinggi menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani.
Perbedaan Stroke Non Hemoragik dan Stroke Hemoragik
Beberapa perbedaan utama antara kedua jenis stroke tersebut antara lain:
Baca Juga: Junk Bond: Pengertian, Keuntungan, dan Risiko Investasi yang Perlu Diketahui
-
Penyebab
-
Stroke non hemoragik: penyumbatan aliran darah ke otak
-
Stroke hemoragik: pecahnya pembuluh darah di otak
-
-
Frekuensi
-
Stroke non hemoragik: paling umum (80–85 persen)
-
Stroke hemoragik: lebih jarang (15–20 persen)
-
-
Awal Gejala
-
Stroke non hemoragik: dapat muncul bertahap atau mendadak
-
Stroke hemoragik: biasanya mendadak disertai nyeri kepala hebat dan penurunan kesadaran
-
-
Tingkat Keparahan
-
Stroke non hemoragik: ringan hingga sedang
-
Stroke hemoragik: umumnya lebih berat dan berisiko fatal
-
-
Penanganan
-
Stroke non hemoragik: menggunakan obat penghancur gumpalan dan pengencer darah
-
Stroke hemoragik: fokus menghentikan perdarahan dan menurunkan tekanan di otak
-
-
Risiko Komplikasi
-
Stroke non hemoragik: gangguan saraf jangka panjang
-
Stroke hemoragik: pembengkakan otak, koma, hingga kematian
-
-
Proses Pemulihan
-
Stroke non hemoragik: relatif lebih cepat bila ditangani dini
-
Stroke hemoragik: lebih lama dan memerlukan perawatan intensif
-
Penanganan dan Pemulihan Stroke Non Hemoragik
Penanganan stroke non hemoragik harus dilakukan secepat mungkin, idealnya dalam 3–4,5 jam pertama sejak gejala muncul.
Tujuannya adalah mengembalikan aliran darah ke otak sebelum kerusakan menjadi permanen.
Penanganan yang umum meliputi:
-
Pemberian obat trombolitik untuk menghancurkan gumpalan darah
-
Penggunaan obat antiplatelet dan antikoagulan untuk mencegah sumbatan baru
-
Fisioterapi dan terapi wicara untuk memulihkan fungsi tubuh
-
Perubahan gaya hidup, seperti menjaga pola makan sehat, berhenti merokok, serta mengontrol tekanan darah dan kolesterol
Stroke merupakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.
Mengenali perbedaan antara stroke non hemoragik dan stroke hemoragik dapat membantu masyarakat memahami urgensi pertolongan medis dan mencegah dampak yang lebih fatal.
Penanganan dini menjadi kunci utama dalam meningkatkan peluang pemulihan dan kualitas hidup penderita stroke.
Baca Juga: Pramono Pastikan UMP Jakarta 2026 Naik, Ini Besarannya
Laporan: Bunga Adinda/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









